Perlukah Uninstall WhatsApp dan Beralih ke Telegram atau Signal? Ini Jawabannya...
Rabu, 13 Januari 2021 - 09:01 WIB
loading...
A
A
A
Sejak dibeli Facebook, WhatsApp memang selalu ingin jadi layanan gratis . Dan strategi itu sukses membuat WhatsApp jadi aplikasi chatting terbesar di dunia dengan 2 juta pengguna aktif bulanan (monthly active user).
Di 2020, Facebook selaku pemilik WhatsApp ingin mengutilisasi aplikasi tersebut untuk lebih banyak mengeruk cuan.
Dengan Privacy Policy baru, WhatsApp mengklaim akan membuat pebisnis lebih mudah berinteraksi dengan individu/konsumen mereka, serta membuat UMKM memiliki layanan yang lebih baik.
Tapi, perubahan itu juga membuat Facebook bisa merekam data bagaimana Anda berinteraksi dengan toko, gerai, perusahaan, serta UMKM yang menggunakan akun WhatsApp Business. Sehingga, Facebook juga bisa memberikan rekomendasi beragam bisnis/toko yang relevan untuk Anda (lewat targetted advertising) di platform-platform yang dimiliki Facebook seperti aplikasi
Facebook itu sendiri, Instagram, dan Facebook Messenger.
BACA JUGA: Buntut dari Aturan Baru, Pengguna WhatsApp Anjlok 11% secara Global
Sederhananya, Facebook ingin melakukan interkoneksi antara aplikasi Instagram, Facebook Messenger, Facebook, dan WhatsApp. Contohnya saja, nanti mungkin jika WhatsApp Pay sudah beroperasi di Indonesia, maka layanan tersebut bisa digunakan juga di Instagram. Jadi, kita bisa berbelanja barang di Instagram lewat WhatsApp Pay.
Kenapa WhatsApp ngotot sekali agar pengguna comply atau tunduk terhadap aturan baru ini sampai rela kehilangan pengguna? Sebab, jika aturan ini tidak disetujui, maka interkoneksi Facebook tidak akan terjadi. Padahal, dari situlah sumber cuan terbesar Facebook selanjutnya. Dari sisi iklan, data pengguna, juga transaksi pembayaran.
Baca juga : Masker Pintar Razer Tidak Hanya Keren, Tapi Proteksinya Setara N95
Nah, kecuali Anda tinggal di Eropa yang memiliki proteksi sangat ketat soal regulasi terkait privasi ini, Anda tidak bisa menolak kemauan Mark Zuckerberg. Mau tidak mau Anda akan memilih opsi B, yakni tetap menggunakan WhatsApp seperti biasa.
Apa Alternatif Pengganti WhatsApp?
Baiklah, Andai Anda ngotot untuk memilih opsi A dengan uninstall WhatsApp, lantas apa penggantinya? Banyak kok. Bisa kok. Tapi juga banyak dan bisa juga memunculkan masalah baru.
Pertama, Anda bisa kembali ke SMS dan telepon seperti biasa. Dengan koneksi 4G LTE operator yang terbilang cepat, teknologi SMS dan telepon terasa kuno dan mahal. Kenapa? Karena cara berkomunikasi Anda sudah jauh berubah dari katakan 5 tahun silam. Anda berkirim pesan dalam durasi yang cepat dan banyak, juga aktif berkirim video serta gambar/meme.
Kedua, menggunakan aplikasi chatting setara WhatsApp. Kandidat terdekat Telegram, kalau Anda percaya dengan perusahaan Rusia. Lalu, ada aplikasi chatting open source Signal yang belakangan ramai disebut-sebut sangat aman. Dan ketiga, jangan lupakan Line asal Jepang yang sudah lama ada di Indonesia.
Tidak Semudah Itu, Ferguso!
Mungkin banyak yang lupa fakta ini: siapapun bisa membuat aplikasi chatting atau online messenger. Tapi, pemenang di pasar bisa dihitung jari. Setelah peralihan dari BlackBerry Messenger (BBM) yang sempat dominan di Indonesia, tidak sedikit perusahaan online messenger yang berupaya merebut pengguna Indonesia yang sangat gurih.
