Kaspersky: 2021, Masyarakat Kian Anggap Penting Privasi Data

Sabtu, 06 Februari 2021 - 15:44 WIB
loading...
Kaspersky: 2021, Masyarakat...
Masyarakat semakin menaruh perhatian besar terhadap data mereka yang tersimpan dan disimpan di internet.
A A A
JAKARTA - Kaspersky memberikan prediksi seputar privasi dan pengumpulan data yang terjadi selama 2021.

Tahun 2020 menunjukkan betapa pentingnya infrastruktur yang terhubung dan layanan digital bagi fungsi masyarakat sehari-hari. Kesadaran ini telah menyebabkan pergeseran sikap terhadap privasi dan cara pandang masyarakat, organisasi, serta pemerintah.

BACA JUGA: Tiga Cara Beli Samsung Galaxy S21 5G Series dengan Diskon Paling Gede!

Terkait hal ini, pakar privasi dari Kaspersky berbagi prediksi dalam bidang privasi data di tahun ini.

Prediksi ini dikembangkan berdasarkan perubahan dan tren yang disaksikan oleh pakar privasi Kaspersky pada 2020.

Menurut para peneliti, perselisihan besar antara berbagai pemangku kepentingan dalam percakapan seputar privasi dan pengumpulan data membentuk kesimpulan berupa tendensi sebagai berikut:

1. Privasi Konsumen Semakin Penting

Peningkatan pengumpulan data selama pandemi, dan gejolak politik yang menyebar dan berkembang ke platform digital menjadi salah satu cara untuk menghasilkan pertumbuhan yang cepat dalam kesadaran publik tentang pengumpulan data tanpa batas.

Karena semakin banyak pengguna yang ingin menjaga privasi mereka, organisasi menanggapi dengan menawarkan produk yang berfokus pada privasi - jumlah dan keragamannya akan terus bertambah.

2. Fitness Tracker Lebih Banyak Kumpulkan Data

Data yang dikumpulkan oleh pelacak kebugaran ( fitness tracker ), pemantau tekanan darah, dan perangkat lain telah memberikan wawasan yang sangat berharga sehingga turut banyak digunakan dalam kasus pengadilan, belum lagi oleh pemasar dan perusahaan asuransi yang juga merasakan manfaatnya.

Apalagi belakangan kesehatan menjadi perhatian publik, permintaan akan data semacam itu diprediksi akan terus berkembang.

3. Pemerintah Harus Semakin Aktif

Memiliki akses ke data pengguna membuka banyak sekali peluang - pikirkan, memerangi pelecehan anak atau membuat lalu lintas kota lebih efisien. Juga pikirkan untuk membungkam perbedaan pendapat.

Namun dengan sebagian besar organisasi swasta menolak untuk berbagi data ini, pemerintah akan merespons dengan lebih banyak peraturan yang menghalangi privasi online, dengan perdebatan paling sengit seputar teknologi pelestarian privasi seperti enkripsi end-to-end, DNS-over-HTTPS, dan mata uang kripto.

4. Sumber Data Semakin Beragam

Analisis perilaku berbasis data semakin detil dan berbahaya Kesalahan dapat merusak seseorang, sedangkan kualitas sebenarnya dari sistem ini seringkali menjadi rahasia dagang.

Kendati demikian, hal itu tidak akan menghentikan organisasi yang bekerja di bidang ini untuk menemukan cara yang lebih kreatif hingga membuat profil pengguna berdasarkan apa yang mereka sukai dan lakukan - dan dengan demikian dapat memengaruhi kehidupan mereka.

BACA JUGA: Jajal Semua Fitur Kamera Galaxy S21 Ultra 5G di Kondisi Gelap-Gelapan

5. Standar Privasi Lebih Ketat

Saat perusahaan menjadi lebih sadar tentang data apa yang sebenarnya mereka butuhkan, dan konsumen menolak pengumpulan data yang tidak dicentang, alat privasi lebih canggih bermunculan dan menjadi banyak digunakan.

Sementara organisasi teknologi besar memainkan peran untuk menjamin kebaruan standar privasi pengguna yang lebih ketat.

Perangkat keras yang lebih canggih akan muncul, memungkinkan pengembang untuk membuat alat yang mampu memproses data tingkat lanjut, sehingga dapat mengurangi jumlah data yang dibagikan oleh pengguna dengan organisasi.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Nyaris 3.000 Perusahaan...
Nyaris 3.000 Perusahaan Indonesia Diserang Hacker Tiap Hari, Penyebabnya Sepele!
Jebakan di Balik Layar...
Jebakan di Balik Layar Kaca: 7 Juta Akun Streaming Jadi Dagangan, Puluhan Akun Disney+ Indonesia Ikut Jadi Korban
Melindungi Pahlawan...
Melindungi Pahlawan Jalanan: Telkomsel, Kaspersky, dan Gojek Bersatu Padu Hadirkan Paket Swadaya Aman
Ransomware: Ancaman...
Ransomware: Ancaman Nyata di 2025, Bagaimana Organisasi di Indonesia Melindungi Diri?
Waspada! 467.000 File...
Waspada! 467.000 File Berbahaya Menyerang Setiap Hari di 2024!
Jangan Lengah! 5 Juta...
Jangan Lengah! 5 Juta Ancaman Online Mengintai Pengguna Internet Indonesia
Lokataru Soroti Konflik...
Lokataru Soroti Konflik Kepentingan di RUU Keamanan dan Ketahanan Siber
Skandal Lixun Diansheng:...
Skandal Lixun Diansheng: Perusahaan China Dikecam karena Memotret Karyawan di Toilet
Pentingnya Kupas Tuntas...
Pentingnya Kupas Tuntas AI untuk Antisipasi Pelanggaran Privasi Data
Rekomendasi
The Changcuters Bakal...
The Changcuters Bakal Naikkan Tarif Manggung Imbas Ekonomi Lesu?
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Mojtaba Khamenei Murka!...
Mojtaba Khamenei Murka! Kuwait dan Bahrain Dihujani Drone dan Rudal Iran
Berita Terkini
Iran Berniat Kembangan...
Iran Berniat Kembangan Rudal Balistik Antarbenua biar Tambah Menakutkan
Bangun Kedaulatan Digital,...
Bangun Kedaulatan Digital, Telkom Pertemukan Regulator dan Pemain Industri
Kehilangan Kendali,...
Kehilangan Kendali, Anthropic Usulkan Hentikan Sementara Pengembangan AI
Respons Permintaan Tinggi,...
Respons Permintaan Tinggi, Telkom Akselerasi Ekspansi Kapasitas NeutraDC Batam
Luncurkan AIcosystem,...
Luncurkan AIcosystem, Telkom Siap Garap Peluang AI di Berbagai Sektor Industri
Jalan Pintas Nostalgia:...
Jalan Pintas Nostalgia: Ragnarok Buka Server EDDGA, Naik Level Kini Sekejap Mata
Infografis
Rusia: UNICEF Anggap...
Rusia: UNICEF Anggap Anak Gaza Kurang Penting Dibanding Anak Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved