Eropa Kepanasan tapi Tak Mau Pasang AC: Dilema Iklim yang Bunuh 250 Orang dalam Seminggu
Jum'at, 03 Juli 2026 - 20:51 WIB
loading...
Di balik keindahan atap biru-kelabu Paris, jutaan warga Eropa tersiksa tanpa pendingin ruangan—dan solusinya ternyata tidak sesederhana sekadar memasang AC. Foto: Reuters
A
A
A
EROPA - Dalam lebih dari sepkan terakhir, gelombang panas menewaskan lebih dari 250 orang di Eropa—baik langsung karena sengatan panas maupun tidak langsung: tenggelam saat mencari kesejukan, atau anak-anak yang terlupakan di dalam mobil.
Namun solusi paling sederhana—memasang AC—ternyata bukan pilihan mudah di benua yang infrastrukturnya tidak dibangun untuk bertahan dari panas ekstrem semacam ini.
Dampaknya nyata. Gelombang panas 2003 membunuh puluhan ribu orang di Eropa. Kini, lebih dari 94 juta orang tengah merasakan suhu di atas 35°C. Inggris mencetak rekor panas baru untuk bulan Juni: 36,1°C di sebagian wilayah selatan.
"Tidak ada satu malam pun saya tidur nyenyak, tapi saya rasa saya bukan satu-satunya. Sungguh mengerikan," kata Severine Le Beuzit, 54 tahun, warga Paris, kepada Reuters.
Atap Paris yang ikonik—laut genteng zinc berwarna biru-kelabu yang dilindungi undang-undang sebagai warisan budaya—memperburuk keadaan.
Tanpa insulasi, ditambah jendela kaca, lantai atas gedung-gedung Paris berubah jadi oven yang tak kunjung dingin bahkan di malam hari.
Panas terperangkap di antara gedung-gedung beton, menambah beberapa derajat ekstra yang membuat gelombang panas terasa jauh lebih menyiksa.
Lebih jauh lagi, AC yang ditenagai listrik dari bahan bakar fosil memperparah pemanasan global—penyebab utama gelombang panas yang kian intens itu sendiri.
"Apa yang terjadi di bawah perubahan iklim adalah banyak peristiwa ekstrem yang semakin menguat. Dalam gelombang panas, kita kini melihat suhu di Eropa dua hingga empat derajat lebih tinggi dibanding tanpa pemanasan akibat aktivitas manusia," kata Clair Barnes, peneliti di Grantham Institute for Climate Change and the Environment.
Füssel menegaskan solusinya sebenarnya sudah diketahui. "Tidak perlu jadi jenius untuk menemukan solusinya, tapi implementasinya memang sulit," katanya dari Kopenhagen. Solusi yang ia maksud: penghijauan ruang kota, pembentukan zona sejuk bagi warga, penjadwalan ulang liburan petugas darurat selama periode panas, dan—ya—AC dengan sumber energi bersih.
Namun ada hambatan struktural yang sering diabaikan. "Yang diuntungkan dari AC tidak selalu yang bisa mengambil keputusan untuk memasangnya," ujar Füssel, merujuk pada keterbatasan penyewa apartemen di Eropa yang tidak bisa bebas memodifikasi huniannya.
Seberapa luas kepemilikan AC di Eropa?
Hanya 20 persen secara keseluruhan. Prancis 25 persen, Inggris sekitar 14 persen—jauh di bawah Amerika Serikat yang melampaui 90 persen rumah tangga.
Namun solusi paling sederhana—memasang AC—ternyata bukan pilihan mudah di benua yang infrastrukturnya tidak dibangun untuk bertahan dari panas ekstrem semacam ini.
Eropa Memang Hampir Tanpa AC
Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan hanya 20 persen rumah di Eropa memiliki pendingin udara. Di Prancis angkanya sedikit lebih baik: sekitar 25 persen, berdasarkan laporan kementerian tahun 2020. Di Inggris lebih parah—hanya 14 persen rumah tangga yang punya AC.Dampaknya nyata. Gelombang panas 2003 membunuh puluhan ribu orang di Eropa. Kini, lebih dari 94 juta orang tengah merasakan suhu di atas 35°C. Inggris mencetak rekor panas baru untuk bulan Juni: 36,1°C di sebagian wilayah selatan.
