Laporan HID Ungkap Masa Depan Keamanan: Biometrik, Cloud, & AI

Kamis, 21 Maret 2024 - 21:17 WIB
loading...
Laporan HID Ungkap Masa Depan Keamanan: Biometrik, Cloud, & AI
Identitas digital menjadi tema penting terkait keamanan siber di 2024. Foto: ist
A A A
JAKARTA - Laporan Industri Keamanan dan Identitas 2024 (2024 State of Security Report) yang disusun oleh HID mengungkap ada 6 tren terkait keamanan yang harus dicermati di 2024.

Tren tersebut diambil dari 2.600 responden dari stakeholder bidang keamanan dan IT dari seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Prabhuraj Patil, Commercial Director, Physical Access Control Solutions, ASEAN & Subkontinen India HID, menyebut tren yang menonjol di Indonesia adalah Mobile IDs. Ini karena tingginya koneksi seluler dan penetrasi internet.

“Gaya hidup masyarakat Indonesia yang banyak menggunakan media digital dan pembayaran mendorong kebutuhan Mobile IDs,” beber Prabhu.

“Potensi pemanfaatan Mobile ID sebagai bagian dari solusi kontrol akses fisik relatif signifikan di Indonesia, namun perlu waktu bagi manajer keamanan untuk memahami bahwa sistem ini lebih aman dan nyaman dibandingkan dengan sistem kontrol akses yang ada saat ini,” tambahnya.

Selain Mobile ID, teknologi biometrik semakin banyak diterapkan di Indonesia. Teknologi ini semakin banyak digunakan di instansi-instansi untuk beragam kegunaan, mulai dari pengaplikasian sidik jari sebagai akses masuk gedung atau deteksi wajah untuk absensi kuliah.

Termasuk rencana Kominfo untuk menerapkan biometrik demi proses verifikasi SIM Card. Yang tak kalah penting, AI semakin menjamur di Indonesia
seiring bertumbuhnya perusahaan startup di bidang teknologi.

“Sehingga, per 2023, Indonesia pun termasuk dalam 3 besar negara yang mengakses aplikasi AI di dunia, setelah Amerika Serikat dan India,” ungkapnya.

Berikut tren keamanan yang harus dicermati di 2024 menurut HID:

1. Identitas digital

80% organisasi atau perusahaan akan menerapkan identitas digital. Para pelaku industri percaya bahwa 94% klien mereka segera menggunakan teknologi tersebut.

2. Otentikasi multifaktor

Lebih dari 83% responden end user menyebut organisasi mereka telah menggunakan otentikasi multifaktor (MFA). Ini karena rentannya sistem penggunaan kata sandi (password).

“Ini langkah awal dari Zero Trust, yaitu sistem keamanan yang standarnya menerapkan pemahaman untuk tidak percaya kepada siapapun,” ujar Prabhu.
Pendekatan Zero Trust ini telah diterapkan pada 16% organisasi yang memiliki lebih dari 100.000 karyawan dan 14% pada organisasi dengan jumlah karyawan 10.000.

Prabhu menyebut, dengan semakin meluasnya penggunaan MFA, maka masa penggunaan kata sandi diantisipasi akan semakin berkurang.

3. Keberlanjutan

Para responden survei HID menyebut bahwa keberlanjutan terus menempati peringkat teratas prioritas bisnis.

4. Biometrik
Laporan HID Ungkap Masa Depan Keamanan: Biometrik, Cloud, & AI

Di survei tahun ini, 39% installer dan integrator mengatakan pelanggan mereka menggunakan fingerprint (sidik jari) atau palm print (telapak tangan), dan 30% responden mengaku memanfaatkan facial recognition. 8% responden berencana untuk menguji atau menerapkan salah satu bentuk biometrik di 2024. Sedangkan 12% responden berencana melakukannya di 3-5 tahun ke depan.

5. Manajemen identitas dan cloud

Hampir separuh end user sedang beralih ke manajemen identitas berbasis cloud. 24% responden mengaku sudah menggunakannya dan 24% lainnya sedang berproses menuju sistem tersebut.

Adapun kendala yang dialami, antara lain ketergantungan di peralatan lama/on-prem (28%), kurangnya anggaran (24%), dan identitas berbasis cloud tidak menjadi prioritas kegiatan bisnis (21%).


6. Munculnya AI untuk penggunaan analitik

Percakapan mengenai AI telah mendominasi lanskap bisnis dan banyak profesionalbidangkemanan.
(dan)
Baca Berita Terkait Lainnya
Copyright ©2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
read/ rendering in 0.1861 seconds (0.1#10.140)