Tahun Baru 2026: Pertunjukkan Drone Gantikan Kembang Api di Chongqing hingga Bundaran HI
Jum'at, 02 Januari 2026 - 09:34 WIB
loading...
A
A
A
Gaoju Innovation mengungkapkan bahwa seluruh armada yang nyaris mencapai 16.000 unit tersebut dikendalikan hanya oleh satu komputer. Menggunakan teknologi pemosisian RTK (Real-Time Kinematic) dan jaringan mesh, setiap drone mengetahui posisinya hingga akurasi sentimeter.
Ini sekaligus jadi "tech flex" atau pamer kekuatan teknologi yang sesungguhnya. Kemampuan mengendalikan "kawanan" (swarm) sebesar ini memiliki implikasi ganda: seni di masa damai, namun berpotensi menjadi alat surveilans atau serangan jamming dalam konteks militer.
Chongqing: Atraksi Kuda Api di Angkasa
Bergeser ke Chongqing, kota dengan topografinya yang rumit, perayaan malam tahun baru 2026 dirancang sebagai tontonan pariwisata kelas dunia. Tepat pukul 23.25 waktu setempat pada 31 Desember, kota ini menggelar pertunjukan selama 50 menit non-stop.
Zhang Yangxue, direktur pertunjukan tersebut, memaparkan ambisi besarnya: integrasi tiga dimensi "air-darat-udara". Di sungai, tiga kapal pertunjukan khusus menyemprotkan tirai air raksasa dengan proyeksi laser, berlayar dari Jembatan Dongshuimen hingga Chaotianmen. Di darat, cahaya dari gedung-gedung pencakar langit disinkronisasi.
Namun, primadonanya tetap di angkasa. Sebanyak 8.000 drone diterbangkan dalam formasi ganda. Mereka melukis pola-pola bertema "Tahun Kuda" (Year of the Horse) sebagai simbol keberkahan tahun baru.
Inovasi tak berhenti di jumlah; Chongqing memperkenalkan lantern-style performance drones dan soft-screen drones—drone yang membawa layar fleksibel di udara—yang menampilkan pesan harapan dan "doa digital" (barrage blessings) dari penonton secara real-time.
Jakarta: Langit Tanpa Mesiu, Drone untuk Empati
Sementara China berpesta pora dengan rekor, langit Jakarta di malam pergantian tahun 2026 justru menyajikan cerita yang kontras namun menyentuh. Gubernur Jakarta, Pramono Anung Wibowo, mengambil langkah berani dengan meniadakan pesta kembang api yang biasanya menjadi tradisi di Bundaran HI.
Ini sekaligus jadi "tech flex" atau pamer kekuatan teknologi yang sesungguhnya. Kemampuan mengendalikan "kawanan" (swarm) sebesar ini memiliki implikasi ganda: seni di masa damai, namun berpotensi menjadi alat surveilans atau serangan jamming dalam konteks militer.
Chongqing: Atraksi Kuda Api di Angkasa
![Tahun Baru 2026: Pertunjukkan Drone Gantikan Kembang Api di Chongqing hingga Bundaran HI]()
Bergeser ke Chongqing, kota dengan topografinya yang rumit, perayaan malam tahun baru 2026 dirancang sebagai tontonan pariwisata kelas dunia. Tepat pukul 23.25 waktu setempat pada 31 Desember, kota ini menggelar pertunjukan selama 50 menit non-stop.
Zhang Yangxue, direktur pertunjukan tersebut, memaparkan ambisi besarnya: integrasi tiga dimensi "air-darat-udara". Di sungai, tiga kapal pertunjukan khusus menyemprotkan tirai air raksasa dengan proyeksi laser, berlayar dari Jembatan Dongshuimen hingga Chaotianmen. Di darat, cahaya dari gedung-gedung pencakar langit disinkronisasi.
Namun, primadonanya tetap di angkasa. Sebanyak 8.000 drone diterbangkan dalam formasi ganda. Mereka melukis pola-pola bertema "Tahun Kuda" (Year of the Horse) sebagai simbol keberkahan tahun baru.
Inovasi tak berhenti di jumlah; Chongqing memperkenalkan lantern-style performance drones dan soft-screen drones—drone yang membawa layar fleksibel di udara—yang menampilkan pesan harapan dan "doa digital" (barrage blessings) dari penonton secara real-time.
Jakarta: Langit Tanpa Mesiu, Drone untuk Empati
![Tahun Baru 2026: Pertunjukkan Drone Gantikan Kembang Api di Chongqing hingga Bundaran HI]()
Sementara China berpesta pora dengan rekor, langit Jakarta di malam pergantian tahun 2026 justru menyajikan cerita yang kontras namun menyentuh. Gubernur Jakarta, Pramono Anung Wibowo, mengambil langkah berani dengan meniadakan pesta kembang api yang biasanya menjadi tradisi di Bundaran HI.

Lihat Juga :