Nothing Ear (3a): Berani Beda di Pasar yang Menghukum Merek Asing
Senin, 27 Juli 2026 - 14:46 WIB
loading...
Fiturnya canggih, harganya premium, tapi namanya masih harus berjuang merebut kepercayaan konsumen Indonesia. Foto: Erajaya
A
A
A
JAKARTA - Nothing Ear (3a) resmi masuk Indonesia dengan bekal fitur Audio Snapshot dan ANC 45 dB. Tapi soal harga Rp1.699.000, kesabaran Nothing bakal diuji oleh konsumen Indonesia yang terkenal pemilih.
Erajaya Digital, bagian dari Erajaya Group, memasarkan Nothing Ear (3a) di Indonesia. Earbuds ini membawa fitur yang jarang ada di kelasnya: perekam suara internal yang bekerja tanpa ponsel.
Nothing bukan nama baru di dunia gadget global. Tapi di Indonesia, mereknya masih terasa asing di telinga kebanyakan orang. Ini yang membuat Ear (3a) menarik dicermati bukan cuma dari sisi teknologi, tapi juga dari sisi keberanian menembus pasar yang keras kepala soal brand trust.
Driver: dinamis 12mm bersertifikasi Hi-Res Audio Wireless
Active Noise Cancellation (ANC): Wideband ANC hingga 45 dB
Daya tahan baterai: hingga 42 jam
Personalisasi audio: tersedia melalui aplikasi Nothing X
Pilihan warna: Hitam, Putih, Pink, dan Kuning
Harga: Rp1.699.000
Desain transparan yang menjadi ciri khas Nothing kini tampil dengan bentuk yang diklaim lebih ergonomis untuk pemakaian jangka panjang.
Ketersediaan di Indonesia
Nothing Ear (3a) mulai dipasarkan sejak 27 Juli 2026 di:
Erafone dan gerai iBox terpilih
Erafone Online Store (Tokopedia dan Shopee)
iBox Online Store (Lazada dan Shopee)
Nothing Online Store (Tokopedia dan Shopee)
Eraspace
CEO Erajaya Digital Joy Wahjudi menyebut Nothing Ear (3a) sebagai jawaban atas kebutuhan pengguna Indonesia yang makin bergantung pada perangkat audio pintar. Ia menyoroti Audio Snapshot dan fitur perekaman panggilan sebagai nilai tambah yang membedakan produk ini dari earbuds sekelasnya.
Joy menyatakan pihaknya optimistis Nothing Ear (3a) akan menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang menginginkan perangkat audio modern dengan performa tinggi, desain ikonik, serta pengalaman penggunaan yang semakin intuitif.
Di atas kertas, Nothing Ear (3a) tidak kekurangan alasan untuk dibeli. Fitur Audio Snapshot jarang ditemui di earbuds seharga sejutaan. ANC 45 dB dan sertifikasi Hi-Res Audio jadi bekal yang cukup meyakinkan di level teknis.
Masalahnya bukan di spesifikasi. Konsumen Indonesia yang berbelanja perangkat audio di atas Rp1 juta punya kebiasaan yang sudah terbentuk lama: mereka mencari nama yang sudah terbukti.
Sony, Samsung, Apple, JBL, atau Bose sudah punya rekam jejak panjang di kepala pembeli. Nothing, meski berdiri sejak 2020 di London dan telah menjual lebih dari 10 juta perangkat secara global, masih terdengar seperti nama yang baru saja disebut orang di grup WhatsApp.
Di kelas harga sejutaan ke atas, keputusan beli konsumen Indonesia jauh lebih hati-hati dibanding saat mereka membeli barang di bawah Rp500 ribu. Semakin mahal harga, semakin besar keengganan mencoba merek yang belum akrab.
Ini bukan soal desain transparan yang jadi identitas Nothing kalah menarik. Tapi keberanian mengeluarkan uang lebih dari sejuta rupiah untuk logo yang belum pernah mereka dengar dari tetangga atau kolega kantor.
Nothing menaruh taruhannya pada fitur. Tapi di pasar Indonesia, fitur secanggih apa pun sering kalah oleh satu pertanyaan sederhana yang muncul di benak calon pembeli: "merek apa ini?"
