Kuil Matahari Terbit, Jejak Kuno Bangsa Kanaan di Israel
Jum'at, 22 Maret 2024 - 22:00 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Kudeta di Kerajaan Nabi Daud, Absalom Putra Sulung Terbunuh
Pemujaan terpusat di sekitar altar batu dan baskom untuk mengalirkan cairan dari persembahan, semuanya dilapisi plester. Di sebelah altar ada pilar, objek pemujaan umum di Levant kuno yang terbuat dari batu kapur halus dan memantulkan cahaya pagi. "Mengingat kecerahan permukaan ini, mudah untuk membayangkan sinar matahari pagi mewarnai ruangan ini dengan warna emas, oranye, dan merah muda yang cerah," tulis para arkeolog.
Orientasi ke timur diketahui dari tempat suci lain di Levant dan sangat mirip dengan kuil matahari Mesir yang didedikasikan untuk kelahiran kembali matahari setiap hari. Pada fase kedua yang terjadi akhir abad ke-13 atau awal abad ke-12 SM, kuil tersebut direnovasi secara besar-besaran. Beberapa ruang terbuka ditutup dengan dinding dan ruang samping, bangku dan lebih banyak batu berdiri untuk pemujaan ditambahkan.
“Di fondasi, para pembangun menempatkan tujuh obyek seperti lampu dan mangkok. Meskipun jumlah obyek ini tidak biasa, kebiasaan umum di Zaman Perunggu Akhir untuk menempatkan lampu dan mangkok kosong di fondasi bangunan baru,” kata Dr. Sabine Kleiman, salah satu arkeolog Universitas Tel Aviv dalam tim tersebut.
Bangsa Mesir kuno juga akan menempatkan objek persembahan di fondasi bangunan baru atau yang telah direnovasi untuk memohon perlindungan Tuhan. Meski para peneliti tidak tahu persis arti penting dari versi Kanaan dari ritual ini, namun mangkok melambangkan makanan dan lampu melambangkan cahaya.
Pemujaan terpusat di sekitar altar batu dan baskom untuk mengalirkan cairan dari persembahan, semuanya dilapisi plester. Di sebelah altar ada pilar, objek pemujaan umum di Levant kuno yang terbuat dari batu kapur halus dan memantulkan cahaya pagi. "Mengingat kecerahan permukaan ini, mudah untuk membayangkan sinar matahari pagi mewarnai ruangan ini dengan warna emas, oranye, dan merah muda yang cerah," tulis para arkeolog.
Orientasi ke timur diketahui dari tempat suci lain di Levant dan sangat mirip dengan kuil matahari Mesir yang didedikasikan untuk kelahiran kembali matahari setiap hari. Pada fase kedua yang terjadi akhir abad ke-13 atau awal abad ke-12 SM, kuil tersebut direnovasi secara besar-besaran. Beberapa ruang terbuka ditutup dengan dinding dan ruang samping, bangku dan lebih banyak batu berdiri untuk pemujaan ditambahkan.
“Di fondasi, para pembangun menempatkan tujuh obyek seperti lampu dan mangkok. Meskipun jumlah obyek ini tidak biasa, kebiasaan umum di Zaman Perunggu Akhir untuk menempatkan lampu dan mangkok kosong di fondasi bangunan baru,” kata Dr. Sabine Kleiman, salah satu arkeolog Universitas Tel Aviv dalam tim tersebut.
Bangsa Mesir kuno juga akan menempatkan objek persembahan di fondasi bangunan baru atau yang telah direnovasi untuk memohon perlindungan Tuhan. Meski para peneliti tidak tahu persis arti penting dari versi Kanaan dari ritual ini, namun mangkok melambangkan makanan dan lampu melambangkan cahaya.
Lihat Juga :