10 Skandal Industri Teknologi yang Mengguncang Dunia

Selasa, 21 November 2023 - 22:00 WIB
loading...
10 Skandal Industri Teknologi yang Mengguncang Dunia
Facebook pernah diterpa skandal memanipulasi perasaan pengguna pada tahun 2014. (Foto: Gizmodo)
A A A
JAKARTA - Kemajuan teknologi tak hanya mendatangkan kemudahan bagi masyarakat. Banyak skandal besar industri teknologi yang telah terjadi sepanjang sejarah umat manusia.

Bentuk skandal itu berupa penipuan besar-besaran, upaya spionase, kegagalan produk andalan hingga upaya embargo dalam kompetisi memperebutkan pasar.

Berikut 10 skandal industri teknologi yang terungkap dikutip dari Slash Gear, Selasa (21/11/2023).

1. Kebakaran Baterai Samsung Galaxy Note 7


Musibah besar melanda perusahaan Samsung setelah beberapa pekan peluncuran Galaxy Note 7. Kesalaham desain baterai menyebabkan elektroda di dalamnya bengkok sehingga menyebabkan perangkat terbakar.

Bukan hanya satu kejadian, berita tentang perangkat yang tiba-tiba meledak muncul di mana-mana. Alhasil Samsung mengumumkan penarikan 2,5 juta unit yang telah terjual. Pelanggan diberi dua opsi, refund atau mendapat perangkat pengganti.

Namun, skandal itu tidak berakhir. Tidak lama kemudian, muncul laporan tentang ponsel pengganti yang juga terbakar. Salah satunya di penerbangan Southwest. Ponsel itu membakar sebagian karpet pesawat, menyebabkan penerbangan dibatalkan. Setelah laporan tambahan ini muncul, Samsung terpaksa menarik Galaxy Note 7 sepenuhnya dan memberikan pengembalian penuh kepada pelanggan dengan biaya besar baik untuk pendapatan maupun reputasinya.


2. Eksperimen Facebook


Pada tahun 2014, terungkap bahwa Facebook telah melakukan eksperimen pada penggunanya dua tahun sebelumnya untuk melihat bagaimana algoritmanya dapat memanipulasi perasaan pengguna.

Selama sepekan, sebagian kecil pengguna diperlihatkan konten dengan kata-kata yang sebagian besar positif atau sebagian besar negatif. Ide tersebut untuk menentukan apakah itu akan menyebabkan kontagion emosional, yaitu jika konten negatif akan membuat pengguna merasa sedih dan sebaliknya.

Jawabannya, kontagion emosional memang mungkin terjadi, dan hasil studi itu diterbitkan dalam jurnal ilmiah. Namun, ketika artikel itu diterbitkan, langsung menarik kecaman publik. Beberapa kritik berpusat pada fakta bahwa kebijakan data Facebook hanya diperbarui untuk mencakup penggunaan data untuk tujuan penelitian empat bulan setelah studi dilakukan, sementara beberapa berpendapat bahwa penerbitan studi itu menjadi masalah kunci.

Pada dasarnya, sebagian besar studi ilmiah yang ditinjau memerlukan partisipan manusia untuk secara eksplisit memberikan persetujuan untuk berpartisipasi dan ini tidak diminta dari partisipan studi Facebook.

Studi itu memicu kekhawatiran kembali tentang bagaimana data yang dikumpulkan oleh perusahaan teknologi besar digunakan, meskipun pada akhirnya, dampaknya hanya bersifat sementara. Platform media sosial terus melakukan analisis terhadap basis penggunanya untuk menjaga agar algoritmanya menarik, meskipun kebijakan data sekarang lebih mungkin secara eksplisit memperbolehkan eksperimen seperti yang dilakukan Facebook.

3. Embargo Amerika terhadap Huawei


Salah satu skandal terbesar yang masih berlanjut, yakni dugaan penggunaan keamanan ilegal oleh raksasa teknologi China, Huawei, yang menyebabkan smartphone dan infrastruktur jaringannya dilarang dijual di Amerika Serikat. Larangan ini pertama kali diberlakukan secara nasional pada 2020 hingga saat ini.

Permasalahannya berpusat pada persyaratan berbeda yang harus dipenuhi oleh perangkat Huawei agar sesuai dengan regulasi lokal. Di China, pemerintah berhak mengakses data dari pengguna individu kapan saja, termasuk data dari ponsel pintar. Hak seperti itu tidak ada di Amerika, dan keberadaan fasilitas semacam itu telah menimbulkan kekhawatiran tentang potensi pemerintah China mengumpulkan data dari warga Amerika.

Hal ini menyebabkan FCC memberlakukan pembatasan yang sangat ketat yang efektif memutuskan koneksi Huawei dari mitra teknologi dan konsumen Amerika. Masalah ini semakin rumit dengan hubungan dekat perusahaan ini dengan pejabat-pejabat China, terutama pendirinya yang diduga mendapatkan kontrak menguntungkan berkat hubungannya. Pejabat Amerika dan pejabat di negara lain seperti Swedia telah menyatakan keprihatinan bahwa serangan siber dapat dilakukan melalui ponsel dan infrastruktur Huawei. Saat ini, dampak dari larangan awal masih berlanjut, dan bukti yang dapat diverifikasi dari serangan apa pun belum dipublikasikan.


4. Perebutan Paten Samsung dan Apple


Samsung dan Apple secara berulang kali saling menuntut atas dugaan pelanggaran berbagai paten, terutama yang berkaitan dengan lini ponsel pintar dan tablet mereka. Gugatan diajukan tidak hanya di pengadilan AS tetapi juga di seluruh dunia, termasuk Inggris, Jepang, Jerman, dan berbagai wilayah lain. Hampir dalam setiap kasus, ketika satu pihak menang, pihak lain akan mengajukan banding, meskipun akhirnya Apple yang keluar sebagai pemenang.

Pada 2012, Samsung telah dinyatakan bersalah karena melanggar beberapa paten Apple, dan meskipun banding diajukan, perusahaan tersebut akhirnya terpaksa mengakui kesalahannya. Namun, perdebatan tentang ganti rugi yang seharusnya dibayar oleh Samsung terus berlanjut bertahun-tahun setelah kemenangan awal Apple, dan baru pada tahun 2018, angka final ditentukan. Awalnya, Apple telah diberi lebih dari 1 miliar dollar AS atau setara Rp 16 triliun oleh juri, tetapi setelah proses banding yang panjang, angka itu akhirnya dikurangi menjadi 539 juta dollar AS.

5. Rootkit CD Sony


Skandal rootkit Sony pada pertengahan tahun 2000an menjadi pelajaran tentang bagaimana cara yang tidak benar merespons krisis. Ketika peneliti keamanan Mark Russinovich pertama kali melaporkan bahwa Sony secara diam-diam mengeset rootkit pada PC, bos-bos perusahaan awalnya meremehkan klaim tersebut.

Seperti dilaporkan oleh The New York Times, seorang petinggi Sony dalam wawancaranya di radio mengatakan, "Kebanyakan orang, saya kira, bahkan tidak tahu apa itu rootkit, jadi mengapa mereka peduli tentang itu?"
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Baca Berita Terkait Lainnya
Copyright ©2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
read/ rendering in 0.2569 seconds (0.1#10.140)
pixels