Usung Teknologi Swiss, VPN Indonesia Siap Lindungi Pengguna Internet dari Peretas
Selasa, 03 Maret 2020 - 09:18 WIB
loading...
BSSN mencatat bahwa Indonesia mendapatkan 279,84 juta serangan siber pada 2023.
A
A
A
JAKARTA - Kemajuan teknologi kini berhasil mengubah cara kerja manusia. Kini, hampir semua hal bisa dikerjakan secara online (daring) menggunakan internet. Mulai dari kegiatan transaksi jual beli, pemindahan dana hingga investasi. Meski begitu, kita terus dibayangi dengan kejahatan cyber atau cyber crime yang mana data pribadi kita diretas yang membuat
Fikri Anray Secario,selaku Product Owner Pine VPN Indonesia, mengakui bahwa perusahaan tersebut telah memberi banyak kemudahan di level individu hingga perusahaan. "Namun, harus diingat bahwa keamanan harus tetap menjadi prioritas," katanya.
Sorotan Fikri bukan tanpa alasan. Ancaman serangan siber akan meningkat seiring makin masifnya pengguna internet aktif di Tanah Air. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet pada 2018 sebanyak 171,1 juta orang. Jumlah ini diperkirakan meningkat menjadi 215,6 juta jiwa pada 2023. Artinya, lebih dari 78% penduduk Indonesia merupakan pengguna aktif internet.
Sementara, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat bahwa Indonesia mendapatkan 279,84 juta serangan siber pada 2023. Serangan ini menyasar institusi pemerintahan, korporasi, maupun kepada individu warga negara. Sejauh ini, Indonesia terus melakukan upaya berkelanjutan untuk menjaga keamanan siber dari berbagai risiko dan ancaman.
Berdasarkan data National Cyber Security Index (NCSI) pada 2023, Indonesia menduduki peringkat ke-49 dari 176 negara dengan skor 63,64 poin, masih berada di bawah skor rata-rata dunia yang mencapai 67,08 poin. Sedangkan di regional ASEAN, Indonesia masuk kategori lima besar setelah Malaysia (79,22), Singapura (71,43), Thailand (64,94).
Fikri Anray Secario,selaku Product Owner Pine VPN Indonesia, mengakui bahwa perusahaan tersebut telah memberi banyak kemudahan di level individu hingga perusahaan. "Namun, harus diingat bahwa keamanan harus tetap menjadi prioritas," katanya.
Sorotan Fikri bukan tanpa alasan. Ancaman serangan siber akan meningkat seiring makin masifnya pengguna internet aktif di Tanah Air. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet pada 2018 sebanyak 171,1 juta orang. Jumlah ini diperkirakan meningkat menjadi 215,6 juta jiwa pada 2023. Artinya, lebih dari 78% penduduk Indonesia merupakan pengguna aktif internet.
Sementara, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat bahwa Indonesia mendapatkan 279,84 juta serangan siber pada 2023. Serangan ini menyasar institusi pemerintahan, korporasi, maupun kepada individu warga negara. Sejauh ini, Indonesia terus melakukan upaya berkelanjutan untuk menjaga keamanan siber dari berbagai risiko dan ancaman.
Berdasarkan data National Cyber Security Index (NCSI) pada 2023, Indonesia menduduki peringkat ke-49 dari 176 negara dengan skor 63,64 poin, masih berada di bawah skor rata-rata dunia yang mencapai 67,08 poin. Sedangkan di regional ASEAN, Indonesia masuk kategori lima besar setelah Malaysia (79,22), Singapura (71,43), Thailand (64,94).
Lihat Juga :