Sebut saja semua satu-satu: Line, BBM, KakaoTalk, Viber, Telegram, WeChat, MiChat, iMessage, Facebook Messenger, Signal.
Di 2020, Facebook selaku pemilik WhatsApp ingin mengutilisasi aplikasi tersebut untuk lebih banyak mengeruk cuan.
Dengan Privacy Policy baru, WhatsApp mengklaim akan membuat pebisnis lebih mudah berinteraksi dengan individu/konsumen mereka, serta membuat UMKM memiliki layanan yang lebih baik.
Tapi, perubahan itu juga membuat Facebook bisa merekam data bagaimana Anda berinteraksi dengan toko, gerai, perusahaan, serta UMKM yang menggunakan akun WhatsApp Business. Sehingga, Facebook juga bisa memberikan rekomendasi beragam bisnis/toko yang relevan untuk Anda (lewat targetted advertising) di platform-platform yang dimiliki Facebook seperti aplikasi
Facebook itu sendiri, Instagram, dan Facebook Messenger.
BACA JUGA: Buntut dari Aturan Baru, Pengguna WhatsApp Anjlok 11% secara Global
Sederhananya, Facebook ingin melakukan interkoneksi antara aplikasi Instagram, Facebook Messenger, Facebook, dan WhatsApp. Contohnya saja, nanti mungkin jika WhatsApp Pay sudah beroperasi di Indonesia, maka layanan tersebut bisa digunakan juga di Instagram. Jadi, kita bisa berbelanja barang di Instagram lewat WhatsApp Pay.
Kenapa WhatsApp ngotot sekali agar pengguna comply atau tunduk terhadap aturan baru ini sampai rela kehilangan pengguna? Sebab, jika aturan ini tidak disetujui, maka interkoneksi Facebook tidak akan terjadi. Padahal, dari situlah sumber cuan terbesar Facebook selanjutnya. Dari sisi iklan, data pengguna, juga transaksi pembayaran.
Baca juga : Masker Pintar Razer Tidak Hanya Keren, Tapi Proteksinya Setara N95
Nah, kecuali Anda tinggal di Eropa yang memiliki proteksi sangat ketat soal regulasi terkait privasi ini, Anda tidak bisa menolak kemauan Mark Zuckerberg. Mau tidak mau Anda akan memilih opsi B, yakni tetap menggunakan WhatsApp seperti biasa.
Apa Alternatif Pengganti WhatsApp?
Baiklah, Andai Anda ngotot untuk memilih opsi A dengan uninstall WhatsApp, lantas apa penggantinya? Banyak kok. Bisa kok. Tapi juga banyak dan bisa juga memunculkan masalah baru.
Pertama, Anda bisa kembali ke SMS dan telepon seperti biasa. Dengan koneksi 4G LTE operator yang terbilang cepat, teknologi SMS dan telepon terasa kuno dan mahal. Kenapa? Karena cara berkomunikasi Anda sudah jauh berubah dari katakan 5 tahun silam. Anda berkirim pesan dalam durasi yang cepat dan banyak, juga aktif berkirim video serta gambar/meme.
Kedua, menggunakan aplikasi chatting setara WhatsApp. Kandidat terdekat Telegram, kalau Anda percaya dengan perusahaan Rusia. Lalu, ada aplikasi chatting open source Signal yang belakangan ramai disebut-sebut sangat aman. Dan ketiga, jangan lupakan Line asal Jepang yang sudah lama ada di Indonesia.
Tidak Semudah Itu, Ferguso!
Mungkin banyak yang lupa fakta ini: siapapun bisa membuat aplikasi chatting atau online messenger. Tapi, pemenang di pasar bisa dihitung jari. Setelah peralihan dari BlackBerry Messenger (BBM) yang sempat dominan di Indonesia, tidak sedikit perusahaan online messenger yang berupaya merebut pengguna Indonesia yang sangat gurih.
Sebut saja semua satu-satu: Line, BBM, KakaoTalk, Viber, Telegram, WeChat, MiChat, iMessage, Facebook Messenger, Signal.
Lihat Juga :