Perang Usai, Krisis Baru Dimulai: Raksasa Teknologi Microsoft hingga Intel Hadapi Gelombang Relokasi Pegawai Israel
Selasa, 30 Desember 2025 - 13:44 WIB
IATI mencatat tren yang mengkhawatirkan: permintaan relokasi tidak hanya datang dari staf level bawah, melainkan meningkat tajam di kalangan eksekutif senior dan keluarga mereka.
Jika "kepala" dari operasi ini pergi, tubuh industri akan kehilangan arah. IATI memperingatkan bahwa tren ini, jika dibiarkan, "dapat merusak mesin inovasi lokal dan kepemimpinan teknologi Israel seiring berjalannya waktu."
"Dalam beberapa kasus, perusahaan yang menghadapi gangguan rantai pasok menemukan alternatif di luar Israel selama perang," tulis laporan tersebut. Poin kritisnya adalah: "ketika alternatif tersebut terbukti efisien, ada risiko bahwa aktivitas tersebut tidak akan sepenuhnya kembali ke Israel."
Sebanyak 57 persen perusahaan berhasil mempertahankan stabilitas aktivitas bisnis mereka sepanjang masa perang. Bahkan, ada anomali positif di mana 21 persen perusahaan justru memperluas operasi mereka di Israel.
Sebanyak 22 persen perusahaan melaporkan kerusakan nyata pada aktivitas bisnis mereka selama konflik berlangsung.
Jika "kepala" dari operasi ini pergi, tubuh industri akan kehilangan arah. IATI memperingatkan bahwa tren ini, jika dibiarkan, "dapat merusak mesin inovasi lokal dan kepemimpinan teknologi Israel seiring berjalannya waktu."
Sekali Pergi, Sulit Kembali
Laporan tahunan IATI juga menyoroti pergeseran strategi korporasi yang pragmatis. Beberapa perusahaan multinasional kini tengah mengkaji pemindahan investasi dan aktivitas operasional ke negara lain yang lebih stabil."Dalam beberapa kasus, perusahaan yang menghadapi gangguan rantai pasok menemukan alternatif di luar Israel selama perang," tulis laporan tersebut. Poin kritisnya adalah: "ketika alternatif tersebut terbukti efisien, ada risiko bahwa aktivitas tersebut tidak akan sepenuhnya kembali ke Israel."
Sebanyak 57 persen perusahaan berhasil mempertahankan stabilitas aktivitas bisnis mereka sepanjang masa perang. Bahkan, ada anomali positif di mana 21 persen perusahaan justru memperluas operasi mereka di Israel.
Sebanyak 22 persen perusahaan melaporkan kerusakan nyata pada aktivitas bisnis mereka selama konflik berlangsung.
(dan)
Lihat Juga :