Waspada Serangan Ransomware, Sepanjang Tahun 2022 Meningkat 43 Persen
Selasa, 16 Mei 2023 - 08:44 WIB
loading...
Serangan ransomware tercatat mengalami peningkatan yang cukup signifikan selama tahun 2022. Mayoritas sumber serangan ransomware dimulai dengan eksploitasi aplikasi akun pengguna dan email jahat. Foto/Standart
A
A
A
WASHINGTON - Serangan ransomware tercatat mengalami peningkatan yang cukup signifikan selama tahun 2022. Mayoritas sumber serangan ransomware dimulai dengan eksploitasi aplikasi akun pengguna dan email jahat.
Menurut Kaspersky Incident Response Analyst Report, hampir 43 persen serangan ransomware terdeteksi oleh pakar Kaspersky sepanjang tahun 2022. Biasanya serangan ransomware dimulai dengan eksploitasi aplikasi yang banyak digunakan publik.
Aplikasi tersebut yakni aplikasi yang bisa diakses oleh publik, seperti halnya aplikasi web, aplikasi seluler dan gateway VPN. Eksploitasi tersebut bisa berupa bug perangkat lunak, kesalahan sementara, maupun kesalahan konfigurasi.
Baca juga; 5 Tips Menghindari Serangan Virus Ransomware
Para penjahat siber mengeksploitasi kelemahan tersebut untuk mengakses jaringan. Laporan itu menemukan, bahwa serangan ransomware yang paling lama berjalan, dimulai dengan eksploitasi aplikasi publik.
Sementara itu, data akun pengguna yang disusupi dan mendapat email berbahaya, merupakan dua sumber utama serangan ransomware, yang masing-masing persentasenya 24 persen dan 12 persen. Berdasarkan laporan IT Security Economics, lebih dari 40 persen perusahaan menghadapi setidaknya satu serangan ransomware di tahun 2022.
Untuk UKM rata-rata menghabiskan dana USD 6.500 atau sekitar Rp96 juta untuk pemulihan data. Sedangkan untuk perusahaan besar, jumlahnya tebusan yang diminta oleh penjahat siber rata-rata USD 98.000 atau sekitar Rp1,4 miliar.
Menurut Kaspersky Incident Response Analyst Report, hampir 43 persen serangan ransomware terdeteksi oleh pakar Kaspersky sepanjang tahun 2022. Biasanya serangan ransomware dimulai dengan eksploitasi aplikasi yang banyak digunakan publik.
Aplikasi tersebut yakni aplikasi yang bisa diakses oleh publik, seperti halnya aplikasi web, aplikasi seluler dan gateway VPN. Eksploitasi tersebut bisa berupa bug perangkat lunak, kesalahan sementara, maupun kesalahan konfigurasi.
Baca juga; 5 Tips Menghindari Serangan Virus Ransomware
Para penjahat siber mengeksploitasi kelemahan tersebut untuk mengakses jaringan. Laporan itu menemukan, bahwa serangan ransomware yang paling lama berjalan, dimulai dengan eksploitasi aplikasi publik.
Sementara itu, data akun pengguna yang disusupi dan mendapat email berbahaya, merupakan dua sumber utama serangan ransomware, yang masing-masing persentasenya 24 persen dan 12 persen. Berdasarkan laporan IT Security Economics, lebih dari 40 persen perusahaan menghadapi setidaknya satu serangan ransomware di tahun 2022.
Untuk UKM rata-rata menghabiskan dana USD 6.500 atau sekitar Rp96 juta untuk pemulihan data. Sedangkan untuk perusahaan besar, jumlahnya tebusan yang diminta oleh penjahat siber rata-rata USD 98.000 atau sekitar Rp1,4 miliar.
Lihat Juga :