Raja Drone DJI Terancam? Antigravity A1 Meluncur, Drone Siluman Perekam Video 8K 360 Derajat
Rabu, 20 Agustus 2025 - 15:23 WIB
loading...
Drone Antigravity memiliki kans untuk bisa bersaing dengan DJI. Foto: Antigravity
A
A
A
JAKARTA - Selama bertahun-tahun, langit industri drone seolah hanya memiliki satu raja: DJI. Namun, singgasana itu kini mulai bergetar.
Sebuah penantang baru yang didukung oleh ahli kamera 360 derajat, Insta360, telah muncul dari balik awan. Mereka adalah Antigravity, dan senjata rahasia mereka adalah A1, drone revolusioner yang diklaim sebagai yang pertama di dunia yang mampu merekam video sinematik 8K 360 derajat dan bisa "menghilang".
Ini bukan sekadar drone biasa. Antigravity A1 datang dengan sebuah janji untuk mengubah total cara kita melihat dunia dari angkasa.
Namun, di balik teknologinya yang terdengar seperti sihir, tersimpan sejumlah pertanyaan kritis yang akan menentukan apakah ini adalah sang pembunuh raksasa atau sekadar janji manis yang terbang terlalu tinggi.
Mata di Segala Arah, Tanpa Meninggalkan Jejak
Keajaiban Antigravity A1 terletak pada sistem kamera gandanya. Satu lensa di atas dan satu di bawah bekerja serempak untuk menangkap semua sudut, menciptakan video 360 derajat tanpa ada titik buta. Semua ini direkam dalam resolusi masif 8K, menghasilkan detail gambar yang luar biasa tajam.
Namun, fitur paling dramatisnya adalah "efek siluman". Melalui teknologi stitching (penjahitan gambar) yang canggih, perangkat lunak A1 mampu menghapus gambar drone itu sendiri dari hasil rekaman.
Hasilnya adalah sebuah video yang bersih dan imersif, seolah-olah Anda adalah seekor burung yang terbang bebas di angkasa, tanpa terganggu oleh bayangan baling-baling atau badan drone.
"Drone ini dirancang untuk menempatkan pilot langsung di dalam adegan tanpa gangguan," klaim Antigravity dalam pengumumannya.
Teknologi unik bernama FreeMotion memungkinkan pilot untuk melihat ke segala arah secara bebas—menggunakan gerakan kepala dan tangan yang intuitif—bahkan saat drone sedang terbang lurus ke depan. Anda bisa terbang ke utara sambil menoleh ke barat, sesuatu yang sangat sulit dilakukan dengan drone konvensional.
Kebebasan ini berlanjut hingga proses penyuntingan. Karena semua sudut direkam secara bersamaan, kreator bisa "mengatur ulang" sudut pandang kamera setelah drone mendarat, memastikan tidak ada momen yang terlewatkan dan membuka pintu untuk efek-efek kreatif seperti Tiny Planet atau gerakan kamera dinamis ala FPV.
Pertama, harga. Antigravity masih bungkam soal harga. Dengan teknologi secanggih ini, jangan berharap harganya akan murah. Para analis memperkirakan drone ini akan dibanderol di atas Rp20 jutaan saat diluncurkan global pada Januari 2026, menempatkannya di segmen premium.
Kedua, dan yang paling krusial: daya tahan baterai. Merekam dan memproses video 8K 360 derajat adalah pekerjaan yang sangat haus daya. Pertanyaan terbesarnya adalah, berapa lama drone seberat 249 gram ini bisa bertahan di udara? Jika durasi terbangnya hanya 10-15 menit, kepraktisannya untuk penggunaan profesional akan sangat terbatas.
Ketiga, kemudahan penggunaan. Meskipun diklaim intuitif, menerbangkan drone dengan goggles (FPV style) memiliki kurva belajar yang curam. Apakah A1 benar-benar akan semudah itu bagi pemula?
Pada akhirnya, Antigravity A1 adalah sebuah pertaruhan besar yang berpotensi mengguncang dominasi DJI. Ia menawarkan sebuah visi masa depan yang sangat menggoda.
Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada tiga pilar: harga yang masuk akal, daya tahan baterai yang mumpuni, dan kemudahan penggunaan yang terbukti. Pertarungan untuk merebut takhta di angkasa barusajadimulai.
Sebuah penantang baru yang didukung oleh ahli kamera 360 derajat, Insta360, telah muncul dari balik awan. Mereka adalah Antigravity, dan senjata rahasia mereka adalah A1, drone revolusioner yang diklaim sebagai yang pertama di dunia yang mampu merekam video sinematik 8K 360 derajat dan bisa "menghilang".
Ini bukan sekadar drone biasa. Antigravity A1 datang dengan sebuah janji untuk mengubah total cara kita melihat dunia dari angkasa.
Namun, di balik teknologinya yang terdengar seperti sihir, tersimpan sejumlah pertanyaan kritis yang akan menentukan apakah ini adalah sang pembunuh raksasa atau sekadar janji manis yang terbang terlalu tinggi.
Mata di Segala Arah, Tanpa Meninggalkan Jejak
![Raja Drone DJI Terancam? Antigravity A1 Meluncur, Drone Siluman Perekam Video 8K 360 Derajat]()
Keajaiban Antigravity A1 terletak pada sistem kamera gandanya. Satu lensa di atas dan satu di bawah bekerja serempak untuk menangkap semua sudut, menciptakan video 360 derajat tanpa ada titik buta. Semua ini direkam dalam resolusi masif 8K, menghasilkan detail gambar yang luar biasa tajam..jpg)
Namun, fitur paling dramatisnya adalah "efek siluman". Melalui teknologi stitching (penjahitan gambar) yang canggih, perangkat lunak A1 mampu menghapus gambar drone itu sendiri dari hasil rekaman.
Hasilnya adalah sebuah video yang bersih dan imersif, seolah-olah Anda adalah seekor burung yang terbang bebas di angkasa, tanpa terganggu oleh bayangan baling-baling atau badan drone.
"Drone ini dirancang untuk menempatkan pilot langsung di dalam adegan tanpa gangguan," klaim Antigravity dalam pengumumannya.
Terbang Seperti Burung, Bukan Robot
Pengalaman menerbangkan A1 juga dijanjikan berbeda. Dengan menggunakan kacamata goggles Vision dan kontroler genggam Grip, pilot bisa merasakan sensasi terbang yang sesungguhnya.Teknologi unik bernama FreeMotion memungkinkan pilot untuk melihat ke segala arah secara bebas—menggunakan gerakan kepala dan tangan yang intuitif—bahkan saat drone sedang terbang lurus ke depan. Anda bisa terbang ke utara sambil menoleh ke barat, sesuatu yang sangat sulit dilakukan dengan drone konvensional.
Kebebasan ini berlanjut hingga proses penyuntingan. Karena semua sudut direkam secara bersamaan, kreator bisa "mengatur ulang" sudut pandang kamera setelah drone mendarat, memastikan tidak ada momen yang terlewatkan dan membuka pintu untuk efek-efek kreatif seperti Tiny Planet atau gerakan kamera dinamis ala FPV.
Pertanyaan Kritis yang Belum Terjawab
Di atas kertas, Antigravity A1 terdengar sempurna. Namun, ada tiga pertanyaan besar yang belum terjawab yang akan menentukan nasibnya.Pertama, harga. Antigravity masih bungkam soal harga. Dengan teknologi secanggih ini, jangan berharap harganya akan murah. Para analis memperkirakan drone ini akan dibanderol di atas Rp20 jutaan saat diluncurkan global pada Januari 2026, menempatkannya di segmen premium.
Kedua, dan yang paling krusial: daya tahan baterai. Merekam dan memproses video 8K 360 derajat adalah pekerjaan yang sangat haus daya. Pertanyaan terbesarnya adalah, berapa lama drone seberat 249 gram ini bisa bertahan di udara? Jika durasi terbangnya hanya 10-15 menit, kepraktisannya untuk penggunaan profesional akan sangat terbatas.
Ketiga, kemudahan penggunaan. Meskipun diklaim intuitif, menerbangkan drone dengan goggles (FPV style) memiliki kurva belajar yang curam. Apakah A1 benar-benar akan semudah itu bagi pemula?
Pada akhirnya, Antigravity A1 adalah sebuah pertaruhan besar yang berpotensi mengguncang dominasi DJI. Ia menawarkan sebuah visi masa depan yang sangat menggoda.
Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada tiga pilar: harga yang masuk akal, daya tahan baterai yang mumpuni, dan kemudahan penggunaan yang terbukti. Pertarungan untuk merebut takhta di angkasa barusajadimulai.
(dan)
Lihat Juga :