Erajaya Digital, bagian dari Erajaya Group, memasarkan Nothing Ear (3a) di Indonesia. Earbuds ini membawa fitur yang jarang ada di kelasnya: perekam suara internal yang bekerja tanpa ponsel.
Nothing bukan nama baru di dunia gadget global. Tapi di Indonesia, mereknya masih terasa asing di telinga kebanyakan orang. Ini yang membuat Ear (3a) menarik dicermati bukan cuma dari sisi teknologi, tapi juga dari sisi keberanian menembus pasar yang keras kepala soal brand trust.
Spesifikasi dan Fitur Utama Nothing Ear (3a)
Fitur andalan Nothing Ear (3a) adalah Audio Snapshot, kemampuan merekam momen audio langsung dari earbuds tanpa membuka aplikasi di ponsel. Fitur ini ditopang memori internal 32 MB yang tertanam di dalam earbuds itu sendiri.Berikut rincian spesifikasi yang dibawa Nothing Ear (3a):
Perekaman panggilan dan meeting: durasi hingga sekitar 2 jam, otomatis tersinkronisasi ke aplikasi Nothing X untuk diputar ulang, diedit, dibagikan, atau ditranskripsikanDriver: dinamis 12mm bersertifikasi Hi-Res Audio Wireless
Active Noise Cancellation (ANC): Wideband ANC hingga 45 dB
Daya tahan baterai: hingga 42 jam
Personalisasi audio: tersedia melalui aplikasi Nothing X
Pilihan warna: Hitam, Putih, Pink, dan Kuning
Harga: Rp1.699.000
Desain transparan yang menjadi ciri khas Nothing kini tampil dengan bentuk yang diklaim lebih ergonomis untuk pemakaian jangka panjang.
Ketersediaan di Indonesia
![Nothing Ear (3a): Berani Beda di Pasar yang Menghukum Merek Asing]()
Nothing Ear (3a) mulai dipasarkan sejak 27 Juli 2026 di:%20(2).jpg)
Erafone dan gerai iBox terpilih
Erafone Online Store (Tokopedia dan Shopee)
iBox Online Store (Lazada dan Shopee)
Nothing Online Store (Tokopedia dan Shopee)
Eraspace
CEO Erajaya Digital Joy Wahjudi menyebut Nothing Ear (3a) sebagai jawaban atas kebutuhan pengguna Indonesia yang makin bergantung pada perangkat audio pintar. Ia menyoroti Audio Snapshot dan fitur perekaman panggilan sebagai nilai tambah yang membedakan produk ini dari earbuds sekelasnya.
Joy menyatakan pihaknya optimistis Nothing Ear (3a) akan menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang menginginkan perangkat audio modern dengan performa tinggi, desain ikonik, serta pengalaman penggunaan yang semakin intuitif.
Di atas kertas, Nothing Ear (3a) tidak kekurangan alasan untuk dibeli. Fitur Audio Snapshot jarang ditemui di earbuds seharga sejutaan. ANC 45 dB dan sertifikasi Hi-Res Audio jadi bekal yang cukup meyakinkan di level teknis.
Masalahnya bukan di spesifikasi. Konsumen Indonesia yang berbelanja perangkat audio di atas Rp1 juta punya kebiasaan yang sudah terbentuk lama: mereka mencari nama yang sudah terbukti.
Sony, Samsung, Apple, JBL, atau Bose sudah punya rekam jejak panjang di kepala pembeli. Nothing, meski berdiri sejak 2020 di London dan telah menjual lebih dari 10 juta perangkat secara global, masih terdengar seperti nama yang baru saja disebut orang di grup WhatsApp.
Di kelas harga sejutaan ke atas, keputusan beli konsumen Indonesia jauh lebih hati-hati dibanding saat mereka membeli barang di bawah Rp500 ribu. Semakin mahal harga, semakin besar keengganan mencoba merek yang belum akrab.
Ini bukan soal desain transparan yang jadi identitas Nothing kalah menarik. Tapi keberanian mengeluarkan uang lebih dari sejuta rupiah untuk logo yang belum pernah mereka dengar dari tetangga atau kolega kantor.
Nothing menaruh taruhannya pada fitur. Tapi di pasar Indonesia, fitur secanggih apa pun sering kalah oleh satu pertanyaan sederhana yang muncul di benak calon pembeli: "merek apa ini?"
(dan)
Lihat Juga :