WHO Sebut Warga Asia Tenggara Paling Beresiko Jam kerja Panjang
Selasa, 18 Mei 2021 - 07:08 WIB
loading...
A
A
A
Manajer program regulasi yang bekerja untuk HSBC baru saja duduk pada hari Minggu sore untuk mempersiapkan minggu kerja yang akan datang ketika dia merasakan sesak di dadanya, tenggorokan, rahang dan lengan berdenyut-denyut, dan kesulitan bernapas.
"Saya pergi ke kamar tidur agar saya bisa berbaring, dan mendapat perhatian dari istri saya yang menelepon panggilan darurat," katanya seperti dikutip BBC News.
BACA JUGA: Pilot Amerika Ini Mengaku Setiap Hari Selalu Diawasi UFO
Saat memulihkan diri dari serangan jantungnya, Tuan Frostick memutuskan untuk menyusun kembali pendekatannya untuk bekerja. "Saya tidak menghabiskan sepanjang hari di Zoom lagi," katanya.
Sementara studi WHO tidak mencakup periode pandemi, pejabat WHO mengatakan lonjakan baru-baru ini pada pekerja jarak jauh dan perlambatan ekonomi mungkin telah meningkatkan risiko terkait dengan jam kerja yang panjang.
"Kami memiliki beberapa bukti yang menunjukkan bahwa ketika negara-negara di-lockdown, jumlah jam kerja meningkat sekitar 10%," kata petugas teknis WHO, Frank Pega.
Laporan tersebut mengatakan jam kerja yang panjang diperkirakan bertanggung jawab atas sekitar sepertiga dari semua penyakit yang terkait dengan pekerjaan, menjadikannya beban penyakit akibat kerja terbesar.
"Saya pergi ke kamar tidur agar saya bisa berbaring, dan mendapat perhatian dari istri saya yang menelepon panggilan darurat," katanya seperti dikutip BBC News.
BACA JUGA: Pilot Amerika Ini Mengaku Setiap Hari Selalu Diawasi UFO
Saat memulihkan diri dari serangan jantungnya, Tuan Frostick memutuskan untuk menyusun kembali pendekatannya untuk bekerja. "Saya tidak menghabiskan sepanjang hari di Zoom lagi," katanya.
Sementara studi WHO tidak mencakup periode pandemi, pejabat WHO mengatakan lonjakan baru-baru ini pada pekerja jarak jauh dan perlambatan ekonomi mungkin telah meningkatkan risiko terkait dengan jam kerja yang panjang.
"Kami memiliki beberapa bukti yang menunjukkan bahwa ketika negara-negara di-lockdown, jumlah jam kerja meningkat sekitar 10%," kata petugas teknis WHO, Frank Pega.
Laporan tersebut mengatakan jam kerja yang panjang diperkirakan bertanggung jawab atas sekitar sepertiga dari semua penyakit yang terkait dengan pekerjaan, menjadikannya beban penyakit akibat kerja terbesar.
Lihat Juga :