Update Internet Indonesia 2026: Pengguna Tembus 230 Juta, tapi Kecepatan Kayak Siput?
Rabu, 04 Februari 2026 - 09:50 WIB
loading...
A
A
A
Sementara pemerintah menargetkan kecepatan 80 Mbps untuk seluler dan 64 Mbps untuk fixed broadband pada akhir 2026, realita di lapangan menunjukkan kesenjangan yang lebar.
Untuk kategori internet rumah (fixed broadband), Indonesia berada di urutan ke-118 dunia dengan kecepatan hanya 44,38 Mbps.
Angka ini bak bumi dan langit jika dibandingkan dengan Singapura yang duduk di peringkat 1 dunia dengan kecepatan 410,06 Mbps.
Kesenjangan ini terasa makin ironis saat melihat data pertumbuhan pengguna. Laporan APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) semester I-2025 mencatat jumlah pengguna internet nasional mencapai 229,43 juta jiwa dengan tingkat penetrasi 80,66 persen.
Artinya, dari setiap 10 orang Indonesia, 8 di antaranya sudah terkoneksi ke dunia maya.
Dominasi smartphone sebagai alat akses utama (83,39 persen) mendorong penggunaan media sosial sebagai aktivitas nomor satu (24,8 persen). Platform video pendek seperti TikTok (35,17 persen) dan YouTube (23,76 persen) menjadi penyedot kuota terbesar, yang secara logis membutuhkan koneksi stabil dan cepat.
Untuk kategori internet rumah (fixed broadband), Indonesia berada di urutan ke-118 dunia dengan kecepatan hanya 44,38 Mbps.
Angka ini bak bumi dan langit jika dibandingkan dengan Singapura yang duduk di peringkat 1 dunia dengan kecepatan 410,06 Mbps.
Kesenjangan ini terasa makin ironis saat melihat data pertumbuhan pengguna. Laporan APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) semester I-2025 mencatat jumlah pengguna internet nasional mencapai 229,43 juta jiwa dengan tingkat penetrasi 80,66 persen.
Artinya, dari setiap 10 orang Indonesia, 8 di antaranya sudah terkoneksi ke dunia maya.
Dominasi Gen Z di Pengguna Internet
Pasar digital Indonesia didominasi oleh anak muda dengan rincian Generasi Z sebesar 25,54 persen, Milenial 25,17 persen, dan Generasi Alpha 23,19 persen.Dominasi smartphone sebagai alat akses utama (83,39 persen) mendorong penggunaan media sosial sebagai aktivitas nomor satu (24,8 persen). Platform video pendek seperti TikTok (35,17 persen) dan YouTube (23,76 persen) menjadi penyedot kuota terbesar, yang secara logis membutuhkan koneksi stabil dan cepat.
Lihat Juga :