Permintaan Talenta Digital di Era Industri 4.0 Membludak, Full Stack Developer Disiapkan
Kamis, 16 Juni 2022 - 01:38 WIB
loading...
A
A
A
Jika dikurangi jumlah lulusan perguruan tinggi dari Prodi IT dan IS, ungkap Usman, tetap masih ada talent gap sebanyak 400.000-500.000 orang per tahun.
Upaya untuk menutupi kesenjangan talenta digital tersebut tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Ini tanggung jawab bersama seluruh komponen bangsa. Untuk itulah QuBisa, bekerja sama dengan Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK), menyelenggarakan program peningkatan kompetensi digital yang disebut Full Stack Developer Bootcamp & Apprenticeship.
Lewat program ini, selama beberapa bulan peserta akan mengikuti bootcamp untuk belajar bagaimana caranya menjadi seorang Full Stack Developer. Beberapa materi yang dipelajari selama masa bootcamp, di antaranya, pembuatan aplikasi (mobile & web) dengan menggunakan Front-End React, framework Back-End (Java Springboot), mengembangkan web service menggunakan protocol REST API & GRPC Protobuf, serta deployment aplikasi pada cloud.
Setelah menguasai pengetahuan dan keterampilan sebagai seorang Full Stack Developer, para peserta akan terjun langsung mengerjakan berbagai proyek lewat skema pemagangan.
“Jadi, melalui program ini, peserta tidak hanya belajar teori, tetapi mereka juga memperoleh kesempatan untuk mempraktekkan secara langsung semua ilmu, pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajarinya selama mengikuti bootcamp,” kata CEO QuBisa, Suwardi Luis.
Suwardi Luis menjelaskan lebih lanjut, program ini juga bertujuan mendukung program pemagangan nasional yang digagas pemerintah untuk meningkatkan kompetensi lulusan baru dan para pencari kerja agar mereka siap bersaing di era Revolusi Industri 4.0. Kata Suwardi, “Kami ingin mendukung program pemerintah dengan turut serta melahirkan generasi yang memiliki kompetensi berbasis digital (digital competence).”
Menurut Suwardi, selama ini memang ada kesenjangan antara kualitas lulusan perguruan tinggi, dan SDM Indonesia pada umumnya, dengan kebutuhan industri. “Ada mismatch, sehingga tidak terjadi link and match,” tegas Suwardi.
Upaya untuk menutupi kesenjangan talenta digital tersebut tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Ini tanggung jawab bersama seluruh komponen bangsa. Untuk itulah QuBisa, bekerja sama dengan Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK), menyelenggarakan program peningkatan kompetensi digital yang disebut Full Stack Developer Bootcamp & Apprenticeship.
Lewat program ini, selama beberapa bulan peserta akan mengikuti bootcamp untuk belajar bagaimana caranya menjadi seorang Full Stack Developer. Beberapa materi yang dipelajari selama masa bootcamp, di antaranya, pembuatan aplikasi (mobile & web) dengan menggunakan Front-End React, framework Back-End (Java Springboot), mengembangkan web service menggunakan protocol REST API & GRPC Protobuf, serta deployment aplikasi pada cloud.
Setelah menguasai pengetahuan dan keterampilan sebagai seorang Full Stack Developer, para peserta akan terjun langsung mengerjakan berbagai proyek lewat skema pemagangan.
“Jadi, melalui program ini, peserta tidak hanya belajar teori, tetapi mereka juga memperoleh kesempatan untuk mempraktekkan secara langsung semua ilmu, pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajarinya selama mengikuti bootcamp,” kata CEO QuBisa, Suwardi Luis.
Suwardi Luis menjelaskan lebih lanjut, program ini juga bertujuan mendukung program pemagangan nasional yang digagas pemerintah untuk meningkatkan kompetensi lulusan baru dan para pencari kerja agar mereka siap bersaing di era Revolusi Industri 4.0. Kata Suwardi, “Kami ingin mendukung program pemerintah dengan turut serta melahirkan generasi yang memiliki kompetensi berbasis digital (digital competence).”
Menurut Suwardi, selama ini memang ada kesenjangan antara kualitas lulusan perguruan tinggi, dan SDM Indonesia pada umumnya, dengan kebutuhan industri. “Ada mismatch, sehingga tidak terjadi link and match,” tegas Suwardi.
Lihat Juga :