Spesifikasi Roket Long March 5B China yang Jatuh di Samudra Hindia

Selasa, 05 Juli 2022 - 18:59 WIB
loading...
Spesifikasi Roket Long...
Roket Long March 5B meluncurkan Tianhe, modul inti stasiun ruang angkasa baru China, pada 28 April 2021. Foto/CASC/Space.com
A A A
BEIJING - China mengembangkan roket Long March 5 pada awal tahun 2000-an untuk menggantikan roket Long March 2, 3 dan 4 yang sudah tua. Long March 5 merupakan roket dua tahap dan empat pendorong yang baru memiliki panjang 57 meter dan diameter 5 meter.

Dikutip SINDOnews dari laman Space.com, Selasa (5/7/2022), roket Long March 5 adalah yang terbesar dan terluas di China, sehingga mampu mengangkat muatan seberat 14.000 kg ke orbit transfer geosynchronous. Roket tersebut telah memungkinkan China untuk meluncurkan misi antarplanet pertamanya, Tianwen 1, ke Mars, serta misi pengembalian sampel bulan Chang'e 5.

Penerbangan pertama datang pada November 2016, membawa satelit komunikasi baru yang besar. Peluncuran kedua, pada Juli 2017, gagal, membuat roket di-ground selama sekitar 900 hari, sementara masalah desain dengan mesin turbopump YF-77 diisolasi dan diperbaiki.

Baca juga; AS Kritik China Tak Transparan Soal Puing-puing Roket China Long March 5B

Varian Long March 5B tidak memiliki tahap kedua dan dirancang khusus untuk meluncurkan tiga modul stasiun ruang angkasa China yang besar, sekitar 22.000 kg ke orbit. Long March 5 dan 5B diluncurkan dari pelabuhan antariksa pantai yang dibangun khusus di Wenchang di pulau Hainan.

Peluncuran pertama Long March 5B menempatkan prototipe pesawat ruang angkasa awak generasi baru ke LEO pada tahun 2020 dan meluncurkan modul inti stasiun ruang angkasa Tianhe 1 pada April 2021. Tahap pertama dari kedua roket Long March 5B ini akhirnya membuat profil tinggi , entri ulang yang tidak terkontrol.

Dikutip dari laman Spacenews.com, Long March 5B, varian roket terbesar China, berhasil meluncurkan modul Tianhe 22,5 metrik ton dari Wenchang Kamis 30 April 2021 waktu setempat. Tianhe terpisah dari tahap inti peluncur setelah 492 detik penerbangan, langsung memasuki orbit awal yang direncanakan.

Dirancang khusus untuk meluncurkan modul stasiun ruang angkasa ke orbit rendah Bumi, Long March 5B secara unik menggunakan tahap inti dan empat penguat samping untuk menempatkan muatannya langsung ke orbit rendah Bumi.

Baca juga; Puing Roket Long March 5B Sudah Jatuh ke Bumi, Diperkirakan Dekat Maladewa

Namun tahap inti ini sekarang juga berada di orbit dan kemungkinan akan masuk kembali secara tidak terkendali enam hari kemudian akibat interaksi yang berkembang dengan atmosfer menyeretnya ke Bumi. Ini menjadi salah satu contoh terbesar masuknya kembali pesawat ruang angkasa yang tidak terkendali ke Bumi.

Menurut Skuadron Kontrol Luar Angkasa ke-18 Angkatan Luar Angkasa AS, roket Long March 5B masuk kembali ke Bumi saat berada di atas Samudra Atlantik. Radar berbasis darat yang digunakan oleh militer AS melacak tahap inti Long March 5 dengan panjang sekitar 30 meter dan lebar 5 meter, berada di orbit ketinggian 372 kilometer dengan kecepatan lebih dari tujuh kilometer per detik.

Perusahaan riset yang didanai federal The Aerospace Corporation memposting tweet yang memprediksi puing roket mendarat pada pukul 4:19 GMT pada hari Minggu pagi di area dekat pulau utara Selandia Baru. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin mengatakan bahwa itu adalah "praktik umum" di seluruh dunia untuk roket tingkat atas terbakar saat memasuki kembali atmosfer.

“China mengikuti dengan cermat masuknya kembali tahap atas ke atmosfer. Sepengetahuan saya, bagian atas roket ini telah dinonaktifkan, yang berarti sebagian besar bagiannya akan terbakar saat masuk kembali, membuat kemungkinan kerusakan pada fasilitas dan aktivitas penerbangan atau darat sangat rendah,” katanya di situs kementerian.
(wib)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China Diam-diam Simpan...
China Diam-diam Simpan Ribuan Server di Dasar Laut, Apa Tujuannya?
Korea Selatan Kembangkan...
Korea Selatan Kembangkan Teknologi Mesin Metana untuk Roket Luar Angkasa
Nvidia Siap Gandeng...
Nvidia Siap Gandeng Perusahaan China demi Kembangkan Robot Super Humanoid
China Kenalkan Sistem...
China Kenalkan Sistem Identitas Digital untuk Robot Humanoid
China Siapkan Kerangka...
China Siapkan Kerangka Hukum untuk Mengatur Kecerdasan Buatan
AS dan China Berlomba...
AS dan China Berlomba Bangun Pusat Data AI di Luar Angkasa
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Rekomendasi
Rieke Diah Pitaloka...
Rieke Diah Pitaloka Dikritik Akademisi: Melihat Dukungan Manajemen Jangan Sempit
Wamenhaj: Transparansi...
Wamenhaj: Transparansi jadi Kunci Berantas Kartel Haji
Menkomdigi Ajak Generasi...
Menkomdigi Ajak Generasi Muda Jadi Duta Internet Sehat dan Lawan Kejahatan Digital
Berita Terkini
Superkomputer Prediksi...
Superkomputer Prediksi 4 Pesepak Bola yang Bersinar di Piala Dunia 2026
Fenomena Titik Dingin...
Fenomena Titik Dingin Atlantik Utara Terdeteksi, Tanda-tanda Bumi Sekarat Kian Nyata
Eropa Wajibkan Pelabelan...
Eropa Wajibkan Pelabelan Konten yang Dihasilkan AI
Adu Otak Bukan Otot:...
Adu Otak Bukan Otot: Lus Figo dan Ambisi Baru Game Mobile di Indonesia
Revolusi AI di Layar...
Revolusi AI di Layar Kaca: TV Premium LG 2026 Mengerti Logat Indonesia
Dari Bangkrut Saat Krisis...
Dari Bangkrut Saat Krisis 2008, MrBeast Kini Pimpin 1.000 Karyawan dan 500 Juta Pengikut
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved