Aplikasi Kencan Kaum LGBT Didenda Rp165 M di Norwegia Karena Jual Data User

Rabu, 27 Januari 2021 - 21:25 WIB
loading...
Aplikasi Kencan Kaum LGBT Didenda Rp165 M di Norwegia Karena Jual Data User
Grindr diketahui memang punya rekam jejak kurang baik terkait upaya perusahaan menjaga keamanan privasi penggunanya.
NORWEGIA - Aplikasi Grindr di denda USD11,7 juta (Rp165 miliar) oleh Otoritas Perlindungan Data Norwegia. Pasalnya, aplikasi ini secara ilegal membagikan informasi pribadi tentang pengguna Grindr kepada pengiklan.

Kasus ini terjadi pada Januari 2020, di mana Dewan Konsumen Norwegia melayangkan tiga keluhan pada Grindr karena membagikan informasi pribadi pengguna ke pengiklan.

BACA JUGA: Gila, POCO Nekad Batalkan Ribuan Transaksi Pembelian POCO M3, Ada Apa?

Disebut bahwa salah satu pengiklan yang mendapatkan data pribadi pengguna dari Grindr adalah MoPub, perusahaan iklan seluler Twitter.



Penuntut menganggap informasi yang dibagikan ini berpotensi mengungkap orientasi seksual seseorang (pengguna Grindr) tanpa persetujuan mereka, Otoritas Perlindungan Data Norwegia pun mengambil tindakan terhadap Grindr atas praktik yang dilakukannya.

Selanjutnya Grindr memiliki waktu hingga 15 Februari untuk memberikan tanggapan atas keputusan Otoritas Perlindungan Data Norwegia.

“Kami terus meningkatkan praktik privasi kami dengan mempertimbangkan undang-undang dan peraturan privasi yang berkembang, dan berharap dapat memasuki dialog yang produktif dengan Otoritas Perlindungan Data Norwegia,” kata Bill Shafton, Wakil Presiden urusan bisnis dan hukum Grindr, dikutip dari laman The Verge, Rabu (27/1).



BACA JUGA: Ini Fitur dan Harga The Terrace, Smart TV 4K Samsung untuk Luar Ruangan

Grindr diketahui memang punya rekam jejak kurang baik terkait upaya perusahaan menjaga keamanan privasi penggunanya.

Aplikasi tersebut pernah kedapatan mengekspos status HIV pengguna ke dua perusahaan lain pada April 2018. Namun Grindr sudah menyebut telah menghentikan praktik ini.

Rekam jejak lainnya adalah adanya kerentanan parah yang diungkap pada Oktober 2020, di mana siapa pun yang mengetahui alamat email pengguna, bisa mengakses akun tersebut.
(dan)
preload video
Komentar Anda
TEKNO UPDATE