AI Akan Lebih Produktif Dibanding Manusia? Pendiri OpenAI Peringatkan Potensi Bahayanya
Sabtu, 24 Februari 2024 - 14:00 WIB
loading...
Pendiri Open AI Sam Altman mengingatkan bahaya AI jika tidak diregulasi. Foto: Reuters
A
A
A
JAKARTA - Pendiri dan bos OpenAI Sam Altman meyakini bahwa di masa depan akan lebih banyak konten yang dibuat oleh kecerdasan buatan (AI) daripada oleh manusia.
Sebelum hal ini terjadi, masyarakat perlu mempersiapkan diri menghadapi konsekuensi negatif dari ledakan AI, ungkap Altman. Altman memperkirakan potensi efek negatif AI bisa bersinggungan dengan politik. Salah satunya pemilihan umum di berbagai negara.
Terutama, ketika nantinya rekaman yang dihasilkan AI, atau deepfakes, bakal digunakan sebagai senjata di media sosial. Selain itu, risiko yang terkait dengan keamanan siber (cybersecurity) dan senjata biologis (bioweapons) juga harus diperhatikan lebih serius seiring perkembangan AI, Altman menegaskan.
Altman mengakui bahwa AI akan berdampak besar terhadap umat manusia. Terutama di bidang kesehatan. Dengan bantuan AI, penelitian ilmiah dapat dipercepat, penyakit disembuhkan, dan pendidikan ditingkatkan.
“Sulit membayangkan betapa lebih baiknya masa depan kelak dengan bantuan AI,” ungkapnya. Namun demikian, peran regulasi pemerintah diperlukan lebih dari sebelumnya untuk teknologi ini, terutama saat model AI masih relatif lemah.
Altman mengatakan perusahaan seperti OpenAI seharusnya tidak bisa diam-diam mengembangkan AI yang lebih pintar dari manusia dan kemudian tiba-tiba melepaskannya ke dunia.
Masyarakat dan institusi-institusinya harus diberi waktu untuk beradaptasi secara bertahap terhadap perkembangan tersebut. ChatGPT dari OpenAI, yang memulai fenomena seputar AI lebih dari setahun yang lalu, dilatih dengan sejumlah besar informasi dan dapat merumuskan teks pada tingkat linguistik manusia. ChatGPT mampu menulis kode perangkat lunak, hingga merangkum informasi.
Sebelum hal ini terjadi, masyarakat perlu mempersiapkan diri menghadapi konsekuensi negatif dari ledakan AI, ungkap Altman. Altman memperkirakan potensi efek negatif AI bisa bersinggungan dengan politik. Salah satunya pemilihan umum di berbagai negara.
Terutama, ketika nantinya rekaman yang dihasilkan AI, atau deepfakes, bakal digunakan sebagai senjata di media sosial. Selain itu, risiko yang terkait dengan keamanan siber (cybersecurity) dan senjata biologis (bioweapons) juga harus diperhatikan lebih serius seiring perkembangan AI, Altman menegaskan.
Altman mengakui bahwa AI akan berdampak besar terhadap umat manusia. Terutama di bidang kesehatan. Dengan bantuan AI, penelitian ilmiah dapat dipercepat, penyakit disembuhkan, dan pendidikan ditingkatkan.
“Sulit membayangkan betapa lebih baiknya masa depan kelak dengan bantuan AI,” ungkapnya. Namun demikian, peran regulasi pemerintah diperlukan lebih dari sebelumnya untuk teknologi ini, terutama saat model AI masih relatif lemah.
Altman mengatakan perusahaan seperti OpenAI seharusnya tidak bisa diam-diam mengembangkan AI yang lebih pintar dari manusia dan kemudian tiba-tiba melepaskannya ke dunia.
Masyarakat dan institusi-institusinya harus diberi waktu untuk beradaptasi secara bertahap terhadap perkembangan tersebut. ChatGPT dari OpenAI, yang memulai fenomena seputar AI lebih dari setahun yang lalu, dilatih dengan sejumlah besar informasi dan dapat merumuskan teks pada tingkat linguistik manusia. ChatGPT mampu menulis kode perangkat lunak, hingga merangkum informasi.
Lihat Juga :