Batu Unta di Arab Saudi Ternyata Lebih Tua dari Piramida dan Stonehenge
Rabu, 01 Desember 2021 - 06:14 WIB
loading...
A
A
A
Guillaume Charloux, arkeolog Prancis yang menemukan patung-patung unta di Al-Jawf mengatakan, ini bagian dari tradisi seni cadas Neolitik yang lebih tua dan lebih luas. Itu ditandai dengan penggambaran unta yang naturalistik dan seukuran aslinya. Satu-satunya perbedaan adalah patung unta di Al-Jawf sedikit tampak lebih tiga dimensi.
Tim arkeolog yang dipimpin Charloux, bersama arkeolog Maria Guagnin - mencoba menggunakan berbagai alat ukur untuk menentukan usianya. Apalagi setelah ribuan tahun patung-patung itu berada dalam kondisi yang sangat buruk, membuat sulit untuk dipelajari. (Baca juga; Penemuan Situs Green Arabia, Arkeolog Temukan Sisa Danau Purba dan Tulang Kuda Nil )
Para arkeolog dapat menggunakan penanggalan optically stimulating luminescence (OSL) untuk menelusuri kembali proses erosi ke titik waktu ketika batu unta masih belum tersentuh. Ingin seyakin mungkin, para arkeolog menggunakan sejumlah alat ukur lain untuk menguji hipotesis. Selain OSL, mereka juga menggunakan spektrometri fluoresensi sinar-X untuk menguji pahatan dan kandungan bahan kimia mangan yang dapat terurai.
Lithics yang ditemukan di situs terdekat juga diberi tanggal, begitu juga sejumlah tulang. Biasanya, kerangka diberi tanggal berdasarkan jumlah kolagen tulang yang dikandungnya. Namun, karena kolagen kurang terpelihara di lingkungan gurun, para arkeolog memilih untuk menguji mineral bioapatit dan karbonat hidroksiapatit sebagai gantinya.
Akhirnya diperkirakan usia patung-patung batu unta adalah 7.000 dan 8.000 tahun. Penelitian itu diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science awal bulan ini. (Baca juga; Mengapa Salju Turun di Arab Saudi: Benarkah Ini Fenomena Langka? )
Tim arkeolog yang dipimpin Charloux, bersama arkeolog Maria Guagnin - mencoba menggunakan berbagai alat ukur untuk menentukan usianya. Apalagi setelah ribuan tahun patung-patung itu berada dalam kondisi yang sangat buruk, membuat sulit untuk dipelajari. (Baca juga; Penemuan Situs Green Arabia, Arkeolog Temukan Sisa Danau Purba dan Tulang Kuda Nil )
Para arkeolog dapat menggunakan penanggalan optically stimulating luminescence (OSL) untuk menelusuri kembali proses erosi ke titik waktu ketika batu unta masih belum tersentuh. Ingin seyakin mungkin, para arkeolog menggunakan sejumlah alat ukur lain untuk menguji hipotesis. Selain OSL, mereka juga menggunakan spektrometri fluoresensi sinar-X untuk menguji pahatan dan kandungan bahan kimia mangan yang dapat terurai.
Lithics yang ditemukan di situs terdekat juga diberi tanggal, begitu juga sejumlah tulang. Biasanya, kerangka diberi tanggal berdasarkan jumlah kolagen tulang yang dikandungnya. Namun, karena kolagen kurang terpelihara di lingkungan gurun, para arkeolog memilih untuk menguji mineral bioapatit dan karbonat hidroksiapatit sebagai gantinya.
Akhirnya diperkirakan usia patung-patung batu unta adalah 7.000 dan 8.000 tahun. Penelitian itu diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science awal bulan ini. (Baca juga; Mengapa Salju Turun di Arab Saudi: Benarkah Ini Fenomena Langka? )
Lihat Juga :