Benarkan COVID-19 Mengubah Struktural Otak Manusia? Begini Penjelasan Para Ahli
Selasa, 29 Maret 2022 - 10:45 WIB
“Tapi itu juga tidak mengejutkan, mengingat otak cenderung untuk berubah. Saya dapat menyebutkan beberapa hal yang mengubah otak, seperti mempelajari hal-hal baru, tidur dan menggunakan smartphone,” tulis Laura Sanders seorang Neuroscience dikutip SINDOnews dari laman sciencenews, Selasa (29/3/2022).
Pada dasarnya, peristiwa dalam hidup kita tercermin dalam ukuran, bentuk, dan perilaku otak yang terus berubah. Tumbuh dewasa adalah salah satu peristiwa yang mengubah otak Anda.
Baca juga; Ilmuwan AS Sebut Ukuran Otak Manusia Menyusut, Pertanda Apa?
Sebagai balita, memiliki koneksi sel saraf paling banyak di beberapa bagian otak. Koneksi yang berlebihan itu kemudian dipangkas dan disempurnakan.
Pada awal masa remaja, beberapa bagian otak menjadi sangat besar, berdasarkan volume. Setelah itu, bagian-bagian otak menjadi lebih kecil, sebuah tren yang berlanjut seiring bertambahnya usia. Perubahan berlanjut seiring bertambahnya usia.
"Otak itu dinamis. Lebih sedikit (bentuknya kecil) tidak berarti lebih buruk, tentu saja, dan lebih banyak tidak berarti lebih baik," kata ahli saraf Emily Jacobs dari University of California, Santa Barbara.
Pada dasarnya, peristiwa dalam hidup kita tercermin dalam ukuran, bentuk, dan perilaku otak yang terus berubah. Tumbuh dewasa adalah salah satu peristiwa yang mengubah otak Anda.
Baca juga; Ilmuwan AS Sebut Ukuran Otak Manusia Menyusut, Pertanda Apa?
Sebagai balita, memiliki koneksi sel saraf paling banyak di beberapa bagian otak. Koneksi yang berlebihan itu kemudian dipangkas dan disempurnakan.
Pada awal masa remaja, beberapa bagian otak menjadi sangat besar, berdasarkan volume. Setelah itu, bagian-bagian otak menjadi lebih kecil, sebuah tren yang berlanjut seiring bertambahnya usia. Perubahan berlanjut seiring bertambahnya usia.
"Otak itu dinamis. Lebih sedikit (bentuknya kecil) tidak berarti lebih buruk, tentu saja, dan lebih banyak tidak berarti lebih baik," kata ahli saraf Emily Jacobs dari University of California, Santa Barbara.
Lihat Juga :