Kondisi Bumi saat Kiamat Terjadi Berdasarkan Riset Terbaru Ilmuwan

Senin, 04 November 2024 - 20:53 WIB
“Benua super yang baru muncul ini pada dasarnya akan menciptakan tiga dampak buruk, yang terdiri dari efek kontinentalitas, matahari yang lebih panas, dan lebih banyak CO₂ di atmosfer, yang akan meningkatkan panas di sebagian besar planet ini,” katanya.

Efek kontinentalitas terjadi ketika lebih banyak daratan yang menjauh dari efek pendinginan lautan. Matahari yang lebih panas akan terjadi di masa mendatang, menjadi lebih terang dan memancarkan lebih banyak energi yang akan menyebabkan Bumi memanas.

Peningkatan karbon dioksida akan menjadi hasil dari aktivitas vulkanik yang meluas akibat pergerakan tektonik. "Suhu yang meluas antara 40 hingga 50 derajat Celsius, dan bahkan suhu ekstrem harian yang lebih tinggi, yang diperparah oleh tingkat kelembapan yang tinggi pada akhirnya akan menentukan nasib kita," tambah Dr. Farnsworth.

“Manusia — bersama dengan banyak spesies lainnya — akan mati karena ketidakmampuan mereka mengeluarkan panas ini melalui keringat, yang mendinginkan tubuh mereka.”

Mamalia juga akan kesulitan mencari makanan karena suhu panas dan kekeringan yang ekstrem di sebagian besar wilayah daratan. Setelah Pangea Ultima terbentuk, hanya sekitar delapan persen hingga 16 persen daratan yang dapat dihuni mamalia, menurut penelitian tersebut.

Benua super itu masih jutaan tahun lagi. Namun, krisis iklim sudah mengancam umat manusia. Para ilmuwan mengatakan kita harus tetap waspada terhadap masalah yang ada.

“Sangat penting untuk tidak melupakan Krisis Iklim kita saat ini, yang merupakan akibat dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan manusia,” kata salah satu penulis, Dr. Eunice Lo, Peneliti Perubahan Iklim dan Kesehatan di Universitas Bristol.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!