Profil Yoshinori Ohsumi, Peneliti Jepang yang Mendapat Nobel setelah Meneliti Manfaat Puasa
Sabtu, 08 Maret 2025 - 21:02 WIB
loading...
A
A
A
Pada awal 1990-an, Ohsumi menggunakan ragi (yeast) sebagai model penelitian dan berhasil mengungkap mekanisme molekuler yang mengatur autofagi. Temuan ini kemudian memberikan pemahaman baru mengenai sel yang bisa membersihkan dirinya sendiri dan memanfaatkan kembali bagian yang tidak lagi berfungsi dengan baik.
Penelitian Ohsumi tidak hanya berdampak besar dalam ilmu biologi, tetapi juga dalam dunia kesehatan. Bahkan, penelitiannya itu juga mengarah pada temuan lain yang berkaitan dengan manfaat puasa.
Singkatnya, puasa dapat merangsang autofagi, membantu tubuh memperbaiki sel yang rusak, serta meningkatkan daya tahan tubuh. Ohsumi dalam penelitiannya menemukan bahwa saat tubuh berada di kondisi lapar atau kekurangan nutrisi, mekanisme autofagi ini menjadi lebih aktif.
Artinya, saat seseorang berpuasa dan dia lapar karena tidak makan, tubuh akan memecah dan mendaur ulang protein, serta komponen sel yang sudah tidak berguna. Setelah itu, mereka menggunakannya kembali sebagai sumber energi dan bahan baku guna memperbaiki sel-sel yang masih dapat dipakai.
Penemuan ini setidaknya bisa menjelaskan alasan puasa sering dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan.
Penelitian Ohsumi tidak hanya berdampak besar dalam ilmu biologi, tetapi juga dalam dunia kesehatan. Bahkan, penelitiannya itu juga mengarah pada temuan lain yang berkaitan dengan manfaat puasa.
Singkatnya, puasa dapat merangsang autofagi, membantu tubuh memperbaiki sel yang rusak, serta meningkatkan daya tahan tubuh. Ohsumi dalam penelitiannya menemukan bahwa saat tubuh berada di kondisi lapar atau kekurangan nutrisi, mekanisme autofagi ini menjadi lebih aktif.
Artinya, saat seseorang berpuasa dan dia lapar karena tidak makan, tubuh akan memecah dan mendaur ulang protein, serta komponen sel yang sudah tidak berguna. Setelah itu, mereka menggunakannya kembali sebagai sumber energi dan bahan baku guna memperbaiki sel-sel yang masih dapat dipakai.
Penemuan ini setidaknya bisa menjelaskan alasan puasa sering dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan.
Lihat Juga :