Tangkal Cyber-Fraud Berbasis AI, AkuSign Hadirkan Ekosistem TTE Tersertifikasi

Rabu, 20 Mei 2026 - 12:36 WIB
loading...
Tangkal Cyber-Fraud...
AkuSign Experience Day yang berlangsung di Jakarta hari ini, Rabu (20/5). Foto/ Dok SindoNews
A A A
JAKARTA - Di tengah masifnya transformasi digital, lanskap bisnis di Indonesia kini dihadapkan pada ancaman siber gelombang baru: kejahatan berbasis kecerdasan buatan (AI-powered fraud).

Merespons tantangan tersebut, AkuSign, Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) berizin resmi, bergerak cepat memperkuat ekosistem Tanda Tangan Elektronik (TTE) tersertifikasi guna menjamin keamanan dan keabsahan hukum transaksi elektronik di tanah air.

Langkah strategis ini ditegaskan dalam gelaran AkuSign Experience Day yang berlangsung di Jakarta hari ini, Rabu (20/5/2026).

Di hadapan regulator, pelaku industri, dan media, AkuSign juga mengumumkan kolaborasi teranyarnya dengan Asosiasi IT Indonesia (AITI) untuk mempercepat edukasi serta memperluas adopsi TTE tersertifikasi lintas sektor bisnis.

David Hartono, CEO ASABA Innotech—grup perusahaan yang menaungi AkuSign—menegaskan bahwa potensi TTE jauh melampaui pemahaman konvensional masyarakat saat ini.

"Mayoritas orang masih melihat tanda tangan digital sebatas alat untuk menandatangani dokumen. Padahal, fungsinya jauh lebih luas dan krusial bagi berbagai industri yang tengah menghadapi disrupsi digital. Sebagai contoh di sektor perbankan, teknologi ini sangat bisa diandalkan untuk efisiensi proses onboarding nasabah. Seluruh payung hukumnya sudah diakomodasi oleh undang-undang. Namun perlu dicatat, agar legalitasnya diakui secara sah, proses tersebut wajib menggunakan layanan dari PSrE (Penyelenggara Sertifikasi Elektronik)," ujar David Hartono.

Upaya penguatan ekosistem ini dipicu oleh masih tingginya miskonsepsi di masyarakat. Banyak pelaku organisasi yang menganggap pindaian (scan) tanda tangan basah atau sekadar gambar pada dokumen PDF sudah sah secara hukum.

Padahal, metode konvensional ini sangat rapuh, mudah dimanipulasi dengan teknologi AI seperti deepfake, dan tidak memiliki kekuatan hukum yang kuat.
Dua otoritas digital nasional yang hadir sebagai pembicara kunci memberikan catatan kritis terkait urgensi isu ini:

"Keamanan digital kini menjadi fondasi utama dalam pembangunan ekosistem digital nasional. Penerapan sistem keamanan yang kuat, perlindungan data, serta penggunaan tanda tangan elektronik tersertifikasi adalah instrumen krusial untuk membangun digital,trust (kepercayaan digital) baik di sektor pemerintahan maupun bisnis." tutur Dr. Sulistyo, S.Si., S.T., M.Si. Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Pemerintah dan Pembangunan Manusia BSSN

Menjawab tantangan manipulasi digital tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) menyoroti bagaimana teknologi enkripsi di balik TTE tersertifikasi mampu mematahkan kecanggihan manipulasi kecerdasan buatan.

Pemerintah menegaskan bahwa validasi TTE tidak lagi bertumpu pada visual, melainkan pada keandalan sistem kriptografi yang mustahil direkayasa oleh algoritma AI.

Martha Simbolon, S.T. (Direktorat Keamanan Informasi Kementerian Komunikasi dan Digital / KOMDIGI) menjelakan TTE tersertifikasi bukanlah coretan yang kasat mata, melainkan sistem yang dilindungi teknologi kriptografi dan sertifikat elektronik.

