Starlink Baru Beroperasi Sudah Perang Harga, Beri Diskon 40 Persen!
Selasa, 21 Mei 2024 - 15:05 WIB
loading...
Baru saja beroperasi, Starlink langsung membuka perang harga untuk menantang operator seluler di Indonesia. Foto: Starlink Indonesia
A
A
A
JAKARTA - Layanan Starlink resmi beroperasi di Indonesia, ditandai dengan kehadiran Elon Musk di Bali untuk pelanggan ritel. Menariknya, layanan internet satelit itu tidak ragu-ragu untuk langsung perang harga.
Untuk kawasan perkotaan, layanan Starlink memang sulit bersaing dengan operator seluler (mobile broadband) ataupun internet kabel (fixed broadband). Ini karena layanan mereka terbilang mahal.
Untuk menggunakan layanan Starlink, konsumen harus membayar biaya alat sebesar Rp7,8 juta dan bulanan Rp750.000.
Tapi, tiba-tiba Starlink mengambil momentum kehadiran Elon Musk ke Indonesia dengan melancarkan perang harga.
Perangkat keras Starlink yang mulanya dibanderol Rp7,8 juta mendapatkan diskon jadi Rp4.680.000 atau mencapai 40 persen hingga 10 Juni 2024.
Bisa jadi, ini strategi mereka untuk merenggut konsumen di kawasan urban/perkotaan. Baik itu perseorangan maupun bisnis.
Kehadiran Starlink tentu saja dikhawatirkan dapat mengganggu pasar operator seluler karena dianggap tidak memberikan “permainan yang setara”.
Untuk kawasan perkotaan, layanan Starlink memang sulit bersaing dengan operator seluler (mobile broadband) ataupun internet kabel (fixed broadband). Ini karena layanan mereka terbilang mahal.
Untuk menggunakan layanan Starlink, konsumen harus membayar biaya alat sebesar Rp7,8 juta dan bulanan Rp750.000.
Tapi, tiba-tiba Starlink mengambil momentum kehadiran Elon Musk ke Indonesia dengan melancarkan perang harga.
Perangkat keras Starlink yang mulanya dibanderol Rp7,8 juta mendapatkan diskon jadi Rp4.680.000 atau mencapai 40 persen hingga 10 Juni 2024.
Bisa jadi, ini strategi mereka untuk merenggut konsumen di kawasan urban/perkotaan. Baik itu perseorangan maupun bisnis.
Kehadiran Starlink tentu saja dikhawatirkan dapat mengganggu pasar operator seluler karena dianggap tidak memberikan “permainan yang setara”.
Lihat Juga :