"Tidak ada satu malam pun saya tidur nyenyak, tapi saya rasa saya bukan satu-satunya. Sungguh mengerikan," kata Severine Le Beuzit, 54 tahun, warga Paris, kepada Reuters.
Atap Paris yang ikonik—laut genteng zinc berwarna biru-kelabu yang dilindungi undang-undang sebagai warisan budaya—memperburuk keadaan.
Tanpa insulasi, ditambah jendela kaca, lantai atas gedung-gedung Paris berubah jadi oven yang tak kunjung dingin bahkan di malam hari.
Mengapa AC Justru Bisa Memperparah Situasi
AC mendinginkan dalam ruangan, tapi memompa panas keluar. "Di kawasan kota yang padat, AC pada dasarnya memindahkan panas dari bangunan ke lingkungan urban dan bisa menciptakan efek pulau panas yang semakin kuat," jelas Hans-Martin Füssel, pakar risiko iklim di European Environment Agency.Panas terperangkap di antara gedung-gedung beton, menambah beberapa derajat ekstra yang membuat gelombang panas terasa jauh lebih menyiksa.
Masalah Jaringan Listrik
Prancis yang 95 persen listriknya bersumber dari energi terbarukan—nuklir, hidro, angin, dan surya—pun tidak kebal. Gelombang panas berbentuk "kubah omega" memperlambat angin sehingga turbin kurang berputar. Air pendingin untuk reaktor nuklir berkurang. Hasilnya: produksi listrik turun, harga listrik grosir naik.Lebih jauh lagi, AC yang ditenagai listrik dari bahan bakar fosil memperparah pemanasan global—penyebab utama gelombang panas yang kian intens itu sendiri.
"Apa yang terjadi di bawah perubahan iklim adalah banyak peristiwa ekstrem yang semakin menguat. Dalam gelombang panas, kita kini melihat suhu di Eropa dua hingga empat derajat lebih tinggi dibanding tanpa pemanasan akibat aktivitas manusia," kata Clair Barnes, peneliti di Grantham Institute for Climate Change and the Environment.
Solusi Ada, Implementasi Terlambat
Stéphanie Rist, Menteri Kesehatan Prancis, mencatat lonjakan 30 persen panggilan ke layanan darurat medis. Di beberapa lokasi, scanner MRI mati karena kepanasan, menghambat penanganan pasien.Füssel menegaskan solusinya sebenarnya sudah diketahui. "Tidak perlu jadi jenius untuk menemukan solusinya, tapi implementasinya memang sulit," katanya dari Kopenhagen. Solusi yang ia maksud: penghijauan ruang kota, pembentukan zona sejuk bagi warga, penjadwalan ulang liburan petugas darurat selama periode panas, dan—ya—AC dengan sumber energi bersih.
Namun ada hambatan struktural yang sering diabaikan. "Yang diuntungkan dari AC tidak selalu yang bisa mengambil keputusan untuk memasangnya," ujar Füssel, merujuk pada keterbatasan penyewa apartemen di Eropa yang tidak bisa bebas memodifikasi huniannya.
FAQ: Gelombang Panas Eropa 2026
Berapa banyak korban jiwa?
Lebih dari 250 orang dalam sepekan terakhir, termasuk anak-anak yang tenggelam saat mencari kesejukan dan korban sengatan panas langsung.Seberapa luas kepemilikan AC di Eropa?
Hanya 20 persen secara keseluruhan. Prancis 25 persen, Inggris sekitar 14 persen—jauh di bawah Amerika Serikat yang melampaui 90 persen rumah tangga.
Mengapa AC tidak otomatis jadi solusi?
AC memompa panas keluar gedung, memperburuk efek pulau panas perkotaan. Jika listriknya dari bahan bakar fosil, AC juga menambah emisi karbon—memperparah perubahan iklim yang memicu gelombang panas itu sendiri.Apa solusi jangka panjang yang realistis?
Penghijauan kota, zona sejuk publik, insulasi bangunan yang lebih baik, perencanaan darurat kesehatan yang lebih adaptif, dan penggunaan AC dengan sumber energi terbarukan.(dan)
Lihat Juga :