Bukan Cuma Adu Rudal, Hacker dan AI Jadi Malaikat Maut di Perang AS-Israel vs Iran
Jum'at, 06 Maret 2026 - 11:05 WIB
loading...
A
A
A
Bukti kelemahan ini semakin nyata pada bulan Juni lalu, ketika terjadi peretasan besar-besaran terhadap bursa pertukaran bitcoin di Iran serta peretasan perbankan yang terafiliasi dengan Garda Revolusi Islam (IRGC).
Peristiwa ini menjadi contoh betapa menyeluruhnya dinas intelijen asing menyusup ke dalam jaringan Iran.
"Lima belas tahun kemudian, akses Barat jauh lebih dalam," tegasnya. Insiden peretasan ini membuktikan secara gamblang bahwa militer Barat sudah bersarang di dalam infrastruktur Iran, bahkan "di dalam keputusan-keputusan kritis mereka".
Mereka berusaha membendung pesan propaganda dari Israel dan AS serta mencegah sentimen anti-rezim menyebar luas. Akibat dari pemblokiran ini, Nahum memperkirakan hanya sekitar 4 persen penduduk Iran yang masih memiliki konektivitas internet di puncak peperangan.
Namun, mematikan internet publik tidak serta-merta menyelamatkan Iran. Jaringan internal tertutup (intranet) mereka yang menjadi urat nadi perbankan, layanan pemerintah, dan sistem industri masih harus terus beroperasi. Jaringan inilah yang diyakini Nahum akan menjadi target utama operasi siber di masa depan selama perang ini berlangsung.
"Kita mungkin akan melihat pihak Israel dan Amerika terus menyusupi infrastruktur terkait Iran seperti sistem keuangan, telekomunikasi, dan manufaktur," ramalnya.
Sistem-sistem vital itulah yang menjaga rezim Iran tetap berfungsi. Jika sistem tersebut berhasil dilumpuhkan, kelumpuhan negara secara total hanyalah menunggu waktu.
Peristiwa ini menjadi contoh betapa menyeluruhnya dinas intelijen asing menyusup ke dalam jaringan Iran.
"Lima belas tahun kemudian, akses Barat jauh lebih dalam," tegasnya. Insiden peretasan ini membuktikan secara gamblang bahwa militer Barat sudah bersarang di dalam infrastruktur Iran, bahkan "di dalam keputusan-keputusan kritis mereka".
Isolasi 4 Persen dan Target Masa Depan
Menyadari negaranya diacak-acak lewat internet, pemerintah Iran mengambil langkah putus asa dengan membatasi akses internet secara sangat ketat selama perang berlangsung.Mereka berusaha membendung pesan propaganda dari Israel dan AS serta mencegah sentimen anti-rezim menyebar luas. Akibat dari pemblokiran ini, Nahum memperkirakan hanya sekitar 4 persen penduduk Iran yang masih memiliki konektivitas internet di puncak peperangan.
Namun, mematikan internet publik tidak serta-merta menyelamatkan Iran. Jaringan internal tertutup (intranet) mereka yang menjadi urat nadi perbankan, layanan pemerintah, dan sistem industri masih harus terus beroperasi. Jaringan inilah yang diyakini Nahum akan menjadi target utama operasi siber di masa depan selama perang ini berlangsung.
"Kita mungkin akan melihat pihak Israel dan Amerika terus menyusupi infrastruktur terkait Iran seperti sistem keuangan, telekomunikasi, dan manufaktur," ramalnya.
Sistem-sistem vital itulah yang menjaga rezim Iran tetap berfungsi. Jika sistem tersebut berhasil dilumpuhkan, kelumpuhan negara secara total hanyalah menunggu waktu.
(dan)
Lihat Juga :