Kenapa Tak Ada Perusahaan seperti Huawei di AS? Ini Penjelasan Bos Qualcomm
Selasa, 08 September 2020 - 04:44 WIB
loading...
A
A
A
Dengan menjual chipset terintegrasi yang dapat mendorong smartphone ke perusahaan, Qualcomm sebenarnya memudahkan pesaing baru China untuk masuk ke pasar. Karena mereka memiliki alat untuk mengembangkan produk dengan cepat. "Sayangnya, tidak ada seorang pun di Amerika Serikat yang benar-benar melakukan ini," sesalnya.
Faktor lain yang menyulitkan adalah Pemerintah China dan Eropa telah membantu perusahaan telekomunikasi mereka melalui kebijakan bantuan industri. Ini bertolak belakang dengan kebijakan AS. "Pemerintah kami tidak memberikan R&D atau dukungan lain yang diterima Huawei dan ZTE dari pemerintahnya (China)," kritiknya.
Jacobs juga membantah tuduhan biaya lisensi Qualcomm yang berlebihan. Dia mengatakan, meski Qualcomm telah menyediakan lebih banyak teknologi, biaya lisensi tetap stabil.
Qualcomm tidak hanya memonetisasi paten yang ada tetapi juga mengandalkan penelitian dan pengembangan berkelanjutan, seperti komitmen perusahaan terhadap standar 5G baru dalam dekade terakhir.
"Kecuali jika Anda terus berlari dengan putus asa, orang lain akan melampaui Anda. Kami memiliki terlalu banyak perusahaan yang belum berinvestasi dalam R&D, dan mengalami kesulitan operasional," tuturnya. (Baca juga: Gandeng Google, 3 Ribu Mahasiswa akan Dilatih Jadi Talent Digital )
Faktor lain yang menyulitkan adalah Pemerintah China dan Eropa telah membantu perusahaan telekomunikasi mereka melalui kebijakan bantuan industri. Ini bertolak belakang dengan kebijakan AS. "Pemerintah kami tidak memberikan R&D atau dukungan lain yang diterima Huawei dan ZTE dari pemerintahnya (China)," kritiknya.
Jacobs juga membantah tuduhan biaya lisensi Qualcomm yang berlebihan. Dia mengatakan, meski Qualcomm telah menyediakan lebih banyak teknologi, biaya lisensi tetap stabil.
Qualcomm tidak hanya memonetisasi paten yang ada tetapi juga mengandalkan penelitian dan pengembangan berkelanjutan, seperti komitmen perusahaan terhadap standar 5G baru dalam dekade terakhir.
"Kecuali jika Anda terus berlari dengan putus asa, orang lain akan melampaui Anda. Kami memiliki terlalu banyak perusahaan yang belum berinvestasi dalam R&D, dan mengalami kesulitan operasional," tuturnya. (Baca juga: Gandeng Google, 3 Ribu Mahasiswa akan Dilatih Jadi Talent Digital )
(iqb)
Lihat Juga :