Uji Publik Revisi PP Telekomunikasi Idealnya Sebulan

Senin, 21 November 2016 - 20:25 WIB
Uji Publik Revisi PP...
Uji Publik Revisi PP Telekomunikasi Idealnya Sebulan
A A A
JAKARTA - Uji publik revisi Peraturan Pemerintah (PP) No 52 tentang Telekomunikasi dan PP No. 53 tentang Spektrum, Frekuensi Radio dan Orbit Satelit yang berakhir pada 20 November 2016 silam memicu sorotan dari berbagai pihak. Salah satunya karena waktu yang terlalu singkat.

”Idealnya, proses tersebut dilakukan dalam kurun waktu 30 hari,” beber Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB Ridwan Effendi pada SINDOnews.

Ridwan menilai, sejumlah pasal di revisi PP 52/53 memang memberikan manfaat bagi industri telekomunikasi dan masyarakat. Misalnya, kewajiban bagi operator untuk mendahulukan kepentingan umum dan masyarakat ketika ada bahaya atau terjadi bencana alam.

Namun, tidak sedikit pasal di revisi PP 52/53 berpotensi merusak industri telekomunikasi. Salah satunya, diwajibkannya berbagi jaringan atau network sharing antar penyelenggara jaringan telekomunikasi, menurutnya berpotensi merugikan industri telekomunikasi yang saat ini telah berjalan dengan baik.

Ridwan beranggapan, jika network sharing diwajibkan bagi operator telekomunikasi yang telah membangun jaringan, kapasitas yang mereka miliki dipastikan akan berkurang karena dimanfaatkan oleh operator lain.

Padahal ketika sewa menyewa jaringan, ada perjanjian kualitas layanan yang harus dijaga. Sehingga network sharing ini akan berpotensi buruk kepada operator yang memiliki jaringan atau menyewakan jaringan.

Komisaris Ombudsman, Alamsyah Saragih, juga menilai proses revisi kedua PP tidak sejalan dengan UU No.12 tahun 2011 tentang Tata Cara Perumusan Perundang-undangan yang harus melibatkan masyarakat dalam memberi masukan, baik lisan dan tulisan.

"Enam hari terlalu singkat karena semua masukan harus dipaparkan. Prosesnya belum memenuhi tahap transparansi publikasi, karena tidak ada jaminan masukan publik dikompilasi dan publikasi,” beber Alamsyah.

Ia menilai, Kominfo terkesan buru-buru dan memaksakan revisi PP itu untuk diresmikan. Alamsyah menyarankan, seharusnya sebelum menerbitkan PP baru, Kemenkominfo bisa merevisi UU tersebut terlebih dulu. "Seharusnya UU diperbaiki, revisi PP, lalu konsultasi publik. Alangkah baiknya revisi PP ini ditunda dulu," ujar dia
(dol)
Berita Terkait
Jangkau Semua Wilayah...
Jangkau Semua Wilayah di Indonesia, SPL dan Protelindo Siapkan Teknologi HAPS
Edgepoint Bangun 15.000...
Edgepoint Bangun 15.000 Menara Telekomunikasi di Malaysia, Indonesia, Filipina
Hampir 100% Operasional...
Hampir 100% Operasional Telkomsel Dikendalikan dari Rumah
HUT ke-25 Tahun, Telkomsel...
HUT ke-25 Tahun, Telkomsel Melayani Masyarakat untuk Kemajuan Indonesia
Kualitas Infrastruktur...
Kualitas Infrastruktur Jaringan Telekomunikasi selama Mudik 2023 Terjaga
Tawarkan Layanan Data...
Tawarkan Layanan Data 'Bebas Khawatir', Benarkah akan Ada Operator Baru?
Berita Terkini
Hadirkan Panggung Hiburan...
Hadirkan Panggung Hiburan dan Aksi Sosial, Truk SnackVideo 2026 Keliling Berbagai Daerah
2 jam yang lalu
BRIN Teliti Rafflesia...
BRIN Teliti Rafflesia Anambas yang Viral, Bunga Langka Jenis Baru?
2 jam yang lalu
RTX 5070Ti, OLED, dan...
RTX 5070Ti, OLED, dan Bola Sepak: Laptop Piala Dunia Buatan Lenovo Ini Harganya Rp62 Juta
3 jam yang lalu
Helikopter S-300 Tak...
Helikopter S-300 Tak Berawak Jadi Senjata Anti-kapal Selam
4 jam yang lalu
X Luncurkan Fitur Reaksi...
X Luncurkan Fitur Reaksi Video untuk Pengguna iOS
9 jam yang lalu
WhatsApp Menguji Fungsi...
WhatsApp Menguji Fungsi Fitur Lihat Sekali untuk Pesan
23 jam yang lalu
Infografis
Bacaan Niat Puasa Ramadan...
Bacaan Niat Puasa Ramadan untuk Harian dan Sebulan Penuh
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved