Perang Usai, Krisis Baru Dimulai: Raksasa Teknologi Microsoft hingga Intel Hadapi Gelombang Relokasi Pegawai Israel

Selasa, 30 Desember 2025 - 13:44 WIB
loading...
Perang Usai, Krisis...
Pasca-gencatan senjata, sektor teknologi Israel justru menghadapi ancaman eksodus massal talenta terbaiknya. Foto: ist
A A A
YARUSALEM - Langit di atas Tel Aviv mungkin telah berhenti bergemuruh sejak gencatan senjata yang dipimpin Amerika Serikat disepakati dua bulan lalu, mengakhiri perang dua tahun yang melelahkan melawan Hamas.

Namun, di balik gedung-gedung kaca pencakar langit yang menjadi simbol kemajuan teknologi Israel, ada pertempuran lain.
Bukan lagi soal roket, melainkan soal hilangnya aset paling berharga negara tersebut: sumber daya manusia.

Laporan terbaru yang dirilis Minggu (28/12/2025) menyingkap fakta menggetarkan: mayoritas pekerja teknologi di perusahaan multinasional kini mendesak untuk angkat kaki dari Israel.

Asosiasi Industri Teknologi Maju Israel (IATI) mengatakan, sekitar 53 persen perusahaan melaporkan adanya lonjakan permintaan relokasi ke luar negeri dari karyawan Israel mereka.

Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan indikasi retaknya fondasi "Start-up Nation" yang selama ini dibanggakan.

Tulang Punggung Ekonomi yang Rapuh

Sektor teknologi bukanlah sekadar pelengkap di Israel, melainkan jantung yang memompa kehidupan bagi negara tersebut.

Sektor ini menyumbang sekitar 20 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Israel, menyediakan 15 persen dari total lapangan pekerjaan, dan yang paling mencengangkan, mendominasi lebih dari 50 persen total ekspor negara.

Ratusan perusahaan multinasional raksasa telah lama menjadikan Israel sebagai basis riset dan pengembangan (R&D) mereka.

Nama-nama besar seperti Microsoft, Intel, Nvidia, Amazon, Meta, dan Apple menanamkan modal dan kepercayaan mereka di sana.

Namun, ketidakpastian geopolitik pasca-perang 7 Oktober 2023 kini memaksa para raksasa ini dan karyawannya untuk menghitung ulang risiko.

IATI mencatat tren yang mengkhawatirkan: permintaan relokasi tidak hanya datang dari staf level bawah, melainkan meningkat tajam di kalangan eksekutif senior dan keluarga mereka.

Jika "kepala" dari operasi ini pergi, tubuh industri akan kehilangan arah. IATI memperingatkan bahwa tren ini, jika dibiarkan, "dapat merusak mesin inovasi lokal dan kepemimpinan teknologi Israel seiring berjalannya waktu."

Sekali Pergi, Sulit Kembali

Laporan tahunan IATI juga menyoroti pergeseran strategi korporasi yang pragmatis. Beberapa perusahaan multinasional kini tengah mengkaji pemindahan investasi dan aktivitas operasional ke negara lain yang lebih stabil.

"Dalam beberapa kasus, perusahaan yang menghadapi gangguan rantai pasok menemukan alternatif di luar Israel selama perang," tulis laporan tersebut. Poin kritisnya adalah: "ketika alternatif tersebut terbukti efisien, ada risiko bahwa aktivitas tersebut tidak akan sepenuhnya kembali ke Israel."

Sebanyak 57 persen perusahaan berhasil mempertahankan stabilitas aktivitas bisnis mereka sepanjang masa perang. Bahkan, ada anomali positif di mana 21 persen perusahaan justru memperluas operasi mereka di Israel.

Sebanyak 22 persen perusahaan melaporkan kerusakan nyata pada aktivitas bisnis mereka selama konflik berlangsung.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Israel Temukan Batu...
Israel Temukan Batu Suci Berusia 2.700 Tahun yang Tertulis dalam Alkitab
Siaga di Selat Hormuz,...
Siaga di Selat Hormuz, AS Gunakan Perahu Canggih Tanpa Awak
Iran Berniat Kembangan...
Iran Berniat Kembangan Rudal Balistik Antarbenua biar Tambah Menakutkan
Alasan AS Hidupkan Kembali...
Alasan AS Hidupkan Kembali Pesawat Pembom Supersonik B-1B Lancer
Kelemahan MQ-9 Reaper...
Kelemahan MQ-9 Reaper AS oleh Sistem Pertahanan Udara Iran Dibeberkan
Intelijen AS Sebut Iran...
Intelijen AS Sebut Iran Siapkan Drone yang Lebih Canggih dari yang Ada Sekarang
Tanpa Bantuan AS, Trump:...
Tanpa Bantuan AS, Trump: Israel Akan Hancur
Batalyon Israel Pembunuh...
Batalyon Israel Pembunuh Hind Rajab Dapat Pukulan Keras di Lebanon Selatan
Badan Intelijen AS Peringatkan...
Badan Intelijen AS Peringatkan Israel Bisa Sabotase Kesepakatan Perdamaian AS-Iran
Rekomendasi
Pendaftaran Pelatihan...
Pendaftaran Pelatihan Vokasi Batch 3 Resmi Dibuka, Kuotanya 20 Ribu Peserta
Daftar Saham Paling...
Daftar Saham Paling Cuan hingga Boncos Sepanjang IHSG Sepekan
Pesan AHY ke Praja IPDN:...
Pesan AHY ke Praja IPDN: Kesetiaan ASN Adalah kepada Bangsa dan Konstitusi
Berita Terkini
AI Impact Challenge,...
AI Impact Challenge, Microsoft, Komdigi, dan Dicoding Tampilkan Karya AI Terbaik Lulusan METC
Kedaulatan Digital Jadi...
Kedaulatan Digital Jadi Sorotan, Solusi AI Terintegrasi Siap Percepat Transformasi Industri
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Intel dan Nvidia Memulai...
Intel dan Nvidia Memulai Pertempuran Global Baru
Game Paling Ditunggu...
Game Paling Ditunggu Sedunia GTA 6 Akhirnya bisa Dipesan, Harganya Rp1,4 Juta
SpaceX: IPO Terbesar...
SpaceX: IPO Terbesar Sejarah, Eforia Tercepat yang Menguap
Infografis
Perang Dimulai! 100...
Perang Dimulai! 100 Rudal dan Drone Iran Diluncurkan ke Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved