Signify Resmikan Pabrik Luminer Cetak 3D dengan Teknologi Ramah Lingkungan
Rabu, 27 Juli 2022 - 14:40 WIB
Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ardi Stoios- Braken, Deputy Head of Mission dan Head of Economic Affairs, Embassy of the Kingdom of the Netherlands, dan Roosdinal Salim, Anggota Badan Riset & Teknologi untuk Lingkungan Hidup, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia.
Pabrik luminer cetak 3D Signify memproduksi luminer cetak 3D dengan material 100% polikarbonat yang dapat didaur ulang, dan dirancang untuk dapat digunakan kembali sepenuhnya pada akhir masa pakai, sehingga menghindari adanya limbah.
Metode produksi ini menghasilkan jejak karbon 47% lebih rendah karena membutuhkan energi dan material yang jauh lebih sedikit. Bobot produk akhir juga 35% lebih ringan, yang menghasilkan lebih banyak penghematan karbon pada saat pengiriman.
Benang polikarbonat yang digunakan terbuat dari bahan daur ulang, seperti CD dan jaring ikan.
Proses pengolahan sebagai limbah di akhir masa pakainya pun menggunakan lebih sedikit energi (pengurangan sekitar 27%) untuk dirobek menjadi bagian kecil. Sehingga, jika digabungkan, Signify dapat mengurangi hingga 75% jejak karbon atas pasokan dan produksi bahan, transportasi, dan akhir masa pakai.
Pada acara peresmian ini, Signify juga mengadakan diskusi panel mengenai “Investasi Berkelanjutan: Fasilitas Luminer Cetak 3D Signify”. Mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim yang juga seorang ekonom senior dan pakar lingkungan hidup, dalam sambutan pengantarnya mengatakan,
Indonesia telah menjadi pasar penting bagi Signify (sebelumnya dikenal sebagai Philips Lighting) sejak kehadirannya lebih dari 125 tahun yang lalu. Selama bertahun-tahun, Signify Indonesia juga berfokus pada perluasan rantai ritelnya di seluruh negeri.
Pabrik luminer cetak 3D Signify memproduksi luminer cetak 3D dengan material 100% polikarbonat yang dapat didaur ulang, dan dirancang untuk dapat digunakan kembali sepenuhnya pada akhir masa pakai, sehingga menghindari adanya limbah.
Metode produksi ini menghasilkan jejak karbon 47% lebih rendah karena membutuhkan energi dan material yang jauh lebih sedikit. Bobot produk akhir juga 35% lebih ringan, yang menghasilkan lebih banyak penghematan karbon pada saat pengiriman.
Benang polikarbonat yang digunakan terbuat dari bahan daur ulang, seperti CD dan jaring ikan.
Proses pengolahan sebagai limbah di akhir masa pakainya pun menggunakan lebih sedikit energi (pengurangan sekitar 27%) untuk dirobek menjadi bagian kecil. Sehingga, jika digabungkan, Signify dapat mengurangi hingga 75% jejak karbon atas pasokan dan produksi bahan, transportasi, dan akhir masa pakai.
Pada acara peresmian ini, Signify juga mengadakan diskusi panel mengenai “Investasi Berkelanjutan: Fasilitas Luminer Cetak 3D Signify”. Mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim yang juga seorang ekonom senior dan pakar lingkungan hidup, dalam sambutan pengantarnya mengatakan,
Indonesia telah menjadi pasar penting bagi Signify (sebelumnya dikenal sebagai Philips Lighting) sejak kehadirannya lebih dari 125 tahun yang lalu. Selama bertahun-tahun, Signify Indonesia juga berfokus pada perluasan rantai ritelnya di seluruh negeri.
(wbs)
tulis komentar anda