Peneliti Heran, Populasi Macan Tutul di China Meningkat

Rabu, 28 Oktober 2020 - 23:51 WIB
loading...
Peneliti Heran, Populasi...
Foto macan tutul China Utara di Loess Plateu tertangkap kamera. Kredit: Universitas Beijing
A A A
Sebagian besar macan tutul di dunia terancam mengalami kepunahan karena jumlahnya yang terus menurun. Namun, penelitian terbaru dari Universitas Kopenhagen, Denmark, dan rekan dari Beijing, China, mengungkapkan bahwa populasi macan tutul di China bagian Utara sedang membaik.

Macan tutul adalah hewan yang menarik. Macam tutul dikenal sebagai pemburu makanan yang dapat bertahan di berbagai habitat, mulai dari hutan hingga gurun. Mereka mampu menahan suhu mulai dari minus 40°C di musim dingin hingga 40°C di musim panas.

Baca juga : Sempat Dirawat Kritis Dua Hari, Macan Tutul Ciwidey Mati

Terlepas dari kemampuannya yang bisa hidup di segala medan, macan tutul menjadi salah satu perburuan manusia utk dipelihara atau dijadikan hiasan rumah. Pembukaan lahan hutan untuk aktivitas manusia juga menjadi dasar hilangnya habitat yang menjadi tempat tinggalnya.

Meski begitu, ada hal menarik yang terjadi di China bagian Utara, khususnya di Loess Plateau. Disana, jumlah spesies macan tutul telah mengalami peningkatan.

"Kami cukup terkejut bahwa jumlah macan tutul (di China) meningkat, padahal populasinya di beberapa negara mengalami penurunan. Kami tahu ada macan tutul di area ini, tapi kami tidak tahu berapa jumlahnya secara pasti," kata Bing Xie, mahasiswa PhD di Departemen Biologi UCPH, dikutip dari Scitechdaily.

Xie bersama para peneliti lainnya di Universitas Beijing melakukan penelitian di Loess Plateau yang mencakup area 800 kilometer persegi pada tahun 2016 dan 2017. Mereka baru saja melaporkan bahwa jumlah macan tutul meningkat dari 88 ekor pada 2016 menjadi 110 ekor pada 2017. Peningkatan ini diprediksi akan meningkat di tahun-tahun berikutnya.

Baca juga : Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, Ayo Kita Jaga Flora dan Fauna Terancam Punah Ini

Peningkatan populasi macan tutul kemungkinan besar didasari oleh program Pemerintah China dalam memuhlikan keanekaragaman hayati di daerah tersebut. Pemulihan ini dilakukan sejak 2015 saat pemerintah China melakukan konsultasi dengan berbagai peneliti ilmiah.

"Sekitar 20 tahun lalu, sebagian besar habitat hutan di Loess Plateau diubah menjadi lahan pertanian. Aktivitas manusia membuat takut babi hutan, kodok, katak, dan rusa sehingga macan tutul tidak mungkin menemukan makanan," tambah Xie.

Sekarang, sebagian besar hutan di Loess Plateau telah dipulihkan. Ini menjadi salah satu faktor peningkatan populasi macan tutul karena sumber makanan telah tersedia.

"Banyak penduduk lokal yang tidak tahu ada macan tutul di daerah itu, jadi mereka sangat antusias dan terkejut. Itu sukses bagi pemerintah yang mengharapkan keanekaragaman hayati lebih besar di daerah tersebut," katanya.

Meskipun Bing Xie belum pernah melihat macan tutul secara kasat mata di alam liar, dia akan terus berjuang untuk kelangsungan hidup mereka. Dia tidak akan patah semangat untuk mengembalikan habitat dan menjaga populasi mereka.

"98 persen habitat macan tutul telah hilang selama bertahun-tahun dan itu membuat saya sangat sedih. Saya sangat mencintai kucing-kucing cantik ini dan saya akan terus meneliti tentang cara terbaik untuk melindungi mereka," tutupnya.
(fan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China Diam-diam Simpan...
China Diam-diam Simpan Ribuan Server di Dasar Laut, Apa Tujuannya?
Nvidia Siap Gandeng...
Nvidia Siap Gandeng Perusahaan China demi Kembangkan Robot Super Humanoid
China Kenalkan Sistem...
China Kenalkan Sistem Identitas Digital untuk Robot Humanoid
China Siapkan Kerangka...
China Siapkan Kerangka Hukum untuk Mengatur Kecerdasan Buatan
AS dan China Berlomba...
AS dan China Berlomba Bangun Pusat Data AI di Luar Angkasa
Apa yang Dilakukan Elon...
Apa yang Dilakukan Elon Musk dan Tim Cook saat Menemani Trump ke China?
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Rekomendasi
Soal Insiden di UGM,...
Soal Insiden di UGM, Wamentan: Kita Demokratis, Siap Diskusi dengan Siapapun
Xiaomi Kenalkan Tangan...
Xiaomi Kenalkan Tangan Robot untuk Pengisian Daya Baterai Mobil Listrik
Libur 1 Muharram, Harga...
Libur 1 Muharram, Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,7 Juta per Gram
Berita Terkini
Komputer Kuantum Optik...
Komputer Kuantum Optik Bakal Jadi Kebutuhan Energi AI
Meta Akui Kesalahan...
Meta Akui Kesalahan dalam Restrukturisasi AI
Mau Traveling Keluarga...
Mau Traveling Keluarga Lebih Menyenangkan? Ikuti 5 Tips ala Tika Nurjanah
Beda Jauh dengan GPS,...
Beda Jauh dengan GPS, Kenapa AirTag dan Smart Tag Sering Telat Update Lokasi?
Di Balik Pemblokiran...
Di Balik Pemblokiran AI Tercanggih Anthropic Fable 5: Berantem dengan Pemerintah AS
Ridho Sadewo Bongkar...
Ridho Sadewo Bongkar 7 Strategi Free Fire yang Bikin Peluang Booyah Lebih Besar
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved