Transformasi Erajaya Menghadirkan Gaya Hidup Digital
Sabtu, 30 September 2023 - 20:37 WIB
loading...
A
A
A
Dia mengatakan, seiring dengan berjalannya waktu, keberadaan channel toko fisik kemudian dijadikan alat branding yang terbukti efektif mengenalkan Erajaya kepada masyarakat Indonesia.
“Erajaya membuat network yang luar biasa. Sehingga orang beli handphone belinya di Erajaya,” sebut Yuswohady.
Menurut dia, manajemen Erajaya sejak awal sudah mengerti cara memperluas pasar melalui jaringan fisik. Bahwa kekuatan marketing itu ada di channel. Meskipun seiring berjalannya waktu, channel penjualan online booming, namun keberadaan gerai fisik tak tergerus.
“Sekarang meskipun online populer, jika tidak punya toko fisik akan kalah bersaing. Untuk membuat gerai fisik itu mahal, itulah kekuatan yang dimiliki Erajaya, dia sudah bangun berpuluh tahun. Erajaya kekuatannya ada di toko fisik. Kalo kita bicara online semua bisa, tapi yang sulit untuk ditandingi adalah toko fisik, itu susah ditandingi,” papar Yuswohady.
Dengan memiliki kompetensi di channel fisik, maka Erajaya memiliki keleluasaan untuk menentukan produk apa yang akan dijual.
“Jika memiliki kekuatan luar biasa di fisik channel maka tinggal isi saja produknya. Erajaya menguasai distribusinya semua kategori produk bisa didistribusikan,” imbuhnya.
Dia menilai, kepiawaian manajemen Erajaya dalam mengelola model bisnis dengan kekuatan di channel fisik akan menjadi benchmark di industri sejenis.
Sebab, meskipun gempuran channel online semakin masif, namun perusahaan ini tetap ekspansif.
“Ketika semua orang bicara go digital, setelah pandemi orang justru perlu kehadiran toko fisik. Kompetensi di channel fisik Erajaya juaranya, itu yang sulit disaingi dan tidak dimiliki kompetitornya,” katanya.
Menurut Yuswohadhi, proses distribusi dan penjualan barang termasuk produk teknologi saat ini banyak dilakukan melalui Omnichannel. Yakni mengkombinasikan gerai offline dan online. Namun demikian, agar Omichannel kuat, jaringan channel fisik atau offline-nya harus kuat.
“Jadi yang terjadi sekarang online makin ke fisik, offline masuk ke digital. Tetapi yang sudah kuat di fisik seperti Erajaya, ke digital lebih gampang, tapi kalau dari digital ke fisik itu yang lebih sulit,” ujarnya.
Hal itu lantaran selain membuka gerai fisik butuh biaya besar, pembukaan gerai fisik juga perlu melakukan riset pasar mendalam, termasuk menyesuaikan dengan profil konsumennya.
“Misalnya kita mau bikin jaringan distribusi dan penjualan di Sidoarjo atau di Gresik itu sudah beda. Ada culture, daya beli, customernya akan berbeda, instalasi gerai akan berbeda, itu akan berbeda antara Sidoarjo dan Gresik. Tetapi kalau online, mau daerah mana pun sama, tidak perlu customize gerai baik di negara lain, atau di kampung, karena channel digital lebih mudah. Tapi kalau distribusi fisik, di Singapura sama di Indonesia berbeda sekali. Singapura satu kota, toko cukup 20, selesai. Di Indonesia tidak bisa, ada laut, ada pulau, ada macam-macam, jadi kompleks. Erajaya sudah menaklukkan itu semua,” tutup Yuswohadhy.
Terus Memperluas Jaringan
Erajaya sendiri terus memperluas jaringan toko fisiknya di Tanah Air. Beberapa waktu lalu Erajaya meresmikan pembangunan distribution center yang akan menjadi ujung tombak dari strategi rantai pasok Erajaya Group di masa mendatang.
Pembangunan fasilitas modern tersebut penting untuk mengantisipasi pertumbuhan bisnis perusahaan dari empat vertical bisnis yang ada yakni Erajaya Digital, Erajaya Active Lifestyle, Erajaya Food & Nourishment dan Erajaya Beauty & Wellness.
Wakil Direktur Utama Erajaya Group, Hasan Aula dikutip dari keterangan resmi perseroan mengatakan, pembangunan sentra distribusi modern ini menjadi suatu kebutuhan untuk menunjang pertumbuhan bisnis Erajaya saat ini dan di masa mendatang.
“Erajaya membuat network yang luar biasa. Sehingga orang beli handphone belinya di Erajaya,” sebut Yuswohady.
Menurut dia, manajemen Erajaya sejak awal sudah mengerti cara memperluas pasar melalui jaringan fisik. Bahwa kekuatan marketing itu ada di channel. Meskipun seiring berjalannya waktu, channel penjualan online booming, namun keberadaan gerai fisik tak tergerus.
“Sekarang meskipun online populer, jika tidak punya toko fisik akan kalah bersaing. Untuk membuat gerai fisik itu mahal, itulah kekuatan yang dimiliki Erajaya, dia sudah bangun berpuluh tahun. Erajaya kekuatannya ada di toko fisik. Kalo kita bicara online semua bisa, tapi yang sulit untuk ditandingi adalah toko fisik, itu susah ditandingi,” papar Yuswohady.
Dengan memiliki kompetensi di channel fisik, maka Erajaya memiliki keleluasaan untuk menentukan produk apa yang akan dijual.
“Jika memiliki kekuatan luar biasa di fisik channel maka tinggal isi saja produknya. Erajaya menguasai distribusinya semua kategori produk bisa didistribusikan,” imbuhnya.
Dia menilai, kepiawaian manajemen Erajaya dalam mengelola model bisnis dengan kekuatan di channel fisik akan menjadi benchmark di industri sejenis.
Sebab, meskipun gempuran channel online semakin masif, namun perusahaan ini tetap ekspansif.
“Ketika semua orang bicara go digital, setelah pandemi orang justru perlu kehadiran toko fisik. Kompetensi di channel fisik Erajaya juaranya, itu yang sulit disaingi dan tidak dimiliki kompetitornya,” katanya.
Menurut Yuswohadhi, proses distribusi dan penjualan barang termasuk produk teknologi saat ini banyak dilakukan melalui Omnichannel. Yakni mengkombinasikan gerai offline dan online. Namun demikian, agar Omichannel kuat, jaringan channel fisik atau offline-nya harus kuat.
“Jadi yang terjadi sekarang online makin ke fisik, offline masuk ke digital. Tetapi yang sudah kuat di fisik seperti Erajaya, ke digital lebih gampang, tapi kalau dari digital ke fisik itu yang lebih sulit,” ujarnya.
Hal itu lantaran selain membuka gerai fisik butuh biaya besar, pembukaan gerai fisik juga perlu melakukan riset pasar mendalam, termasuk menyesuaikan dengan profil konsumennya.
“Misalnya kita mau bikin jaringan distribusi dan penjualan di Sidoarjo atau di Gresik itu sudah beda. Ada culture, daya beli, customernya akan berbeda, instalasi gerai akan berbeda, itu akan berbeda antara Sidoarjo dan Gresik. Tetapi kalau online, mau daerah mana pun sama, tidak perlu customize gerai baik di negara lain, atau di kampung, karena channel digital lebih mudah. Tapi kalau distribusi fisik, di Singapura sama di Indonesia berbeda sekali. Singapura satu kota, toko cukup 20, selesai. Di Indonesia tidak bisa, ada laut, ada pulau, ada macam-macam, jadi kompleks. Erajaya sudah menaklukkan itu semua,” tutup Yuswohadhy.
Terus Memperluas Jaringan
![Transformasi Erajaya Menghadirkan Gaya Hidup Digital]()
Erajaya sendiri terus memperluas jaringan toko fisiknya di Tanah Air. Beberapa waktu lalu Erajaya meresmikan pembangunan distribution center yang akan menjadi ujung tombak dari strategi rantai pasok Erajaya Group di masa mendatang.
Pembangunan fasilitas modern tersebut penting untuk mengantisipasi pertumbuhan bisnis perusahaan dari empat vertical bisnis yang ada yakni Erajaya Digital, Erajaya Active Lifestyle, Erajaya Food & Nourishment dan Erajaya Beauty & Wellness.
Wakil Direktur Utama Erajaya Group, Hasan Aula dikutip dari keterangan resmi perseroan mengatakan, pembangunan sentra distribusi modern ini menjadi suatu kebutuhan untuk menunjang pertumbuhan bisnis Erajaya saat ini dan di masa mendatang.
Lihat Juga :