Keajaiban Video Game di Layar Lebar Indonesia Buat Film Lebih Wow
Kamis, 17 Desember 2020 - 06:45 WIB
loading...
A
A
A
Penataan Ulang Produksi Film
Quentin Staes-Polet, menuturkan, produksi film secara virtual, yang ditenagai oleh teknologi video game, akan menjadi pendobrak cara kita membuat konten di masa depan. Mulai dari produksi DIY digital hingga blockbuster di masa depan. (Baca juga: Inter Bungkam Napoli, AC Milan Ditahan Imbang Genoa )
Dengan kemampuannya menghemat waktu dan ongkos produksi, maka produksi film secara virtual dapat menjadi penyelamat banyak perusahaan pembuat film. Contohnya, dengan menggunakan teknologi game seperti Unreal Engine, pembuat film bisa membangun environment digital yang dapat meniru frame render final.
Teknologi ini membuat seluruh tim produksi memiliki visi produk final yang sama. "Perubahan apapun bisa digabungkan kembali secara berulang-ulang dan kolaboratif, yang pada dasarnya telah mengubah pipeline pembuatan film tradisional yang kaku menjadi proses pararel yang mempersingkat waktu produksi secara keseluruhan. Keputusan kreatif tentang pengambilan gambar dan sequence bisa diambil lebih awal dan tak perlu menunggu sampai fase pascaproduksi.
Manfaat penting lainnya dalam menggunakan game engine adalah teknologinya real-time, sehingga akan memberikan keuntungan luar biasa dalam produksi virtual. Ketika diterapkan pada pembuatan film, rendering langsung akan mengurangi unsur ketidakpastian dalam proses pra-produksi tradisional dan produksi efek visual yang terkotak-kotak, karena digantikan dengan pengerjaan imagery yang semakin mendekati hasil editing terakhir (final cut)," papar Quentin Staes-Polet.
![Keajaiban Video Game di Layar Lebar Indonesia Buat Film Lebih Wow]()
Siklus pasca-produksi yang lebih panjang biasanya terjadi dalam pembuatan film yang sarat dengan efek visual. Akibatnya, pembuat film sering kali kesulitan untuk membuat visualisasi hasil akhir yang akan tampil di layar ketika mereka juga harus mengarahkan adegan di setting live-action. Dengan efek visual di dalam kamera yang direkam dari LED, frame akhir dapat di-preview melalui lensa kamera, dan tim kreatif dapat memanipulasi pencahayaan, environment virtual, dan efek secara kolaboratif di lokasi syuting.
Proses yang lebih intuitif ini juga membuat kru dapat melakukan penyesuaian selama pengambilan gambar. Jadi tak perlu melakukan kompromi dalam proses editing terakhir setelah pengambilan gambar selesai.
Hilangkan Batas Photorealism
Akankah sense realisme dan antusiasme hilang dalam produksi virtual? "Justru sebaliknya, mengganti green screen dengan scene projection, para aktor akan mendapatkan sense yang lebih baik mengenai environment tempat mereka berakting dan visi dari kru produksi," tandasnya.
Quentin Staes-Polet, menuturkan, produksi film secara virtual, yang ditenagai oleh teknologi video game, akan menjadi pendobrak cara kita membuat konten di masa depan. Mulai dari produksi DIY digital hingga blockbuster di masa depan. (Baca juga: Inter Bungkam Napoli, AC Milan Ditahan Imbang Genoa )
Dengan kemampuannya menghemat waktu dan ongkos produksi, maka produksi film secara virtual dapat menjadi penyelamat banyak perusahaan pembuat film. Contohnya, dengan menggunakan teknologi game seperti Unreal Engine, pembuat film bisa membangun environment digital yang dapat meniru frame render final.
Teknologi ini membuat seluruh tim produksi memiliki visi produk final yang sama. "Perubahan apapun bisa digabungkan kembali secara berulang-ulang dan kolaboratif, yang pada dasarnya telah mengubah pipeline pembuatan film tradisional yang kaku menjadi proses pararel yang mempersingkat waktu produksi secara keseluruhan. Keputusan kreatif tentang pengambilan gambar dan sequence bisa diambil lebih awal dan tak perlu menunggu sampai fase pascaproduksi.
Manfaat penting lainnya dalam menggunakan game engine adalah teknologinya real-time, sehingga akan memberikan keuntungan luar biasa dalam produksi virtual. Ketika diterapkan pada pembuatan film, rendering langsung akan mengurangi unsur ketidakpastian dalam proses pra-produksi tradisional dan produksi efek visual yang terkotak-kotak, karena digantikan dengan pengerjaan imagery yang semakin mendekati hasil editing terakhir (final cut)," papar Quentin Staes-Polet.

Siklus pasca-produksi yang lebih panjang biasanya terjadi dalam pembuatan film yang sarat dengan efek visual. Akibatnya, pembuat film sering kali kesulitan untuk membuat visualisasi hasil akhir yang akan tampil di layar ketika mereka juga harus mengarahkan adegan di setting live-action. Dengan efek visual di dalam kamera yang direkam dari LED, frame akhir dapat di-preview melalui lensa kamera, dan tim kreatif dapat memanipulasi pencahayaan, environment virtual, dan efek secara kolaboratif di lokasi syuting.
Proses yang lebih intuitif ini juga membuat kru dapat melakukan penyesuaian selama pengambilan gambar. Jadi tak perlu melakukan kompromi dalam proses editing terakhir setelah pengambilan gambar selesai.
Hilangkan Batas Photorealism
Akankah sense realisme dan antusiasme hilang dalam produksi virtual? "Justru sebaliknya, mengganti green screen dengan scene projection, para aktor akan mendapatkan sense yang lebih baik mengenai environment tempat mereka berakting dan visi dari kru produksi," tandasnya.
Lihat Juga :