Banjir Pelatihan tapi Data Gelap: Komdigi Mengaku Tak Tahu Jumlah Pasti Talenta Digital Indonesia

Sabtu, 21 Juni 2025 - 08:13 WIB
loading...
Banjir Pelatihan tapi...
Komdigi akan memposisikan diri sebagai hub atau pusat penghubung utama untuk semua kegiatan pelatihan talenta digital di Indonesia. Foto: ist
A A A
JAKARTA - Di tengah perlombaan putus asa untuk mengejar target 12 juta talenta digital pada tahun 2030, sebuah pengakuan mengejutkan kini datang dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Ternyata, selama ini pemerintah tidak memiliki data yang pasti tentang berapa banyak sebenarnya talenta digital yang telah lahir dari berbagai program pelatihan yang menjamur di seluruh negeri.

Di saat raksasa teknologi global seperti Google, Microsoft, hingga Huawei berlomba-lomba "mendonorkan" pelatihan gratis, Komdigi, sebagai dirijen utama dari orkestra digital nasional ini, justru mengakui bahwa mereka belum memiliki sebuah buku catatan yang rapi.

Ini adalah sebuah ironi yang mengkhawatirkan: kita tahu persis berapa banyak "pasukan" yang kita butuhkan, tetapi kita tidak tahu berapa banyak "pasukan" yang sudah kita miliki.

Strategi 'Keroyokan' Tanpa Data Terpusat

Selama ini, untuk menutup jurang kebutuhan talenta yang masif, pemerintah memang menjalankan strategi "keroyokan". Mereka membuka pintu lebar-lebar bagi siapa saja yang ingin membantu, mulai dari perusahaan teknologi Amerika hingga raksasa China.

Namun, di balik strategi yang terlihat kolaboratif ini, tersimpan sebuah masalah fundamental. Pelatihan berjalan di mana-mana, sertifikat dikeluarkan oleh banyak pihak, tetapi tidak ada satu pun pusat data yang menghimpun semua informasi tersebut.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi, Bonifasius Wahyu Pudjianto, secara terbuka mengakui adanya "data gelap" ini dan membeberkan rencana mereka untuk akhirnya mulai membereskannya.

"Nanti kami akan adakan yang kami sebut data collecting-nya. Biasanya setiap bulan nanti mereka masukkan data. Tapi ini lagi proses, dalam waktu dekat mudah-mudahan kami akan mengundang perusahaan teknologi global," kata Boni di kantor Komdigi, Jumat (20/6/2025).

Pernyataan "tapi ini lagi proses" adalah sebuah pengakuan yang sangat jujur, sekaligus menohok. Ini berarti, selama bertahun-tahun program ini berjalan, kita seolah berperang dalam kegelapan.

Komdigi Siap Jadi 'Rumah' Baru Data

Menyadari adanya kekacauan data ini, Komdigi kini bersiap untuk mengambil peran baru yang sangat krusial. Mereka akan memposisikan diri sebagai "hub" atau pusat penghubung utama untuk semua kegiatan pelatihan talenta digital di Indonesia.

"Komdigi itu sebagai hub-nya untuk menerima berbagai bantuan terkait pelatihan-pelatihan digital, sehingga nanti kami distribusikan ataupun mereka juga silakan berhubungan langsung dengan kampus atau perusahaan pihak ketiga di Indonesia," ujar Boni.

Ini adalah sebuah langkah yang sangat penting, meskipun mungkin terasa sedikit terlambat. Dengan menjadi pusat data, pemerintah akhirnya bisa memetakan kekuatan dan kelemahan sumber daya manusia digital kita secara akurat, lalu menyalurkan para talenta yang telah tersertifikasi ini ke industri atau kampus yang membutuhkan.

Bom Waktu yang Terus Berdetak

Urgensi dari pembenahan data ini terasa semakin mendesak jika kita melihat angka. Pada tahun 2023 saja, Indonesia sudah kekurangan lebih dari 4,4 juta talenta digital. Dengan target baru sebesar 12 juta orang pada tahun 2030, setiap detik menjadi sangat berharga.

Pada akhirnya, rencana Komdigi untuk menjadi pusat data adalah sebuah kabar baik. Namun, ini juga menjadi pengingat yang keras. Di tengah ambisi besar untuk menjadi raksasa ekonomi digital, fondasi paling dasar—yaitu data yang akurat—justru baru akan dibangun sekarang. Pertanyaannya kini adalah, mampukah kita mengejar ketertinggalan dan membenahi "catatan" kita, sebelum bom waktu krisis talenta ini benar-benarmeledak?
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AI Impact Challenge,...
AI Impact Challenge, Microsoft, Komdigi, dan Dicoding Tampilkan Karya AI Terbaik Lulusan METC
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Facebook Luncurkan Mode...
Facebook Luncurkan Mode Pencarian AI, Begini Cara Pakainya
Komputer Kuantum Optik...
Komputer Kuantum Optik Bakal Jadi Kebutuhan Energi AI
Untuk Pertama Kalinya...
Untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah, Vaksin Buatan AI Diuji pada Manusia
Eropa Wajibkan Pelabelan...
Eropa Wajibkan Pelabelan Konten yang Dihasilkan AI
Masalah Hukum Penggunaan...
Masalah Hukum Penggunaan Artificial Intelligence
Gandeng CEO Kreta Digital,...
Gandeng CEO Kreta Digital, Dispora Kota Batam Gelar Pelatihan Digital Marketing
Slopaganda: Propaganda...
Slopaganda: Propaganda Massal di Era AI
Rekomendasi
Puasa Tasua 9 Muharram:...
Puasa Tasua 9 Muharram: Dalil, dan Bacaan Niat Lengkap
Refly Harun Sudah Siapkan...
Refly Harun Sudah Siapkan Surat Permohonan Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa
Malam Ini Roy Suryo...
Malam Ini Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya, Besok Dilimpahkan ke Jaksa
Berita Terkini
China Kenalkan Senjata...
China Kenalkan Senjata Laser Genggam Lijian untuk Jatuhkan Drone
AI Impact Challenge,...
AI Impact Challenge, Microsoft, Komdigi, dan Dicoding Tampilkan Karya AI Terbaik Lulusan METC
Kedaulatan Digital Jadi...
Kedaulatan Digital Jadi Sorotan, Solusi AI Terintegrasi Siap Percepat Transformasi Industri
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Intel dan Nvidia Memulai...
Intel dan Nvidia Memulai Pertempuran Global Baru
Game Paling Ditunggu...
Game Paling Ditunggu Sedunia GTA 6 Akhirnya bisa Dipesan, Harganya Rp1,4 Juta
Infografis
Perbandingan Jumlah...
Perbandingan Jumlah Muslim antara India, Pakistan, dan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved