Efek Jera, AS Tuntut Pelaku Serangan LockBit 185 Tahun Penjara
Jum'at, 17 Mei 2024 - 18:00 WIB
loading...
Dmitry Yuryevich Khoroshev dituding dalang di balik operasi LockBit sejak pertama kali muncul pada September 2019 lalu. (Foto: Pixabay)
A
A
A
JAKARTA - Departemen Kehakiman Amerika Serikat menuntut pelaku serangan digital ransomware 185 tahun penjara. Pelaku diduga menciptakan dan mengoperasikan LockBit, suatu alat pemerasan digital yang menjadi ancaman global.
Dmitry Yuryevich Khoroshev dituding dalang di balik operasi LockBit sejak pertama kali muncul pada September 2019 lalu. Perangkat lunak buatannya telah menargetkan lebih dari 2.500 korban di 120 negara. Pemerasan digital ini menghasilkan sekira 500 juta dollar AS atau setara Rp8 triliun.
Melansir Essanews, Jumat (17/5/2024) pendapatan tebusan tadi digelontor untuk kelompok di bawah kepemimpinan Khoroshev.
LockBit bekerja pada model ransomware sebagai layanan yang memungkinkan penjahat dunia maya menyewa perangkat lunak tersebut untuk melancarkan serangan. Ransomware ini bertanggung jawab atas beberapa serangan penting, termasuk insiden yang melibatkan layanan email di Inggris, rumah sakit anak-anak, dan St. Marys, kota kecil di Ontario di Kanada.
Baca Juga: Serangan Ransomware Lumpuhkan Penjara AS
Pada Februari tahun ini, upaya yang dilakukan oleh otoritas AS dan Inggris menyebabkan penyitaan situs web dan server yang terkait dengan LockBit, mengamankan password untuk membantu organisasi dalam pemulihan data. Selain Khoroshev, Arthur Sungatov dan Ivan Kondratyev didakwa menyebarkan LockBit dalam serangan di AS.
Sang pelaku, Khoroshev menahan 20 persen dari setiap uang tebusan dan mengawasi situs kebocoran data. Ia juga menghadapi 26 dakwaan, termasuk konspirasi untuk melakukan penipuan dan delapan dakwaan pemerasan dengan merusak komputer yang dilindungi secara hukum. Potensi hukumannya bisa mencapai 185 tahun. Departemen Kehakiman Amerika menawarkan hadiah 10 juta dollar AS atau sekira Rp1,6 miliar bagi pemberian informasi yang mengarah pada penangkapannya.
Dmitry Yuryevich Khoroshev dituding dalang di balik operasi LockBit sejak pertama kali muncul pada September 2019 lalu. Perangkat lunak buatannya telah menargetkan lebih dari 2.500 korban di 120 negara. Pemerasan digital ini menghasilkan sekira 500 juta dollar AS atau setara Rp8 triliun.
Melansir Essanews, Jumat (17/5/2024) pendapatan tebusan tadi digelontor untuk kelompok di bawah kepemimpinan Khoroshev.
LockBit bekerja pada model ransomware sebagai layanan yang memungkinkan penjahat dunia maya menyewa perangkat lunak tersebut untuk melancarkan serangan. Ransomware ini bertanggung jawab atas beberapa serangan penting, termasuk insiden yang melibatkan layanan email di Inggris, rumah sakit anak-anak, dan St. Marys, kota kecil di Ontario di Kanada.
Baca Juga: Serangan Ransomware Lumpuhkan Penjara AS
Pada Februari tahun ini, upaya yang dilakukan oleh otoritas AS dan Inggris menyebabkan penyitaan situs web dan server yang terkait dengan LockBit, mengamankan password untuk membantu organisasi dalam pemulihan data. Selain Khoroshev, Arthur Sungatov dan Ivan Kondratyev didakwa menyebarkan LockBit dalam serangan di AS.
Sang pelaku, Khoroshev menahan 20 persen dari setiap uang tebusan dan mengawasi situs kebocoran data. Ia juga menghadapi 26 dakwaan, termasuk konspirasi untuk melakukan penipuan dan delapan dakwaan pemerasan dengan merusak komputer yang dilindungi secara hukum. Potensi hukumannya bisa mencapai 185 tahun. Departemen Kehakiman Amerika menawarkan hadiah 10 juta dollar AS atau sekira Rp1,6 miliar bagi pemberian informasi yang mengarah pada penangkapannya.
Lihat Juga :