Dataran Tinggi Ontong Java Mengalami Perubahan Besar Akibat Aktivitas Vulkanik
Rabu, 04 Februari 2026 - 11:37 WIB
loading...
Dataran Tinggi Ontong Java Mengalami Perubahan Besar. FOTO/ PHYS
A
A
A
LONDON - Sebuah kelompok peneliti telah mengungkapkan melalui analisis gelombang seismik bahwa lempeng samudra di bawah Dataran Tinggi Ontong Java atau dataran tinggi samudra terbesar di dunia. Mengalami perubahan besar akibat aktivitas vulkanik masif selama pembentukannya.
Studi iniditerbitkandalamjurnal Geophysical Research Letters menulis Lempeng samudra di bawah Dataran Tinggi Ontong Java (OJP) memiliki struktur komposit yang terdiri dari struktur berlapis yang ditutupi oleh kumpulan dike.
Anomali kecepatan seismik rendah di dalam lempeng menunjukkanmodifikasi kimiaoleh magma yang berasal dari plume termokimia.
Temuan ini menunjukkan bahwa lempeng samudra dapat mengalami modifikasi fisikokimia yang signifikan akibat aktivitas vulkanik skala besar, yang berkontribusi pada pemahaman komprehensif tentang proses pembentukan lempeng.
Penelitian ini dipimpin oleh Dosen Azusa Shito dari Universitas Sains Okayama, bersama dengan Profesor Madya Akira Ishikawa dari Institut Sains Tokyo dan Profesor Masako Yoshikawa dari Universitas Hiroshima.
Dataran Tinggi Ontong Java (OJP) adalah dataran tinggi samudra terbesar di dunia, terletak di Samudra Pasifik, dan terbentuk oleh aktivitas vulkanik bawah laut sekitar 110–120 juta tahun yang lalu. A
ktivitas vulkanik ini—yang dianggap sebagai yang terbesar dalam sejarah Bumi—diperkirakan telah secara drastis mengubah lingkungan global pada saat itu dan memicu kepunahan massal.
Studi terbaru menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik berskala besar ini disebabkan oleh gumpalan termokimia, yaitu aliran naik yang berasal dari jauh di dalam mantel. Namun, efek magma yang naik dari sumber mantel dalam terhadap lempeng samudra yang sudah ada sebelumnya masih kurang dipahami.
Dalam studi ini, tim menganalisis gelombang seismik frekuensi tinggi yang dikenal sebagai gelombang Po dan So, yang direkam oleh seismometer dasar laut yang ditempatkan di sekitar OJP serta oleh seismometer yang dipasang di pulau-pulau samudra.
Gelombang Po dan So merambat di dalam lempeng samudra, dan karakteristik perambatannya sangat sensitif terhadap struktur internal lempeng tersebut.
Dalam kondisi normal, gelombang Po dan So dihasilkan ketika gelombang P dan S mengalami hamburan berganda di dalam struktur berlapis di dalam lempeng samudra, sehingga memungkinkan gelombang tersebut menempuh jarak beberapa ribu kilometer.
Namun, gelombang Po dan So yang diamati di sekitar OJP menunjukkan ciri yang mencolok: sementara gelombang Po merambat secara efisien, gelombang So mengalami pelemahan yang kuat.
Untuk mereproduksi pengamatan ini, para peneliti memperkirakan struktur internal lempeng menggunakan pemodelan bentuk gelombang seismik. Hasilnya menunjukkan bahwa lempeng samudra di bawah OJP memiliki struktur komposit di mana struktur berlapis (laminasi horizontal) dipotong oleh gerombolan dike (intrusi vertikal).
Selain itu, tim tersebut menemukan bahwa gelombang Po dan So yang merambat melalui lempeng di bawah OJP bergerak jauh lebih lambat daripada gelombang pada lempeng samudra pada umumnya.
Untuk menjelaskan pengamatan ini, mereka mengusulkan sebuah model di mana magma yang berasal darigumpalan termal-kimianaik melalui lempeng, membentuk gerombolan tanggul, dan kemudian menyebabkan modifikasi kimia (yaitu, refertilisasi) pada lempeng tersebut.
