Cetak Rekor, Resident Evil Requiem Terjual 6 Juta Kopi Kurang dari Sebulan!
Selasa, 17 Maret 2026 - 11:10 WIB
loading...
Tangkapan layar Resident Evil Requiem yang sukses meraup penjualan 6 juta kopi, mengukuhkan ironi di mana ketakutan virtual bernilai triliunan rupiah di tengah kondisi ekonomi 2026 yang menantang. Foto: Capcom
A
A
A
JEPANG - Ketika ekonomi global 2026 masih menuntut kehati-hatian finansial, lebih dari enam juta orang justru sukarela membelanjakan uangnya untuk gim Resident Evil Requiem.
Dalam kurang dari sebulan sejak dirilis akhir Februari lalu, Resident Evil Requiem sukses terjual 6 juta kopi di seluruh platform, mencakup edisi fisik dan digital.
Pencapaian yang diumumkan Presiden dan COO Capcom, Haruhiro Tsujimoto, pada 16 Maret 2026 ini bukan sekadar rekor penjualan tercepat dalam sejarah waralaba survival horror tersebut.
Ini adalah anomali yang memotret tren psikologis pasar 2026. Menempati posisi kedua di peringkat skor pengguna Metacritic, gim ini membuktikan bahwa pelarian (eskapisme)—meski berbentuk horor ekstrem—telah menjadi komoditas primer yang kebal krisis.
![Cetak Rekor, Resident Evil Requiem Terjual 6 Juta Kopi Kurang dari Sebulan!]()
Mari kita bedah logikanya. Jika harga rata-rata satu kopi gim triple-A saat ini dipatok USD70, maka 6 juta unit menghasilkan omzet sekitar USD420 juta. Dengan kurs Rp17.000 per dollar AS, Capcom baru saja mengantongi Rp7,14 triliun dari kantong konsumen global dalam hitungan minggu. Konsumen rela membayar Rp1,19 juta per orang.
Sebagai perbandingan, Resident Evil 7 butuh waktu berjalan sejak 2017 untuk sekadar mencapai 16,4 juta unit, dan Village (2021) mengumpulkan 13,5 juta unit. Proyek daur ulang (remake) mereka pun tidak memiliki kurva akselerasi secepat ini, di mana RE2 mencetak total 16,8 juta unit, RE3 di 10,9 juta unit, dan RE4 dengan 12,2 juta unit.
Merespons kesuksesan instan ini, Capcom langsung mengamankan arus kas dengan menjanjikan konten tambahan (DLC) dan dukungan berkelanjutan. Di tengah masifnya volume penjualan, komunitas justru lebih tertarik mengulik kehidupan pribadi karakter Leon di tahun-tahun terakhir, dibandingkan porsi cerita lebih untuk karakter Grace Ashcroft.
Langkah kapitalisasi Capcom di 2026 tidak berhenti di perangkat digital. Menjelang perayaan ulang tahun ke-30 waralaba ini pada 22 Maret, Capcom bersiap memerah nostalgia penggemar.
Mereka merancang kolaborasi raksasa dengan Universal Studios Japan (USJ) tahun ini, serta menggelar konser orkestra yang tiketnya siap dijual mahal di Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Tren pasar menunjukkan ekspektasi tinggi bahwa Capcom akan segera mengumumkan remake seri lainnya.
Strategi bisnis "menjual teror" ini terbukti terlalu efektif. Bahkan sutradara asli Resident Evil 2, Hideki Kamiya, secara terbuka mengaku mengalami kesulitan tidur setelah melihat seberapa mengerikannya Requiem. Ironisnya, insomnia Kamiya adalah representasi sempurna dari keanehan pasar 2026: kita rela membayar triliunan rupiah untuk sesuatu yang jelas-jelas meneror kewarasan kita sendiri.
Dalam kurang dari sebulan sejak dirilis akhir Februari lalu, Resident Evil Requiem sukses terjual 6 juta kopi di seluruh platform, mencakup edisi fisik dan digital.
Pencapaian yang diumumkan Presiden dan COO Capcom, Haruhiro Tsujimoto, pada 16 Maret 2026 ini bukan sekadar rekor penjualan tercepat dalam sejarah waralaba survival horror tersebut.
Ini adalah anomali yang memotret tren psikologis pasar 2026. Menempati posisi kedua di peringkat skor pengguna Metacritic, gim ini membuktikan bahwa pelarian (eskapisme)—meski berbentuk horor ekstrem—telah menjadi komoditas primer yang kebal krisis.

Mari kita bedah logikanya. Jika harga rata-rata satu kopi gim triple-A saat ini dipatok USD70, maka 6 juta unit menghasilkan omzet sekitar USD420 juta. Dengan kurs Rp17.000 per dollar AS, Capcom baru saja mengantongi Rp7,14 triliun dari kantong konsumen global dalam hitungan minggu. Konsumen rela membayar Rp1,19 juta per orang.
Sebagai perbandingan, Resident Evil 7 butuh waktu berjalan sejak 2017 untuk sekadar mencapai 16,4 juta unit, dan Village (2021) mengumpulkan 13,5 juta unit. Proyek daur ulang (remake) mereka pun tidak memiliki kurva akselerasi secepat ini, di mana RE2 mencetak total 16,8 juta unit, RE3 di 10,9 juta unit, dan RE4 dengan 12,2 juta unit.
Merespons kesuksesan instan ini, Capcom langsung mengamankan arus kas dengan menjanjikan konten tambahan (DLC) dan dukungan berkelanjutan. Di tengah masifnya volume penjualan, komunitas justru lebih tertarik mengulik kehidupan pribadi karakter Leon di tahun-tahun terakhir, dibandingkan porsi cerita lebih untuk karakter Grace Ashcroft.
Langkah kapitalisasi Capcom di 2026 tidak berhenti di perangkat digital. Menjelang perayaan ulang tahun ke-30 waralaba ini pada 22 Maret, Capcom bersiap memerah nostalgia penggemar.
Mereka merancang kolaborasi raksasa dengan Universal Studios Japan (USJ) tahun ini, serta menggelar konser orkestra yang tiketnya siap dijual mahal di Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Tren pasar menunjukkan ekspektasi tinggi bahwa Capcom akan segera mengumumkan remake seri lainnya.
Strategi bisnis "menjual teror" ini terbukti terlalu efektif. Bahkan sutradara asli Resident Evil 2, Hideki Kamiya, secara terbuka mengaku mengalami kesulitan tidur setelah melihat seberapa mengerikannya Requiem. Ironisnya, insomnia Kamiya adalah representasi sempurna dari keanehan pasar 2026: kita rela membayar triliunan rupiah untuk sesuatu yang jelas-jelas meneror kewarasan kita sendiri.
(dan)
Lihat Juga :