Nambah Literasi Gak Harus Baca Buku Tebal dengan Tustel BuddyKu
Rabu, 12 Oktober 2022 - 16:38 WIB
loading...
Perkembangan teknologi membuat literasi juga berkembang mengikuti alur perkembangan zaman, saat ini literasi didefinisikan menjadi lebih luas dan memiliki banyak ragam. FOTO/ IST
A
A
A
JAKARTA - Dalam upaya menciptakan SDM (sumber daya manusia) yang memiliki kompetensi yang meliputi aspek pengetahuan (knowledge, science), keterampilan (skill, technology), dan sikap perilaku (attitude) dibutuhkan adanya masyarakat yang terisi secara literasi. Dahulu literasi memiliki makna yaitu kemampuann individu dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis.
Perkembangan teknologi membuat literasi juga berkembang mengikuti alur perkembangan zaman, saat ini literasi didefinisikan menjadi lebih luas dan memiliki banyak ragam, seperti literasi media, literasi komputer, dan lain sebagainya.
Berdasarkan riset, perilaku masyarakat saat ini juga menunjukkan bahwa menambah literasi dengan membaca buku cenderung membosankan karena monoton dan sulit dicerna. Berdasarkan data UNESCO, Indonesia menempati urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah.
Minat baca masyarakat Indonesia terbilang memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Meski memiliki budaya malas membaca, masyarakat Indonesia tetap gemar menggunakan smartphone mereka untuk mengakses informasi dan merupakan negara urutan ke-5 dengan predikat netizen paling cerewet.
Masyarakat cenderung senang untuk berkomentar dan membagikan informasi bukan berdasarkan fakta namun justru berdasarkan gosip-gosip yang ada.
Perkembangan teknologi membuat literasi juga berkembang mengikuti alur perkembangan zaman, saat ini literasi didefinisikan menjadi lebih luas dan memiliki banyak ragam, seperti literasi media, literasi komputer, dan lain sebagainya.
Berdasarkan riset, perilaku masyarakat saat ini juga menunjukkan bahwa menambah literasi dengan membaca buku cenderung membosankan karena monoton dan sulit dicerna. Berdasarkan data UNESCO, Indonesia menempati urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah.
Minat baca masyarakat Indonesia terbilang memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Meski memiliki budaya malas membaca, masyarakat Indonesia tetap gemar menggunakan smartphone mereka untuk mengakses informasi dan merupakan negara urutan ke-5 dengan predikat netizen paling cerewet.
Masyarakat cenderung senang untuk berkomentar dan membagikan informasi bukan berdasarkan fakta namun justru berdasarkan gosip-gosip yang ada.
Lihat Juga :