Tersisa 50 Ekor, Spesies Paus Baru Ditemukan Hidup Eksklusif di Perairan AS
Kamis, 20 Oktober 2022 - 17:25 WIB
loading...
Foto udara paus Rice di Teluk Meksiko. Spesies ini secara resmi dinamai pada tahun 2021 dan hanya ditemukan di wilayah timur laut teluk, menjadikannya satu-satunya spesies paus yang endemik di perairan AS. Foto/NOAA
A
A
A
WASHINGTON - Spesies paus baru ditemukan hidup di perairan Amerika Serikat (AS), namun keberadaannya sudah berada di ambang kepunahan. Sekelompok ilmuwan menyampaikan surat terbuka kepada Presiden AS Joe Biden untuk mengambil Tindakan penyelamatan terhadap Paus Rice yang jumlahnya tinggal 50 ekor.
Paus Rice, juga dikenal sebagai paus Teluk Meksiko (Balaenoptera ricei), adalah paus balin yang endemik di wilayah timur laut Teluk Meksiko. Paus Rice merupakan satu-satunya spesies cetacea yang hidup secara eksklusif di perairan AS.
Spesies ini sebelumnya salah diidentifikasi sebagai populasi terisolasi paus Bryde (Balaenoptera brydei), yang dapat ditemukan di seluruh dunia. Tetapi pada Januari 2021, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Marine Mammal Science menganalisis individu yang terdampar mati di pantai dan menemukan bahwa paus Rice secara morfologis dan genetik berbeda dari paus Bryde.
Baca juga; Tawuran Massal di Lautan, 15 Orca Keroyok 2 Paus Bungkuk Betina
Spesies yang baru ditemukan ini dapat tumbuh hingga panjang 40 kaki atau 12 meter dan memiliki salah satu repertoar vokal paling kompleks dari semua spesies paus yang dikenal. Para peneliti memperkirakan hanya ada 51 paus Rice yang tersisa. Populasi kecil berada di bawah ancaman dari industri minyak dan gas, serta lalu lintas kapal yang berlebihan dan alat tangkap yang ditinggalkan.
Spesies ini terdaftar sebagai sangat terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List of Threatened Species, dan juga dilindungi oleh US Endangered Species Act, serta Marine Mamamal Protection Act. Untuk itu, para ilmuwan meminta pemerintah AS untuk berbuat lebih banyak untuk melindungi paus Rice sebelum musnah selamanya.
“Dengan kelimpahan yang sangat rendah, hilangnya satu paus pun mengancam kelangsungan hidup spesies ini. Kecuali tindakan konservasi yang signifikan diambil, Amerika Serikat kemungkinan akan menyebabkan kepunahan antropogenik pertama spesies paus besar,” tulis para peneliti dikutip SINDOnews dari laman LiveScience, Kamis (20/10/2022).
Paus Rice, juga dikenal sebagai paus Teluk Meksiko (Balaenoptera ricei), adalah paus balin yang endemik di wilayah timur laut Teluk Meksiko. Paus Rice merupakan satu-satunya spesies cetacea yang hidup secara eksklusif di perairan AS.
Spesies ini sebelumnya salah diidentifikasi sebagai populasi terisolasi paus Bryde (Balaenoptera brydei), yang dapat ditemukan di seluruh dunia. Tetapi pada Januari 2021, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Marine Mammal Science menganalisis individu yang terdampar mati di pantai dan menemukan bahwa paus Rice secara morfologis dan genetik berbeda dari paus Bryde.
Baca juga; Tawuran Massal di Lautan, 15 Orca Keroyok 2 Paus Bungkuk Betina
Spesies yang baru ditemukan ini dapat tumbuh hingga panjang 40 kaki atau 12 meter dan memiliki salah satu repertoar vokal paling kompleks dari semua spesies paus yang dikenal. Para peneliti memperkirakan hanya ada 51 paus Rice yang tersisa. Populasi kecil berada di bawah ancaman dari industri minyak dan gas, serta lalu lintas kapal yang berlebihan dan alat tangkap yang ditinggalkan.
Spesies ini terdaftar sebagai sangat terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List of Threatened Species, dan juga dilindungi oleh US Endangered Species Act, serta Marine Mamamal Protection Act. Untuk itu, para ilmuwan meminta pemerintah AS untuk berbuat lebih banyak untuk melindungi paus Rice sebelum musnah selamanya.
“Dengan kelimpahan yang sangat rendah, hilangnya satu paus pun mengancam kelangsungan hidup spesies ini. Kecuali tindakan konservasi yang signifikan diambil, Amerika Serikat kemungkinan akan menyebabkan kepunahan antropogenik pertama spesies paus besar,” tulis para peneliti dikutip SINDOnews dari laman LiveScience, Kamis (20/10/2022).

Lihat Juga :