Dampak Pemanasan Global Kian Mengerikan, India hingga Amerika Diterjang Banjir Bandang

Selasa, 11 Juli 2023 - 08:05 WIB

Saling Terkait

Meski banjir yang merusak di India, Jepang, Cina, Turki, Indonesia, dan Amerika Serikat mungkin tampak seperti tidak terkait karena jarak yang sangat jauh, tapi ilmuwan menemukan garis merahnya.

Ilmuwan yang meneliti atmosfer mengatakan bahwa kejadian bencana tersebut memiliki kesamaan: badai terbentuk di atmosfer yang lebih hangat, membuat curah hujan yang ekstrem muncul lebih sering. Ilmuwan juga menyebut hal tersebut akan terus bertambah buruk.

Ini karena atmosfer yang lebih hangat menahan lebih banyak kelembapan, yang mengakibatkan badai membuang lebih banyak curah hujan yang dapat berakibat fatal.

Polutan, terutama karbon dioksida dan metana, memanaskan atmosfer. Alih-alih membiarkan panas memancar dari Bumi ke luar angkasa, mereka menahannya.

Meski perubahan iklim bukan penyebab badai yang melepaskan curah hujan, badai ini terbentuk di atmosfer yang menjadi lebih hangat dan lebih basah.

“Enam puluh delapan derajat Fahrenheit dapat menampung air dua kali lebih banyak daripada 50 derajat Fahrenheit," kata Rodney Wynn, seorang ahli meteorologi di National Weather Service di Tampa Bay.

“Udara hangat mengembang dan udara dingin berkontraksi. Anda dapat menganggapnya sebagai balon. Ketika dipanaskan, volumenya akan menjadi lebih besar, sehingga dapat menahan lebih banyak kelembapan,” ungkapnya.

Di setiap 1 derajat Celcius, yang sama dengan 1,8 derajat Fahrenheit, atmosfer menghangat, dan menyimpan kelembapan sekitar 7% lebih banyak. Menurut NASA, suhu global rata-rata telah meningkat setidaknya 1,1 derajat Celcius (1,9 derajat Fahrenheit) sejak 1880.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!