Model modifikasi fisikokimia lempeng samudra yang disajikan dalam penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pemahaman yang lebih komprehensif tentang proses pembentukan lempeng
Studi iniditerbitkandalamjurnal Geophysical Research Letters menulis Lempeng samudra di bawah Dataran Tinggi Ontong Java (OJP) memiliki struktur komposit yang terdiri dari struktur berlapis yang ditutupi oleh kumpulan dike.
Anomali kecepatan seismik rendah di dalam lempeng menunjukkanmodifikasi kimiaoleh magma yang berasal dari plume termokimia.
Temuan ini menunjukkan bahwa lempeng samudra dapat mengalami modifikasi fisikokimia yang signifikan akibat aktivitas vulkanik skala besar, yang berkontribusi pada pemahaman komprehensif tentang proses pembentukan lempeng.
Penelitian ini dipimpin oleh Dosen Azusa Shito dari Universitas Sains Okayama, bersama dengan Profesor Madya Akira Ishikawa dari Institut Sains Tokyo dan Profesor Masako Yoshikawa dari Universitas Hiroshima.
Dataran Tinggi Ontong Java (OJP) adalah dataran tinggi samudra terbesar di dunia, terletak di Samudra Pasifik, dan terbentuk oleh aktivitas vulkanik bawah laut sekitar 110–120 juta tahun yang lalu. A
ktivitas vulkanik ini—yang dianggap sebagai yang terbesar dalam sejarah Bumi—diperkirakan telah secara drastis mengubah lingkungan global pada saat itu dan memicu kepunahan massal.
Studi terbaru menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik berskala besar ini disebabkan oleh gumpalan termokimia, yaitu aliran naik yang berasal dari jauh di dalam mantel. Namun, efek magma yang naik dari sumber mantel dalam terhadap lempeng samudra yang sudah ada sebelumnya masih kurang dipahami.
Dalam studi ini, tim menganalisis gelombang seismik frekuensi tinggi yang dikenal sebagai gelombang Po dan So, yang direkam oleh seismometer dasar laut yang ditempatkan di sekitar OJP serta oleh seismometer yang dipasang di pulau-pulau samudra.
Gelombang Po dan So merambat di dalam lempeng samudra, dan karakteristik perambatannya sangat sensitif terhadap struktur internal lempeng tersebut.
Dalam kondisi normal, gelombang Po dan So dihasilkan ketika gelombang P dan S mengalami hamburan berganda di dalam struktur berlapis di dalam lempeng samudra, sehingga memungkinkan gelombang tersebut menempuh jarak beberapa ribu kilometer.
Namun, gelombang Po dan So yang diamati di sekitar OJP menunjukkan ciri yang mencolok: sementara gelombang Po merambat secara efisien, gelombang So mengalami pelemahan yang kuat.
Untuk mereproduksi pengamatan ini, para peneliti memperkirakan struktur internal lempeng menggunakan pemodelan bentuk gelombang seismik. Hasilnya menunjukkan bahwa lempeng samudra di bawah OJP memiliki struktur komposit di mana struktur berlapis (laminasi horizontal) dipotong oleh gerombolan dike (intrusi vertikal).
Selain itu, tim tersebut menemukan bahwa gelombang Po dan So yang merambat melalui lempeng di bawah OJP bergerak jauh lebih lambat daripada gelombang pada lempeng samudra pada umumnya.
Untuk menjelaskan pengamatan ini, mereka mengusulkan sebuah model di mana magma yang berasal darigumpalan termal-kimianaik melalui lempeng, membentuk gerombolan tanggul, dan kemudian menyebabkan modifikasi kimia (yaitu, refertilisasi) pada lempeng tersebut.
Model modifikasi fisikokimia lempeng samudra yang disajikan dalam penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pemahaman yang lebih komprehensif tentang proses pembentukan lempeng
(wbs)
Lihat Juga :