Dapat Pendanaan Rp2,1 Triliun, Xendit Startup Unicorn Baru di Indonesia
Minggu, 19 September 2021 - 13:05 WIB
loading...
A
A
A
Secara statistik, 70% dari 580 juta populasi di Asia Tenggara saat ini sudah merambah ke dunia online. Pada 2021, nilai ekonomi digital di kawasan ini akan melebihi USD100 miliar, diproyeksikan meningkat tiga kali lipat menjadi lebih dari USD300 miliar pada 2025.
“Ada pergeseran besar ke ranah digital yang dilakukan hampir semua pelaku usaha, baik pemilik toko kecil di Instagram, sampai perusahaan-perusahaan terbesar di Indonesia. Semua usaha kini harus bisa hadir secara digital,” ujar Moses Lo, Founder dan CEO Xendit.
Menurutnya, fnfrastruktur pembayaran digital Xendit memungkinkan pelaku usaha baru di kawasan Asia Tenggara dapat menerima pembayaran lebih cepat.
Co-Founder & COO Xendit Tessa Wijaya mengatakan, Xendit mencatat peningkatan total volume pembayaran lebih dari 200% Year-over-Year di Indonesia dan Filipina. ”Tiap bulan kami tumbuh lebih dari 10 persen,” beber Tessa.
Dengan pendanaan baru Xendit, Tessa sekaligus menjadi co-founder perempuan pertama di startup Indonesia yang berhasil mengembangkan bisnisnya hingga mencapai status ‘unicorn’.
Menyusul kesuksesannya di Indonesia, Xendit telah memasuki pasar Filipina dan dalam kurun waktu satu tahun juga telah menjadi salah satu pemain pembayaran terbesar di negara tersebut.
![Dapat Pendanaan Rp2,1 Triliun, Xendit Startup Unicorn Baru di Indonesia]()
(Ki-ka) Juan Gonzalez, Tessa Wijaya, Moses Lo, dan Bo Chen, para pendiri Xendit. Foto: dok Xendit
“Ada pergeseran besar ke ranah digital yang dilakukan hampir semua pelaku usaha, baik pemilik toko kecil di Instagram, sampai perusahaan-perusahaan terbesar di Indonesia. Semua usaha kini harus bisa hadir secara digital,” ujar Moses Lo, Founder dan CEO Xendit.
Menurutnya, fnfrastruktur pembayaran digital Xendit memungkinkan pelaku usaha baru di kawasan Asia Tenggara dapat menerima pembayaran lebih cepat.
Co-Founder & COO Xendit Tessa Wijaya mengatakan, Xendit mencatat peningkatan total volume pembayaran lebih dari 200% Year-over-Year di Indonesia dan Filipina. ”Tiap bulan kami tumbuh lebih dari 10 persen,” beber Tessa.
Dengan pendanaan baru Xendit, Tessa sekaligus menjadi co-founder perempuan pertama di startup Indonesia yang berhasil mengembangkan bisnisnya hingga mencapai status ‘unicorn’.
Menyusul kesuksesannya di Indonesia, Xendit telah memasuki pasar Filipina dan dalam kurun waktu satu tahun juga telah menjadi salah satu pemain pembayaran terbesar di negara tersebut.
%20Juan%20Gonzalez%2C%20Tessa%20Wijaya%2C%20Moses%20Lo%2C%20and%20Bo%20Chen.jpg)
(Ki-ka) Juan Gonzalez, Tessa Wijaya, Moses Lo, dan Bo Chen, para pendiri Xendit. Foto: dok Xendit
Lihat Juga :