Dunia Penyiaran Terancam, ATVSI Berinovasi Mengembangkan Teknologi 5G
Kamis, 01 Agustus 2024 - 15:27 WIB
loading...
A
A
A
Untuk itu, pihaknya berinovasi untuk mengembangkan 5G di dunia penyiaran. Menurutnya, inovasi 5G broadcasting ini menjadi solusi siaran-siaran TV bisa disampaikan lewat handphone tanpa harus membayar data. “Itu salah satu benefit-nya, dan masih banyak benefit-benefit yang lain,” katanya.
Baca Juga: Era Digital, ATVSI Minta Pemerintah Jamin Eksistensi Industri Televisi
Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) tidak menutup hadirnya inovasi 5G broadcasting di Indonesia. Namun, menurut Direktur Penyiaran Ditjen PPI Kominfo, Geryantika Kurnia pihaknya tidak akan buru-buru dalam mengembangkan 5G broadcasting di Indonesia.
“Kami tak akan buru-buru pindah ke 5G, karena harus lihat dulu, sistemnya belum mature. Dampak terhadap broadcaster, coast yang ini efisien atau tidak, dan dampak dari masyarakatnya sendiri karena mereka baru pindah dari analog ke digital,” tuturnya.
Meskipun beberapa negara sudah melakukan uji coba, menurut dia, Indonesia harus melihat keberhasilan di negara lain. Jangan sampai hanya dijadikan uji coba oleh vendor. “Kayak Jerman sudah 5 sampai 6 tahun, kita pengennya kalau sudah ada yang berhasil dan masyarakatnya sudah menerima, baru kita coba,” kata Geryantika Kurnia.
Baca Juga: Era Digital, ATVSI Minta Pemerintah Jamin Eksistensi Industri Televisi
Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) tidak menutup hadirnya inovasi 5G broadcasting di Indonesia. Namun, menurut Direktur Penyiaran Ditjen PPI Kominfo, Geryantika Kurnia pihaknya tidak akan buru-buru dalam mengembangkan 5G broadcasting di Indonesia.
“Kami tak akan buru-buru pindah ke 5G, karena harus lihat dulu, sistemnya belum mature. Dampak terhadap broadcaster, coast yang ini efisien atau tidak, dan dampak dari masyarakatnya sendiri karena mereka baru pindah dari analog ke digital,” tuturnya.
Meskipun beberapa negara sudah melakukan uji coba, menurut dia, Indonesia harus melihat keberhasilan di negara lain. Jangan sampai hanya dijadikan uji coba oleh vendor. “Kayak Jerman sudah 5 sampai 6 tahun, kita pengennya kalau sudah ada yang berhasil dan masyarakatnya sudah menerima, baru kita coba,” kata Geryantika Kurnia.
(msf)
Lihat Juga :