Perdagangan Ilegal Gading Gajah: Kisah Kelam di Balik Kemewahan, Bisnis Besar Berdarah Dingin
Senin, 26 Mei 2025 - 14:28 WIB
loading...
A
A
A
1. Bisnis Besar Berdarah Dingin
Secara global, perdagangan gading gajah diperkirakan bernilai USD23 miliar (Rp368 triliun) per tahun. Dan mengingat gading dijual sekitar USD3.300 (sekitar Rp52,8 juta) per 0.5 kilogram, para pemburu liar memiliki motivasi yang sangat besar untuk terus membunuh gajah demi gadingnya. Jaringan kriminal terorganisir sepenuhnya terlibat dalam perdagangan gading ini.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah gading yang disita oleh penegak hukum terus meningkat. Beberapa ahli berteori bahwa pemburu liar melikuidasi stok mereka sebagai respons terhadap kontrol global, sementara yang lain percaya peningkatan jumlah gading yang disita mencerminkan peningkatan perburuan liar yang dapat menyebabkan kepunahan gajah.
2. Berbagai Faktor Memicu Perburuan Liar
Permintaan gading adalah kontributor terbesar perburuan liar, karena tanpa permintaan, gading tidak akan memiliki nilai. Namun, faktor lain juga berkontribusi, terutama kemiskinan dan korupsi di negara-negara tempat gajah hidup. Korupsi dan/atau kurangnya penegakan hukum yang memadai memungkinkan kejahatan terorganisir mendapatkan pijakan di beberapa negara dan memicu perdagangan gading.
Kemiskinan juga merupakan pendorong signifikan perburuan liar. Di tempat-tempat di mana peluang ekonomi yang sah langka, sebagian warga beralih ke perburuan liar untuk menghasilkan pendapatan dan menafkahi keluarga mereka.
Selain itu, konflik manusia-gajah dapat memicu perburuan liar. Ketika gajah stres dan terancam oleh pemburu liar, mereka mungkin menunjukkan agresi kepada warga yang kemudian membunuh gajah itu sendiri.
3. Metode Pembantaian yang Semakin Kejam
Perburuan liar telah mendorong pemburu liar menggunakan metode yang semakin brutal untuk menghindari deteksi. Meskipun senjata api masih digunakan oleh beberapa pemburu liar, suara tembakan dapat memberi tahu para jagawana tentang keberadaan mereka.
Sebagai gantinya, banyak pemburu liar beralih ke metode seperti panah dan tombak dengan ujung beracun, yang secara diam-diam namun perlahan membunuh gajah. Dan karena metode ini secara efektif melumpuhkan gajah, pemburu liar memotong gadingnya saat gajah itu masih hidup.
4. Evolusi Tragis: Gajah Lahir Tanpa Gading!
Sebagai respons terhadap perburuan liar, di beberapa daerah yang mengalami tingkat perburuan tinggi, gajah semakin banyak lahir tanpa gading. Ini terutama terlihat jelas di Mozambik, di mana perang menyebabkan 90% gajah di wilayah Taman Nasional Gorongosa dibunuh demi gadingnya.
Beberapa gajah betina membawa gen yang menyebabkan mereka lahir tanpa gading. Karena gajah tanpa gading lebih mungkin untuk bertahan hidup, gen-gen tersebut diturunkan pada tingkat yang lebih tinggi daripada sebelum perang. Hari ini, 50% gajah betina di wilayah ini lahir tanpa gading.
5. Pandemi COVID-19 Memicu Kenaikan Harga Gading!
Harga gading baru-baru ini mengalami kenaikan setelah sebelumnya menurun. Meskipun para peneliti masih mencoba menentukan alasan kenaikan tersebut, beberapa penelitian mengaitkan harga yang lebih tinggi dengan pandemi COVID-19. Faktor pendorong yang mungkin adalah dua hal.
Secara global, perdagangan gading gajah diperkirakan bernilai USD23 miliar (Rp368 triliun) per tahun. Dan mengingat gading dijual sekitar USD3.300 (sekitar Rp52,8 juta) per 0.5 kilogram, para pemburu liar memiliki motivasi yang sangat besar untuk terus membunuh gajah demi gadingnya. Jaringan kriminal terorganisir sepenuhnya terlibat dalam perdagangan gading ini.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah gading yang disita oleh penegak hukum terus meningkat. Beberapa ahli berteori bahwa pemburu liar melikuidasi stok mereka sebagai respons terhadap kontrol global, sementara yang lain percaya peningkatan jumlah gading yang disita mencerminkan peningkatan perburuan liar yang dapat menyebabkan kepunahan gajah.
2. Berbagai Faktor Memicu Perburuan Liar
Permintaan gading adalah kontributor terbesar perburuan liar, karena tanpa permintaan, gading tidak akan memiliki nilai. Namun, faktor lain juga berkontribusi, terutama kemiskinan dan korupsi di negara-negara tempat gajah hidup. Korupsi dan/atau kurangnya penegakan hukum yang memadai memungkinkan kejahatan terorganisir mendapatkan pijakan di beberapa negara dan memicu perdagangan gading.
Kemiskinan juga merupakan pendorong signifikan perburuan liar. Di tempat-tempat di mana peluang ekonomi yang sah langka, sebagian warga beralih ke perburuan liar untuk menghasilkan pendapatan dan menafkahi keluarga mereka.
Selain itu, konflik manusia-gajah dapat memicu perburuan liar. Ketika gajah stres dan terancam oleh pemburu liar, mereka mungkin menunjukkan agresi kepada warga yang kemudian membunuh gajah itu sendiri.
3. Metode Pembantaian yang Semakin Kejam
Perburuan liar telah mendorong pemburu liar menggunakan metode yang semakin brutal untuk menghindari deteksi. Meskipun senjata api masih digunakan oleh beberapa pemburu liar, suara tembakan dapat memberi tahu para jagawana tentang keberadaan mereka.
Sebagai gantinya, banyak pemburu liar beralih ke metode seperti panah dan tombak dengan ujung beracun, yang secara diam-diam namun perlahan membunuh gajah. Dan karena metode ini secara efektif melumpuhkan gajah, pemburu liar memotong gadingnya saat gajah itu masih hidup.
4. Evolusi Tragis: Gajah Lahir Tanpa Gading!
Sebagai respons terhadap perburuan liar, di beberapa daerah yang mengalami tingkat perburuan tinggi, gajah semakin banyak lahir tanpa gading. Ini terutama terlihat jelas di Mozambik, di mana perang menyebabkan 90% gajah di wilayah Taman Nasional Gorongosa dibunuh demi gadingnya.
Beberapa gajah betina membawa gen yang menyebabkan mereka lahir tanpa gading. Karena gajah tanpa gading lebih mungkin untuk bertahan hidup, gen-gen tersebut diturunkan pada tingkat yang lebih tinggi daripada sebelum perang. Hari ini, 50% gajah betina di wilayah ini lahir tanpa gading.
5. Pandemi COVID-19 Memicu Kenaikan Harga Gading!
Harga gading baru-baru ini mengalami kenaikan setelah sebelumnya menurun. Meskipun para peneliti masih mencoba menentukan alasan kenaikan tersebut, beberapa penelitian mengaitkan harga yang lebih tinggi dengan pandemi COVID-19. Faktor pendorong yang mungkin adalah dua hal.
Lihat Juga :