61 Juta Serangan Bruteforce Terjadi di Indonesia selama 2023, Kedua Tertinggi di Asia Tenggara

Senin, 06 Mei 2024 - 09:12 WIB
loading...
61 Juta Serangan Bruteforce Terjadi di Indonesia selama 2023,  Kedua Tertinggi di Asia Tenggara
Penjahat siber melakukan serangan bruteforce untuk mendapatkan kata sandi perusahaan. Foto: Kaspersky
A A A
JAKARTA - Kaspersky mengklaim telah memblokir lebih dari 61 juta serangan bruteforce yang menargetkan bisnis di Asia Tenggara (SEA) sepanjang 2023.

Pada periode Januari hingga Desember 2023, total ada 61.374.948 Bruteforce.Generic.RDP.* terdeteksi dan digagalkan oleh produk Kaspersky B2B.

Serangan Bruteforce adalah metode untuk menebak kata sandi atau kunci enkripsi yang melibatkan percobaan sistematis semua kemungkinan kombinasi karakter hingga ditemukan karakter yang benar.

Serangan Bruteforce yang berhasil memungkinkan penyerang memperoleh kredensial pengguna yang valid. Remote Desktop Protocol (RDP) adalah protokol milik Microsoft, yang menyediakan antarmuka grafis kepada pengguna untuk terhubung ke komputer lain melalui jaringan.

RDP banyak digunakan oleh administrator sistem dan pengguna non teknis untuk mengontrol server dan PC lain dari jarak jauh.

Serangan Bruteforce.Generic.RDP.* mencoba menemukan pasangan login/kata sandi RDP yang valid dengan secara sistematis memeriksa semua kemungkinan kata sandi hingga kata sandi yang benar ditemukan.

Serangan Bruteforce.Generic.RDP.* yang berhasil memungkinkan penyerang mendapatkan akses jarak jauh ke komputer host yang ditargetkan.

Vietnam, Indonesia, dan Thailand mencatat jumlah serangan RDP tertinggi tahun lalu. Sementara itu, Singapura memiliki lebih dari enam juta insiden, Filipina hampir 5 juta, dan Malaysia dengan jumlah terendah yaitu hampir tiga juta upaya Bruteforce.


Serangan Bruteforce di Asia Tenggara

Indonesia 11,703,925
Malaysia 2,810,648
Filipina 4,620,264
Singapura 6,059,867
Thailand 10,205,819
Vietnam 25,974,425
Total 61.374.948

“Serangan bruteforce sangat berbahaya. Terutama penggunaan layanan pihak ketiga untuk pertukaran data, karyawan yang bekerja menggunakan komputer di rumah, dan jaringan Wi-Fi yang berpotensi tidak aman, serta penggunaan alat akses jarak jauh seperti RDP masih menjadi masalah bagi tim infosec perusahaan,” jelas Adrian Hia, Managing Director untuk Asia PasifikdiKaspersky.
(dan)
Baca Berita Terkait Lainnya
Copyright ©2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
read/ rendering in 0.3097 seconds (0.1#10.140)