Nothing Ear (3a): Berani Beda di Pasar yang Menghukum Merek Asing
Senin, 27 Juli 2026 - 14:46 WIB
loading...
A
A
A
Sony, Samsung, Apple, JBL, atau Bose sudah punya rekam jejak panjang di kepala pembeli. Nothing, meski berdiri sejak 2020 di London dan telah menjual lebih dari 10 juta perangkat secara global, masih terdengar seperti nama yang baru saja disebut orang di grup WhatsApp.
Di kelas harga sejutaan ke atas, keputusan beli konsumen Indonesia jauh lebih hati-hati dibanding saat mereka membeli barang di bawah Rp500 ribu. Semakin mahal harga, semakin besar keengganan mencoba merek yang belum akrab.
Ini bukan soal desain transparan yang jadi identitas Nothing kalah menarik. Tapi keberanian mengeluarkan uang lebih dari sejuta rupiah untuk logo yang belum pernah mereka dengar dari tetangga atau kolega kantor.
Nothing menaruh taruhannya pada fitur. Tapi di pasar Indonesia, fitur secanggih apa pun sering kalah oleh satu pertanyaan sederhana yang muncul di benak calon pembeli: "merek apa ini?"
Di kelas harga sejutaan ke atas, keputusan beli konsumen Indonesia jauh lebih hati-hati dibanding saat mereka membeli barang di bawah Rp500 ribu. Semakin mahal harga, semakin besar keengganan mencoba merek yang belum akrab.
Ini bukan soal desain transparan yang jadi identitas Nothing kalah menarik. Tapi keberanian mengeluarkan uang lebih dari sejuta rupiah untuk logo yang belum pernah mereka dengar dari tetangga atau kolega kantor.
Nothing menaruh taruhannya pada fitur. Tapi di pasar Indonesia, fitur secanggih apa pun sering kalah oleh satu pertanyaan sederhana yang muncul di benak calon pembeli: "merek apa ini?"
(dan)
Lihat Juga :