Webinar Sebut Masih Ada Kesenjangan antara Lulusan Vokasi dan Industri
Kamis, 17 Desember 2020 - 10:15 WIB
loading...
A
A
A
Saufi menyebut, dalam penyusunan kurikulum, PTV wajib untuk melibatkan industri sehingga terwujud link and match. Ia kemudian mencontohkan pola pendidikan di Eropa yang mampu menjadikan vokasi sebagai primadona bagi masyarakat lantaran dapat menjamin lulusannya untuk siap kerja di industri. Sementara di Indonesia pendidikan vokasi masih dianggap sebagai pendidikan kelas dua, belum lagi masih rendahnya kepercayaan masyarakat dan DUDI terhadap output lulusan vokasi.
Hal sama dikatakan Prof Benny Tjahjono. Dijelaskannya, pendidikan vokasi di setiap negara memiliki ciri khas masing-masing. Pola pendidikan vokasi di Inggris belum tentu cocok diterapkan di Tanah Air. Sebab mutu pendidikan vokasi di Indonesia belum sepenuhnya merata, sehingga harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.
“Skill vokasi terdiri atas hard skill yang merupakan kemampuan teknis, dan soft skill yang merupakan keterampilan seperti berkomunikasi, berpikir kritis, dan problem solving. Namun, kemampuan lain yang menurut saya penting dimiliki oleh lulusan vokasi adalah entrepreneur skill. Dengan kemampuan ini, lulusan vokasi dapat menciptakan atau membuka lapangan kerja sendiri,” tutur Benny.
Keahlian dari lulusan vokasi sendiri perlu dianggap sebagai skill yang spesifik. Kemudian, didukung dengan kemampuan soft skill yang disesuaikan dengan bidang pekerjaannya. Pentingnya soft skill ini disampaikan Dwi Sulistyorini Amidjono, yang pada 2017 melaksanakan Labor Market Assessment di sejumlah kabupaten di Jawa Barat.
"Berdasarkan hasil tersebut, terjadi gap persepsi antara pencari kerja dengan pemberi kerja. Padahal, soft skill kini menjadi salah satu kemampuan yang sangat dipertimbangkan industri dalam menerima calon pegawai," katanya. (Baca juga: Kisah Intrik Antar Eksekutif di Balik Gurihnya Penjualan Porsche Cayenne )
Hal sama dikatakan Prof Benny Tjahjono. Dijelaskannya, pendidikan vokasi di setiap negara memiliki ciri khas masing-masing. Pola pendidikan vokasi di Inggris belum tentu cocok diterapkan di Tanah Air. Sebab mutu pendidikan vokasi di Indonesia belum sepenuhnya merata, sehingga harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.
“Skill vokasi terdiri atas hard skill yang merupakan kemampuan teknis, dan soft skill yang merupakan keterampilan seperti berkomunikasi, berpikir kritis, dan problem solving. Namun, kemampuan lain yang menurut saya penting dimiliki oleh lulusan vokasi adalah entrepreneur skill. Dengan kemampuan ini, lulusan vokasi dapat menciptakan atau membuka lapangan kerja sendiri,” tutur Benny.
Keahlian dari lulusan vokasi sendiri perlu dianggap sebagai skill yang spesifik. Kemudian, didukung dengan kemampuan soft skill yang disesuaikan dengan bidang pekerjaannya. Pentingnya soft skill ini disampaikan Dwi Sulistyorini Amidjono, yang pada 2017 melaksanakan Labor Market Assessment di sejumlah kabupaten di Jawa Barat.
"Berdasarkan hasil tersebut, terjadi gap persepsi antara pencari kerja dengan pemberi kerja. Padahal, soft skill kini menjadi salah satu kemampuan yang sangat dipertimbangkan industri dalam menerima calon pegawai," katanya. (Baca juga: Kisah Intrik Antar Eksekutif di Balik Gurihnya Penjualan Porsche Cayenne )
(iqb)
Lihat Juga :