Generasi Z Didorong Beretika saat Berinteraksi di Dunia Digital
Selasa, 16 Agustus 2022 - 13:37 WIB
Sehingga netizen diimbau menghindari echo chamber. Fenomena ini terjadi ketika seseorang hanya meyakini satu pihak di dunia digital. Kemudian enggan membuka diri terhadap informasi-informasi atau pendapat orang lain.
“Kita harus terus menambah wawasan, karena apa yang kita sampaikan tergantung dengan asupan kita. Jadi apa yang dikeluarkan di media sosial tergantung asupannya. Banyak membaca, harus membuka diri di media sosial sehingga tidak itu-itu saja. Kuasai teknik komunikasi di media sosial. Misal ketika berkomentar antara teman dan orang lain akan berbeda,” kata Fajar.
Sebagai respons untuk menanggapi perkembangan TIK ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi melakukan kolaborasi dan mencanangkan program Indonesia Makin Cakap Digital.
Program ini didasarkan pada empat pilar utama literasi digital yakni Kemampuan Digital, Etika Digital, Budaya Digital, dan Keamanan Digital. Melalui program ini, 50 juta masyarakat ditargetkan akan mendapat literasi digital pada tahun 2024.
“Kita harus terus menambah wawasan, karena apa yang kita sampaikan tergantung dengan asupan kita. Jadi apa yang dikeluarkan di media sosial tergantung asupannya. Banyak membaca, harus membuka diri di media sosial sehingga tidak itu-itu saja. Kuasai teknik komunikasi di media sosial. Misal ketika berkomentar antara teman dan orang lain akan berbeda,” kata Fajar.
Sebagai respons untuk menanggapi perkembangan TIK ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi melakukan kolaborasi dan mencanangkan program Indonesia Makin Cakap Digital.
Program ini didasarkan pada empat pilar utama literasi digital yakni Kemampuan Digital, Etika Digital, Budaya Digital, dan Keamanan Digital. Melalui program ini, 50 juta masyarakat ditargetkan akan mendapat literasi digital pada tahun 2024.
(wbs)
Lihat Juga :