"Karena pembuktiannya dilakukan secara sistem, teknologi ini hadir sebagai benteng tangguh untuk mengantisipasi ancaman siber dan pemalsuan berbasis AI. Dokumen yang menggunakan TTE tersertifikasi tidak dapat dimanipulasi oleh kecerdasan buatan."

Martha juga mengingatkan bahwa penggunaan TTE telah diatur ketat dalam UU No. 11 Tahun 2008 / UU No. 1 Tahun 2024 (UU ITE). Konsekuensi mengabaikan TTE tersertifikasi sangat fatal, mulai dari risiko kontrak batal demi hukum hingga proses pembuktian yang lemah di pengadilan.

“Tanda tangan elektronik saat ini bukan lagi sekadar alat pendukung administrasi, tetapi telah menjadi bagian penting dalam ekosistem digital yang mendukung keamanan dan legalitas transaksi elektronik. Penggunaan Tanda Tangan Elektronik (TTE) diatur dalam UU No. 11 Tahun 2008/UU No. 1 Tahun 2024 (UU ITE), konsekuensi tidak digunakannya TTE tersertifikasi dapat mengakibatkan kontrak elektronik batal dan proses pembuktian yang sulit serta meningkatkan risiko serangan siber,“ jelas Martha Simbolon

Untuk memitigasi risiko finansial dan hukum tersebut, AkuSign hadir dengan platform TTE yang tidak hanya menjamin legalitas, tetapi juga dirancang agar adaptif dengan sistem internal korporasi maupun instansi pemerintah.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AI Impact Challenge,...
AI Impact Challenge, Microsoft, Komdigi, dan Dicoding Tampilkan Karya AI Terbaik Lulusan METC
Di Balik Kecanggihan...
Di Balik Kecanggihan AI: Manusia Tetap Penentu Keputusan Terbaik
Komputer Kuantum Optik...
Komputer Kuantum Optik Bakal Jadi Kebutuhan Energi AI
Untuk Pertama Kalinya...
Untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah, Vaksin Buatan AI Diuji pada Manusia
Eropa Wajibkan Pelabelan...
Eropa Wajibkan Pelabelan Konten yang Dihasilkan AI
Kecerdasan Buatan Sedang...
Kecerdasan Buatan Sedang Mengubah Lanskap Keamanan Siber
Masalah Hukum Penggunaan...
Masalah Hukum Penggunaan Artificial Intelligence
Slopaganda: Propaganda...
Slopaganda: Propaganda Massal di Era AI
MNC University Bahas...
MNC University Bahas Masa Depan Produksi Iklan di Era AI melalui Talkshow KRUFEST
Rekomendasi
Piala Dunia 2026: Spanyol...
Piala Dunia 2026: Spanyol Hancurkan Arab Saudi 4-0
MNC University Perkuat...
MNC University Perkuat Kolaborasi dengan Sekolah Mitra melalui Pra-Rapat Kerja Tahun Ajaran 2026/2027
BI Rate Diprediksi Naik...
BI Rate Diprediksi Naik sampai 6%, Waspadai Risiko Kredit dan Daya Beli
Berita Terkini
China Kenalkan Senjata...
China Kenalkan Senjata Laser Genggam Lijian untuk Jatuhkan Drone
AI Impact Challenge,...
AI Impact Challenge, Microsoft, Komdigi, dan Dicoding Tampilkan Karya AI Terbaik Lulusan METC
Kedaulatan Digital Jadi...
Kedaulatan Digital Jadi Sorotan, Solusi AI Terintegrasi Siap Percepat Transformasi Industri
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Intel dan Nvidia Memulai...
Intel dan Nvidia Memulai Pertempuran Global Baru
Game Paling Ditunggu...
Game Paling Ditunggu Sedunia GTA 6 Akhirnya bisa Dipesan, Harganya Rp1,4 Juta
Infografis
Arab Saudi Gunakan AI...
Arab Saudi Gunakan AI untuk Cetak Penghafal Al-Quran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved