AI Mulai Memicu Kontroversi dalam Bidang Akademis

Kamis, 10 Juli 2025 - 07:00 WIB
loading...
AI Mulai Memicu Kontroversi...
AI Mulai Memicu Kontroversi. FOTO/ DAILY
A A A
JAKARTA - Sebuah studi skala besa r mengungkapkan bahwa lebih dari dua juta makalah akademis yang diterbitkan pada tahun 2024 ditulis dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), yang menimbulkan pertanyaan besar tentang keaslian hasil penelitian global.

BACA JUGA - Peran Kecerdasan Buatan dalam Transformasi Digital

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances ini dilakukan oleh tim peneliti dari Amerika Serikat (AS) dan Jerman yang menganalisis lebih dari 15 juta abstrak studi dalam basis data medis PubMed.

Dengan menggunakan teknik analisis linguistik mendalam, mereka mendeteksi peningkatan signifikan dalam penggunaan kata-kata gaya tertentu seperti "pivotal", "showcasing", dan "grappling", yang umum digunakan oleh model bahasa besar (LLM) seperti ChatGPT dan Gemini.

Berdasarkan pola penggunaan kata ini, mereka memperkirakan bahwa setidaknya 13,5 persen artikel yang diterbitkan pada tahun 2024 menggunakan LLM dalam proses penulisan mereka, baik untuk memproses, meringkas, maupun menghasilkan konten lengkap.

Perubahan paling terlihat setelah peluncuran publik ChatGPT pada akhir tahun 2022.
Para peneliti melihat adanya pergeseran gaya penulisan dari bahasa teknis dan formal menjadi gaya yang lebih cair, berbunga-bunga, dan naratif.

Sebelum tahun 2024, mayoritas kata yang berulang dalam tulisan akademis terdiri dari kata benda (sekitar 79,2 persen).

Namun, pada tahun 2024, polanya berubah drastis, dengan 66 persen beralih ke kata kerja dan 14 persen ke kata sifat.

Hal ini mencerminkan dampak langsung AI terhadap gaya penulisan, yang kini semakin menyerupai struktur dan gaya penulisan yang dihasilkan oleh model LLM yang dilatih untuk memikat dan memperjelas informasi.

Namun, tren ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan akademisi, terutama terkait akurasi fakta, etika penulisan, dan risiko hilangnya identitas asli penulis.

Kekhawatiran lainnya adalah kemungkinan peneliti menyajikan hasil yang terlalu disederhanakan oleh AI, atau lebih buruk lagi, menghasilkan data palsu tanpa verifikasi manusia.

Menurut laporan tersebut, bidang studi seperti biomedis, psikologi, dan ilmu sosial mencatat persentase penggunaan LLM tertinggi, dibandingkan dengan bidang teknis seperti matematika dan fisika.

Negara-negara yang mencatat peningkatan paling tajam antara lain Tiongkok, India, dan Brasil, selain Amerika Serikat dan Jerman, yang menjadi fokus utama penelitian.

Tim peneliti juga mencatat bahwa banyak jurnal tidak memiliki pedoman yang jelas tentang penggunaan AI, sehingga menyisakan area abu-abu dalam hal etika dan tanggung jawab penulisan.

Sebagian besar penulis tidak mengungkapkan bahwa mereka menggunakan bantuan AI, dan beberapa bahkan menganggapnya sebagai 'alat pendukung' seperti pemeriksa tata bahasa atau perangkat lunak penerjemahan.

Namun, para ahli percaya bahwa penggunaan LLM lebih dari sekadar asisten teknis karena dapat membentuk kembali struktur kalimat, nada penyampaian, dan narasi keseluruhan tulisan.

Dalam jangka panjang, jika dibiarkan, penggunaan AI yang tidak transparan dapat merusak reputasi penulisan akademis dan menimbulkan pertanyaan tentang keaslian hasil penelitian ilmiah.

Beberapa institusi pendidikan tinggi di Eropa dan AS kini memperkenalkan kebijakan untuk menyatakan penggunaan AI dalam tugas dan tesis mahasiswa.

Namun, para pembuat kebijakan masih belum sepenuhnya sepakat tentang garis demarkasi yang tepat antara bantuan AI yang sah dan plagiarisme teknologi.

Studi ini memperingatkan bahwa dunia akademis perlu segera beradaptasi dengan realitas baru era AI, termasuk kebutuhan untuk mengembangkan sistem verifikasi konten dan etika penulisan yang lebih ketat.

Tanpa pedoman yang jelas dan pengawasan yang ketat, penulisan ilmiah mungkin tidak lagi mencerminkan pemikiran asli peneliti, tetapi malah menjadi produk algoritma yang licik tetapi tidak sepenuhnya akurat.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Facebook Luncurkan Mode...
Facebook Luncurkan Mode Pencarian AI, Begini Cara Pakainya
Komputer Kuantum Optik...
Komputer Kuantum Optik Bakal Jadi Kebutuhan Energi AI
Untuk Pertama Kalinya...
Untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah, Vaksin Buatan AI Diuji pada Manusia
Eropa Wajibkan Pelabelan...
Eropa Wajibkan Pelabelan Konten yang Dihasilkan AI
Kecerdasan Buatan Sedang...
Kecerdasan Buatan Sedang Mengubah Lanskap Keamanan Siber
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Masalah Hukum Penggunaan...
Masalah Hukum Penggunaan Artificial Intelligence
Penggunaan AI Melesat...
Penggunaan AI Melesat Sebabkan Harga Mobil Naik Signifikan
Rekomendasi
Kisah Inspiratif Nasabah...
Kisah Inspiratif Nasabah PNM Warnai Grand Final Pro Futsal League 2026
Disdik Depok Dukung...
Disdik Depok Dukung Penuh Liga Bintang Juara GTV, Jadi Wadah Prestasi Siswa SD
Purbaya Santai Tanggapi...
Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai Bangun Ekonomi
Berita Terkini
Ilmuwan Mengembangkan...
Ilmuwan Mengembangkan Jaket Penghasil Air dari Udara Sekitar
Gandeng PT Samafitro,...
Gandeng PT Samafitro, Hytera Perkuat Jaringan Komunikasi Profesional di Indonesia
Pergeseran domino dari...
Pergeseran domino dari Game HP Jadi Turnamen Pro Berhadiah Ratusan Juta
Aliansi Intelijen Keluarkan...
Aliansi Intelijen Keluarkan Peringatan Mendesak tentang Risiko yang Ditimbulkan AI
Review ASUS ExpertBook...
Review ASUS ExpertBook P3 P3405 dari Sisi Performa dan Desain
Apple Setuju Berkolaborasi...
Apple Setuju Berkolaborasi dengan Intel untuk Merancang dan Memproduksi Chip
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved