Pasien Gagal Jantung yang Tidak Menikah Berisiko Tinggi Alami Kematian
Minggu, 22 Mei 2022 - 06:00 WIB
loading...
A
A
A
Studi E-INH melibatkan 1.022 pasien yang dirawat di rumah sakit antara tahun 2004 dan 2007 karena gagal jantung dekompensasi. Dari 1.008 pasien yang memberikan informasi tentang status perkawinan, 633 (63%) sudah menikah dan 375 (37%) belum menikah termasuk 195 janda, 96 tidak pernah menikah, dan 84 berpisah atau bercerai.
Baca juga : Satu-satunya di Dunia, Nissan Juke Hybrid Rally Tribute Concept
Pada awal, kualitas hidup, keterbatasan sosial dan self-efficacy diukur menggunakan Kansas City Cardiomyopathy Questionnaire, kuesioner yang dirancang khusus untuk pasien dengan gagal jantung. Keterbatasan sosial mengacu pada sejauh mana gejala gagal jantung mempengaruhi kemampuan pasien untuk berinteraksi secara sosial, seperti menjalani hobi dan kegiatan rekreasi, atau mengunjungi teman dan keluarga.
Setelah 10 tahun berselang, menindak lanjuti penelitian itu, terdapat 679 pasien atau 67 persen dari jumlah total meninggal dunia. Sebagian besar jumlah pasien yang meninggal justru merupakan pasien yang menjalani hidup sendiri baik itu tidak menikah maupun duda dan janda.
"Koneksi antara pernikahan dan umur panjang menunjukkan pentingnya dukungan sosial pada pasien yang mengalami gagal jantung. Tenaga kesehatan harus mempertimnbangkan penyediaan support system untuk pasien gagal jantung baik itu pernikahan atau grup sosial," jelas Dr Fabian Kerwagen.
Baca juga : Satu-satunya di Dunia, Nissan Juke Hybrid Rally Tribute Concept
Pada awal, kualitas hidup, keterbatasan sosial dan self-efficacy diukur menggunakan Kansas City Cardiomyopathy Questionnaire, kuesioner yang dirancang khusus untuk pasien dengan gagal jantung. Keterbatasan sosial mengacu pada sejauh mana gejala gagal jantung mempengaruhi kemampuan pasien untuk berinteraksi secara sosial, seperti menjalani hobi dan kegiatan rekreasi, atau mengunjungi teman dan keluarga.
Setelah 10 tahun berselang, menindak lanjuti penelitian itu, terdapat 679 pasien atau 67 persen dari jumlah total meninggal dunia. Sebagian besar jumlah pasien yang meninggal justru merupakan pasien yang menjalani hidup sendiri baik itu tidak menikah maupun duda dan janda.
"Koneksi antara pernikahan dan umur panjang menunjukkan pentingnya dukungan sosial pada pasien yang mengalami gagal jantung. Tenaga kesehatan harus mempertimnbangkan penyediaan support system untuk pasien gagal jantung baik itu pernikahan atau grup sosial," jelas Dr Fabian Kerwagen.
(wsb)
Lihat Juga :