Influencer Ikut Kena Dampak Negatif Wabah COVID-19

Selasa, 11 Agustus 2020 - 23:12 WIB
loading...
A A A
“Dengan adanya pengurangan marketing budget ini, Gushcloud melihat ini sebagai sesuatu yang wajar karena banyak bisnis yang harus melakukan penyesuaian dengan lini pendapatan mereka yang terhantam keras oleh pandemi. Dalam beberapa bulan ke depan, semua perusahaan ini akan mampu menyesuaikan diri dengan pandemi dan kembali ke posisi spending seperti semula,” beber Oddie.

Whitepaper juga mengeksplorasi bagaimana keadaan dunia pasca-COVID-19. Audiens saat ini memiliki dengan kemampuan pembelian digital yang luas, pemegang merek dan influencer harus melihat dan memanfaatkan strategi e-commerce seperti live-commerce dan social commerce sebagai peluang pendapatan baru.

Dalam hal output konten, peluang baru dari adopsi format dan platform baru seperti TikTok, Twitch, dan Instagram Live diperkirakan akan bertahan untuk jangka Panjang. Pemegang merek dan influencer harus berupaya mengoptimalkan konten pemasaran mereka untuk platform ini.

Pada kesempatan yang sama, Lani Rahayu, AVP Social Media & Community Blibli.com mengungkapkan, pelaku industri dan brand juga harus menyesuaikan diri dalam memanfaatkan influencer marketing. Blibli, yang merupakan platform e-commerce, memiliki keunggulan lebih dalam melihat karakteristik pasar terutama dari kacamata pelanggan.

Sebagai sebuah brand, pihaknya juga harus mengambil satu langkah di depan pasar agar dapat memanfaatkan influencer marketing dengan maksimal. "Contoh, Blibli telah menerapkan hal ini saat mengadakan program live streaming Blibli 9th Anniversary: Bagi-Bagi Hepi yang terbukti sukses menarik perhatian, bahkan mereka yang belum menjadi pelanggan kami. Hal ini menunjukkan sinergi dan kolaborasi antara brand dan influencer adalah suatu keharusan di situasi New Normal,” tutur Lani.

Whitepaper menampilkan wawasan dari para profesional industri dari seluruh wilayah, dan juga dibentuk atas kolaborasi dengan Dr. Crystal Abidin (Internet Studies, Curtin University), seorang antropolog dan ahli etnografi yang meneliti budaya influencer, terutama hubungan kaum muda dengan selebriti internet, visibilitas online dan budaya pop media sosial. (Baca juga: Jumlah Paskibraka Tahun Ini Dipangkas, Menpora Minta Semangat Kemerdekaan Tidak Kendur )

“Memang, pandemi ini terbukti menjadi periode yang sangat sulit bagi seluruh industri. Namun, dengan adanya situasi ini juga menciptakan peluang baru untuk influencer, content creator, bisnis, dan agensi merek. Jika ada industri yang mampu gesit dan cepat untuk menyesuaikan dan beradaptasi dengan perubahan besar, itulah industri pencipta digital," simpul Althea Lim.
(iqb)
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2317 seconds (10.55#12.26)