Cara Mengukur Saturasi Oksigen Menggunakan Smartwatch atau Smartband
Minggu, 27 Juni 2021 - 19:35 WIB
loading...
Xiaomi Mi Smart Band 6 saat digunakan untuk mengukur saturasi oksigen di dalam darah. Foto: Sindonews/danang arradian
A
A
A
JAKARTA - Hipoksemia dan hipoksia adalah salah satu gejala pasien Covid-19 yang harus diwaspadai.
Hipoksemia merupakan kondisi penurunan kadar oksigen dalam darah. Jika berlanjut, dapat membuat kurangnya oksigen dalam jaringan tubuh. Nah, itulah yang kemudian disebut dengan Hipoksia.
BACA JUGA: Dibanderol Rp7 Jutaan, Smart TV TCL A20 55 Inci Gunakan Android 11
Covid-19 membuat kondisi pasien memburuk berlahan, karena penurunan kadar oksigen dalam darah.
Nah saturasi oksigen dalam darah (SpO2) sebenarnya dapat di deteksi dengan mudah lewat alat yang disebut Oxymeter atau Pulse Oxymeter. Alat tersebut biasanya juga dilengkapi pengukur detak jantung (HR= heart rate) pasien.
Sebagai catatan, kadar normal SpO2 adalah 85%-100%. Sebaliknya, apabila Pulse Oximeter menunjukkan SPO2 dibawah 85%, maka terjadi tingkat kejenuhan oksigen darah yang berkurang. Maka, bisa jadi butuh terapi oksigen.
Hipoksemia merupakan kondisi penurunan kadar oksigen dalam darah. Jika berlanjut, dapat membuat kurangnya oksigen dalam jaringan tubuh. Nah, itulah yang kemudian disebut dengan Hipoksia.
BACA JUGA: Dibanderol Rp7 Jutaan, Smart TV TCL A20 55 Inci Gunakan Android 11
Covid-19 membuat kondisi pasien memburuk berlahan, karena penurunan kadar oksigen dalam darah.
Nah saturasi oksigen dalam darah (SpO2) sebenarnya dapat di deteksi dengan mudah lewat alat yang disebut Oxymeter atau Pulse Oxymeter. Alat tersebut biasanya juga dilengkapi pengukur detak jantung (HR= heart rate) pasien.
Sebagai catatan, kadar normal SpO2 adalah 85%-100%. Sebaliknya, apabila Pulse Oximeter menunjukkan SPO2 dibawah 85%, maka terjadi tingkat kejenuhan oksigen darah yang berkurang. Maka, bisa jadi butuh terapi oksigen.
Lihat Juga :